Breaking News:

Opini

Refleksi Kepatuhan di Hari Raya Kurban  

Alhamdulillah, satu hari lagi sekitar satu miliar umat Muslim dunia akan merayakan hari Raya Idul Adha 1441 H, yang di dalamnya terdapat

Refleksi Kepatuhan di Hari Raya Kurban   
IST
Rizki Mustaqim, Mahasiswa Doktoral di Yarmouk University-Jordania Jurusan Hadits Syarif wa Ulumuh

Oleh Rizki Mustaqim, Mahasiswa Doktoral di Yarmouk University-Jordania Jurusan Hadits Syarif wa Ulumuh

Alhamdulillah, satu hari lagi sekitar satu miliar umat Muslim dunia akan merayakan hari Raya Idul Adha 1441 H, yang di dalamnya terdapat dua ibadah agung bagi umat Islam, yaitu puncak pelaksanaan ibadah haji yang ditandai dengan wuqufnya jamaah haji di Padang Arafah serta pensyariatan penyembelihan hewan hurban. Sebagaimana hari Raya Idul Fitri yang lalu, tentunya Raya Idul Adha tahun ini juga akan dirasakan berbeda oleh masyarakat Muslim dunia dari tahun-tahun sebelumnya. Perbedaaan itu disebabkan kondisi dunia yang sedang dilanda pandemi Covid 19.

Kita tidak tahu sampai kapan dunia akan diliputi rasa takut berkepanjangan yang telah mengubah semua tatanan kebiasaan normal menjadi abnormal seperti yang kita rasakan sekarang ini. Yang pasti kita sebagai umat Muslim dilarang berputus asa, justru harus senantiasa terus berusaha, bertawakkal serta berdoa kepada Allah agar musibah ini segera berlalu. Allah Swt berfirman: "Sungguh bersama kesulitan itu ada kemudahan". (QS: as-Syarhu ayat 6).

Imbas dari pandemi ini selain meluluh lantakkan perekonomian dunia, juga turut membatasi hubungan muamalah antarsesama manusia, bersosial bahkan beragama. Dan hal yang paling menyesakkan adalah terhambatnya umat Muslim dunia melaksanakan ibadah haji pada tahun ini. Berangkat dari fenomena dan realita di atas, umat Islam dituntut merefleksi serta memaknai kembali dinamika kehidupan religiusnya, tepatnya di tahun-tahun sulit ini ketika ibadah haji tidak dibuka untuk umum, tentunya salah satu syiar besar umat Islam tahun ini berkurang, kalau tidak dikatakan telah tiada.

Refleksi spritual tersebut dapat dilakukan dengan menyemarakkan kembali alternatif ibadah lainnya selain haji, yaitu ibadah kurban. Ibadah yang jauh selama ini dianggap sebagai ibadah enteng, ibadah sunnah dan hanya bagi yang mampu saja. Jauh dari anggapan tersebut padahal ibadah kurban mengandung nilai-nilai keagungan serta sarat akan dimensi kepatuhan yang menjadi prasyarat seorang hamba mencapai derajat takwa.

Syariat kurban diperintahkan kepada umat Muslim untuk mengenang dan memperingati ujian Allah kepada Nabi Ibrahim dan kepada putranya Ismail. Tujuannya adalah menghidupkan syiar dan ajaran Islam berupa kepatuhan dan pengorbanan agung dua orang Nabi Allah. Selain itu, ibadah kurban juga bertujan mengikat tali kasih, menyapa kaum kerabat, fakir miskin, dan anak yatim. Berangkat dari dua tujuan besar tersebut, tidak sedikit ulama yang mewajibkan ibadah kurban ini, dimana sebagian besar lainnya hanya menghukumi sebatas pada sunnah muakkadah (sunnah yang dikuatkan).

Dan untuk mewujudkan dua tujuan besar di atas,  tata cara ibadah kurban pun diatur dalam berbagai literature fikih, baik yang bersumber dari Alquran maupun hadits Nabi. Di antaranya, penyembelihan hewan kurban dimulai saat selesai menunaikan shalat Idul Adha, yaitu pada 10 Dzulhijjah dan diakhiri sampai tiga hari tasyriq yaitu 11,12, dan 13 Dzulhijjah. Dinamakan hari tasyriq karena hari dimana kaum muslimin menjemur daging kurban untuk disantap dan dimakan bersama-sama. Rasulullah SAW bersabda "Hari-hari tasyriq adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan dan minuman" (HR: Muslim).

Di antara aturan lainnya adalah daging kurban selain disedekahkan kepada fakir miskin dan karib kerabat, juga dapat dinikmati sebagiannya oleh shahibul kurban atau tidak lebih sepertiganya, dan paling utama adalah dinikmati dalam jumlah sedikit saja untuk mendapatkan keberkahan kurban dan sisanya diberikan kepada yang membutuhkan. Berbeda halnya dengan kurban yang diniatkan untuk nazar, maka tidak dapat diambil manfaatnya sedikit pun, melainnkan sepenuhnya disedekahkan kepada yang membutuhkan.

Poin berikutnya yang telah diatur dalam fikih tentang tata cara berkurban adalah menyembelih hewan kurban di tempat domisili shahibul kurban. Karena dengan hal tersebut lebih memudahkan dalam menjalankan sunnah-sunnah kurban. Seperti menyembelih hewan kurban sendiri, menghadiri penyembelihan, memakan sedikit dari daging kurban tersebut. Dan tentunya tujuan utama dari ibadah kurban itu adalah dapat dicapai, yaitu menyambung silaturahmi serta mengeratkan kembali rasa persaudaran antarsesama Muslim.

Kembali kepada tema tulisan ini, yaitu merefleksikan kembali hari raya kurban, dalam sejarah pensyariatan kurban mengandung nilai-nilai kepatuhan sebagai wujud dari usaha seorang hamba menuju derajat takwa. Dalam surah ash-shaffat ayat 102 dan ayat 107 kita akan mendapati sebuah model pengorbanan, kepatuhan dan kesabaran yang agung dari dua orang hamba Allah. Bagaimana tidak, kepatuhan dan pengorbanan apalagi yang lebih besar daripada pengorbanan menyembelih anak sendiri.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved