Breaking News:

Jurnalisme Warga

Menikmati Keindahan Krueng Lamnyong

AKHIR-AKHIR ini, setiap sore hari saya mengunjungi Krueng Lamnyong, Banda Aceh, dan nongkrong di Kopi Rakyat Sipil atau sering

Menikmati Keindahan Krueng Lamnyong
IST
CAHYANI FITRI, Mahasiswi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh dan Siswa Sekolah Kita Menulis, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH CAHYANI FITRI, Mahasiswi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh dan Siswa Sekolah Kita Menulis, melaporkan dari Banda Aceh

AKHIR-AKHIR ini, setiap sore hari saya mengunjungi Krueng Lamnyong, Banda Aceh, dan nongkrong di Kopi Rakyat Sipil atau sering disingkat KRS Coffee. Di tempat asyik inilah awal dari reportase saya tentang Krueng Lamnyong yang menuntun saya untuk berbagi keindahannya kepada pembaca sekalian.

Keberadaan Krueng Lamnyong ini dapat disebut sebagai saksi bisu bertapa dahsyatnya gelombang tsunami yang melanda Aceh, khususnya Kota Banda Aceh, pada tahun 2004 lalu. Namun demikian, yang menonjol dari Krueng Lamnyong hari ini adalah aspek keindahannya, sehingga kesedihan akibat gelombang tsunami tak terbesit lagi di pikiran saya. Mungkin juga di benak muda-mudi atau kaum milenial pada umumnya yang kerap kongkow-kongkow di KRS Coffee.

Setiap harinya sebelum nongkrong di KRS Coffee, saya sering pergi ke Lampeuneurut untuk mengajak dua teman saya, Intan Mauliana dan Nurul Fitriabsa. Keduanya rekan satu kampus saya yang selalu setia baik dalam keadaan suka maupun duka. Pokoknya, mereka best friend -lah.

Dalam perjalanan menuju rumah teman ini, saya melewati beberapa lampu merah yang berada dekat dengan pos polisi yang terkadang membuat jantung berdetak kencang, bagaikan genderang isyarat perang atau seperti perasaan sepasang kekasih bertemu sang pujaan hati. Hal itu dikarenakan saya sering lupa membawa surat izin mengemudi (SIM) saat mengendarai sepeda motor.

Saat sampai di rumah kos teman saya yang serasa merupakan best camp  kami bersama, saya istirahat sejenak untuk menghilangkan penat di perjalanan sembari bercerita dan menunggu waktu sore untuk menikmati Krueng Lamnyong. Kemudian, kami bergerak ke Krueng Lamnyong melalui jalan Limpok. Jalan ini merupakan jalur terdekat menuju Krueng Lamnyong dari Lampeuneurut. Jalan ini juga sangat efektif untuk menghindari kita agar tidak terjebak razia kendaraan oleh polisi.

Meskipun perjalanan menuju Krueng Lamnyong lebih dekat ditempuh melalui jalan Limpok, tetapi dalam perjalanannya, menurut saya, ada kendala atau rintangan. Kendala tersebut di antaranya jalan yang berlubang-lubang dan banyaknya hewan ternak yang melewati jalan tersebut, ditambah lagi polusi akibat jalan yang berdebu.

Setelah melewati perjalanan yang bikin penat di bawah terik matahari, akhirnya kami sampai ke Krueng Lamnyong. Sesampainya di pinggir sungai ini kami langsung mengambil posisi yang sering kami tempati, yaitu di bagian depan pojok kanan KRS Coffee, menghadap langsung ke arah Krueng Lamnyong. Saat sudah berada di posisi ini, saya juga menghubungi teman lain untuk ikut nongkrong bersama kami menikmati indahnya Krueng Lamnyong menjelang senja.

Di sini kami tidak hanya menikmati keindahan Krueng Lamnyong dengan tatapan mata yang kosong, tetapi sambil berdiskusi terkait derap dan kendala pembangunan, serta karakter muda-mudi di negeri syariat ini.

Di kawasan Krueng Lamnyong ini banyak hal terlintas di pikiran saya dan teman-teman saat nongkrong menikmati keindahannya. Satu hal yang tidak bisa saya lupakan ketika berada di kawasan Krueng Lamnyong ini adalah pernyataan teman saya bahwa “Mengapa ketika ada orang yang lewat di jalan depan KRS Coffee atau di sekitar Krueng Lamnyong, mata mereka selalu tertuju pada kami?” Hehe ini tentu saja sekadar candaan bagi kami sebagai pemicu tawa. 

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved