Breaking News:

Opini

Pengendali Narkoba dari Dalam Penjara  

Seminggu yang lalu, seorang perempuan Aceh (Mur, 41 tahun) divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Idi karena terlibat dalam kasus narkoba jenis

Sulaiman Tripa, Dosen Fakultas Hukum Unsyiah 

Oleh Sulaiman Tripa, Dosen Fakultas Hukum Unsyiah

Seminggu yang lalu, seorang perempuan Aceh (Mur, 41 tahun) divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Idi karena terlibat dalam kasus narkoba jenis sabu. Ini menjadi kasus pertama seorang perempuan yang divonis mati di Aceh (Serambi, 5/7/2020). Vonis mati juga diberikan terhadap suaminya, FMN. Vonis hukum mati terhadap laki-laki yang terlibat sabu, sudah banyak diputuskan oleh pengadil (misalnya Serambi, 16/3/2020; 18/3/2020).

Bagi saya, ada hal menarik lain dari kasus ini, yakni bukan saja soal bagaimana peran perempuan ini dalam kasus narkoba, namun lebih dari itu, tentang bagaimana posisi terhukum yang bisa mengendalikan bisnis haram dari dalam penjara.

Posisi pengendali ini yang menurut saya lumayan menarik. Jika kita simak perjalanan kasusnya, hingga akhirnya Mur dianggap punya peran penting dalam bisnis narkoba, maka akan tampak ada yang tidak beres dalam penegakan hukum kita. Mur menjadi penghubung suaminya dengan jejaring mafia sabu. Suaminya, FMN sebenarnya tengah menjalani hukuman 18 tahun penjara di Lapas Kelas II A Pekan Baru. Divonis mati karena dianggap terbukti mengendalikan bisnis narkotika (Serambi, 4/7/2020).

Mur ikut mengatur skenario pengiriman. Karena peran inilah, dianggap hakim sebagai peran dominan sehingga diputuskan dengan vonis hukuman mati. Perjalanan kasus Mur, dimulai ketika ada tawaran penyelundupan sabu dari seseorang di Malaysia melalui seorang perantara (Fit). Saat mendapat tawaran itu, Mur menelpon suaminya FMN yang berada di Lapas. FMN kemudian berkomunikasi dengan Fit untuk memperjelas informasi. Mur kemudian menyerahkan pekerjaan pengiriman sabu kepada ES karena dia memiliki jalur untuk menyelundupkan narkoba dari Malaysia ke Sumatera (Serambi, 4/7/2020).

Saya tidak mampu mendalami bagaimana seorang yang sedang dihukum berat (18 tahun), berada dalam Lapas, namun seperti memiliki kemudahan dalam berkomunikasi. Inti putusan yang menjelaskan posisi pengendali sabu, bisa ditafsirkan bahwa komunikasi itu berlangsung intens. Tidak mungkin hanya dengan sekali dua komunikasi dalam menggarap bisnis haram ini. Lantas jika ada kemudahan komunikasi, apakah semua narapidana mendapatkan kemudahan yang sama?

Dalam konteks penegakan hukum, berhukum dengan menggunakan hukum harus menjadi catatan penting. Jika menelusuri berita, kejadian semacam ini beberapa kali terjadi. Orang tertentu memiliki alat komunikasi tersendiri. Setiap razia, ditemukan berbagai alat komunikasi. Sama seperti temuan sel mewah di dalam Lapas, alat komunikasi juga bukan sesuatu yang baru. Di sejumlah tempat, temuan itu sudah berulangkali terjadi, dengan modus dan tampilan yang sedikit berbeda. Harian Serambi Indonesia malah secara ekslusif pernah menurunkan reportase, dengan temuan tanaman ganja di dalamnya.

Keadaan ini mengharuskan ada perhatian ekstra yang harus diberikan oleh pengambil kebijakan. Hal yang sederhana, bagaimana seseorang menggunakan komunikasi bahkan bisa mengatur strategi bisnis haram dari dalam Lapas. Hal yang kompleks, sebagai pernah disiarkan koran ini, bagaimana pohon ganja bisa ditemukan dari dalam penjara? Bukankah saat ditemukan barang demikian, sesungguhnya setengah fungsi dari Lapas sudah tidak ada?

Saya membayangkan seperti jalan cerita dalam film-film India. Selalu ada oknum yang menjadi korban dan tiba-tiba ada yang muncul sebagai anak muda. Entah siapa pula yang akan menjadi anak mudanya.

Tulisan ini ingin memberi catatan penting dalam ruang penegakan hukum, bahwa ketika ada temuan miring dari Lapas, maka ini bukan saja memberi dampak negatif bagi penegakan hukum, melainkan juga memperbesar ruang terkuburnya equality before the law. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini diterjemahkan dengan "persamaan di hadapan hukum".

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved