Breaking News:

Luar Negeri

Melontar Jumrah Jaga Jarak, Khutbah Jumat Diisi dengan Pujian ke Kerajaan dan Negara Muslim

Para jamaah haji yang berjumlah hanya 1.000 orang, paling sedikit dalam dunia modern ini telah melontar jumrah. Khatib shalat Jumat (21/7/2020)

AFP/Saudi Ministry of Media
Para jamaah harus menjaga jarak dan antre saat melontar jumrah dengan kerikil batu ke tiga tiang besar di Mina, Mekkah, Arab Saud, Jumat (31/7/2020). 

Penjual ternak, yang terbiasa melakukan bisnis mengatakan penjualan turun dan tidak mampu membeli banyak dari peternak.

"Situasinya benar-benar rumit oleh virus Corona, ini pasar yang sulit," kata Oumar Maiga, seorang pedagang ternak di Pantai Gading.

"Kita berada dalam situasi yang belum pernah kita lihat di tahun-tahun lain," katanya.

Jumlah jamaah haji juga telah secara drastis dipengaruhi oleh virus.

Tahun lalu, sekitar 2,5 juta jamaah ambil bagian, tetapi tahun ini 1.000 jamaah haji yang telah tinggal di Arab Saudi.

Di ibukota Irak, Baghdad, jalan-jalan sebagian besar kosong karena 10 hari lockdown oleh pihak berwenang untuk mencegah penyebaran virus.

Bahkan, shalat Ied di masjid dibatalkan.

"Kami berharap jam malam akan dicabut selama periode Idul Adha.""

"... Kami terkejut periode kuncian termasuk liburan Idul Adha dan banyak lagi," kata Marwan Madhat, seorang pemilik kafe Baghdad.

"Ini akan menyebabkan kerugian," tambahnya.

Kosovo dan Uni Emirat Arab juga telah menutup masjid untuk membatasi penyebaran virus.

Di Lebanon, jamaah di masjid-masjid di bawah penjagaan keamanan yang ketat.

Lebanon meenetapkan lockdown dari Kamis (30/7/2020) hingga 10 Agustus.

Para jamaah di Masjid Mohammad al-Amin di ibukota, Beirut, tumpah ke jalan untuk menjaga jarak sosial aturan.

Para pemimpin Muslim di Albania dan Kosovo menyerukan kepada orang-orang untuk berhati-hati untuk menghindari penularan virus, termasuk membatasi kunjungan keluarga.

Beberapa hari menjelang liburan, Alioune Ndong di Senegal mengatakan tidak tahu bagaimana dia mendapat uang untuk keluarganya.

Dia meminta pemerintah Senegal untuk membantu keluarga yang berjuang seperti dia.

"Codid-19 telah menghabiskan uang saya," kata Ndong, seorang penjahit yang berbasis di kota Mbour.(*)

Editor: M Nur Pakar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved