Breaking News:

Opini

Corona Itu Masih Mengintai Kita

unia saat ini sedang berjuang keras melawan virus Corona yang telah menginsfeksi 13,7 juta orang

Corona Itu Masih  Mengintai Kita
IST
Dr. H. Agustin Hanafi, Lc., MA Ketua Prodi Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Anggota IKAT-Aceh

Dr. Agustin Hanafi, MA

Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Anggota Ikat-Aceh

Dunia saat ini sedang berjuang keras melawan virus Corona yang telah menginsfeksi 13,7 juta orang. Indonesia termasuk negara yang lonjakannya luar biasa bahkan melampaui Cina, sumber awal penyebaran virus Corona. Aceh salah satu provinsi yang serangan Coronanya sangat tajam, terus bertambah setiap hari dan sejauh ini (Senin/20/7/2020) telah menginfeksi 148 orang, 9 di antaranya meninggal dunia.

Hingga detik ini belum ada tanda-tanda wabah Corona akan segera berakhir, malah semakin mengkhawatirkan. Anehnya, sebagian saudara kita bersikap cuek dan masa bodo sehingga enggan mematuhi protokol kesehatan, menggunakan masker, mencuci tangan, social distancing karena menilai itu semua bagian dari konspirasi global yang akan meraup keuntungan tertentu bagi segelintir orang.

                                                                                                                                      Mengintai kita

Terlepas dari anggapan bahwa virus Corona bagian dari skenario global, yang jelas virus itu benar-benar nyata ada di depan mata kita. Bukan hoaks, virus itu sangat mematikan dan siap memangsa siapa saja tanpa memandang usia dan jenis kelamin. Untuk itu, yang dibutuhkan saat ini adalah kesadaran semua pihak, dari diri sendiri dan keluarga untuk meningkatkan kedisiplinan terhadap protokol kesehatan, kemudian menghindari perjalanan ke kawasan zona merah.

Disiplin melakukan isolasi mandiri, proaktif melapor kepada kepala desa tentang riwayat perjalanan kita. Kemudian yang tak kalah pentingnya jika ada keluarga kita yang mengalami gejala yang mengkhawatirkan ataupun positif Covid-19, keluarga harus segera melakukan isolasi mandiri, melapor ke puskesmas terdekat agar cepat dijemput dan ditangani. Jangan justru, merasa badan masih fit lalu nongkrong di warung, atau berwara-wiri di tempat keramaian.

Jangan menganggap spele keberadaan Corona atau meyakini tidak akan terinfeksi dengan dalih bertawakal kepada Allah tanpa dibarengi dengan ikhtiar dan usaha yang maksimal, sehingga nekat melakukan sesuatu yang inprosedural seperti mengambil paksa jenazah keluarga yang positif Corona dari Rumah Sakit dengan alasan tidak percaya adanya Corona, lalu difardu kifayahkan sebagaimana jenazah yang tidak terpapar Corona.

Tindakan seperti ini bisa berakibat fatal karena virus Corona yang ada pada jenazah tetap masih hidup, dapat menular lewat cairan yang keluar dari lubang-lubang tubuh. Potensi menular bisa terjadi pada saat pemindahan, memandikan, membawa dan menurunkan jenazah ke liang lahat. Maka tidak heran jauh sebelumnya, Majelis Permusyawaratan Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa Nomor: 14 Tahun 2020 yang menyatakan bahwa "pengurusan jenazah (tajhiz al-jana`iz) yang terpapar Covid-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat.

Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar Covid-19". Kemudian, tausiah Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh No: 3, Tahun 2020, "Setiap pasien yang meninggal karena wabah penyakit (Covid-19) wajib dilaksanakan fardhu kifayah selama memungkinkan dan disesuaikan dengan petunjuk medis dan dikebumikan oleh pihak pemerintah. Pada poin ketujuh, keluarga pasien dan masyarakat agar mematuhi seluruh prosedur kesehatan yang telah ditetapkan".

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved