Breaking News:

Salam

Jangan Jadi Pembunuh di Masa Covid-19

TAMBAHAN kasus Covid-19 di Aceh kini memasuki fase sangat mengkhawatirkan. Dalam seminggu terakhir warga yang terkonfirmasi positif corona di provinsi

Foto: Mandala
Salah seorang warga Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah berinisial RN (64) dimakamkan secara protokol kesehatan Covid-19, Rabu (29/7/2020). 

TAMBAHAN kasus Covid-19 di Aceh kini memasuki fase sangat mengkhawatirkan. Dalam seminggu terakhir warga yang terkonfirmasi positif corona di provinsi paling barat Indonesia ini terus bertambah dalam jumlah signifikan. Sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia, pada hari Kamis (30/7/2020), dalam sehari bertambah 74 kasus Covid-19 di Aceh.

Sehari sebelumnya jangkitan virus corona di provinsi ini tercatat 45 kasus. Pada 15 Juli sebanyak 27  kasus, pada 28 Juli 22 kasus, dan sebelumnya 13 kasus dalam satu hari. Tapi, tambahan kasus Covid-19 di Aceh kemarin sungguh mengagetkan. Dalam sehari 103 orang terkonfirmasi positif. Ini kado pahit bagi masyarakat Aceh saat merayakan hari pertama Hari Raya Iduladha 1441 Hijriah. Dulu, pada tiga bulan pertama kasus Covid-19 muncul, Aceh memerlukan waktu 111 hari untuk 100 kasus pertama. Tapi untuk 100 kasus kedua, Aceh tak perlu menunggu lama, cukup 16 hari saja. Untuk 100 kasus ketiga terakumulasi kurang dari sepuluh hari saja, sehingga totalnya tercatat 312 orang dua hari lalu.

Namun, untuk 100 kasus keempat, Aceh hanya butuh waktu satu hari saja, yakni 103 kasus kemarin, sehingga totalnya kini 415 kasus.  Bagaimana dengan angka kesembuhan? Awalnya tingkat recovery kasus Covid di Aceh terbilang cepat. Hampir semua yang sakit sembuh satu atau dua pekan kemudian. Tapi sekarang, angka kesembuhan seolah berjalan lamban. Sudah hampir satu minggu, progresnya tetap bertahan di angka 94. Artinya, belum sampai 100 orang yang sembuh, sedangkan yang positif Covid-19 sudah di atas 400 orang.

Angka kematian akibat Covid-19 di Aceh yang justru meningkat. Pelan tapi pasti angkanya terus bertambah. Sebelumnya di bawah dua digit, kini sudah tembus dua digit, mencapai 12 kasus kematian. Apa arti angka-angka ini bagi kita? Pertama, kurva kasus Covid-19 di Aceh tak kunjung landai. Kedua, ‘new normal’ di Aceh bukanlah era kebiasaan adaptasi baru, melainkan ‘new danger’, suatu keadaan yang jauh lebih berbahaya dibandingkan kondisi sebelumnya.

Ketiga, kurva kasus yang terus menanjak itu menandakan masyarakat kita semakin tak mematuhi protokol kesehatan. Tengoklah di pasar-pasar, warung, kafe, bahkan di masjid semakin langka orang yang pakai masker. Kalaupun pakai masker, mayoritas warga memakainya dengan cara salah. Lebih sering ditaruh di bawa dagu daripada menutupi mulut dan hidung.

Di sisi lain, hampir enam bulan berkurung di rumah setiap hari, mulai banyak warga yang bosan. Apalagi berkerumun di ruang publik kini bagaikan tak terlarang. Acara akad nikah pun makin marak. Alhasil, anjuran jaga jarak tak lagi begitu dihiraukan, ruang publik kembali ramai, seolah tak ada lagi virus corona di antara kita.

Berita-berita tentang corona pun mulai ada yang benci dan alergi. Alasannya, bikin stres masyarakat.  Entah hasilriset mana yang dia rujuk. Ironisnya, yang berpendapat seperti itu justru orang terpelajar, bahkan seorang profesor dari sebuah perguruan tinggi.

Semua itu makin menggambarkan bahwa kepedulian publik di tingkat lokal (baca: Aceh) terhadap pandemi global ini semakin berkurang, bahkan mulai apatis alias cuek bebek. Nah, kondisi seperti inilah yang sangat kita khawatirkan karena sangat berbahaya. Semakin banyak warga yang cuek, bahkan sengaja meremehkan protokol kesehatan, pada saat itulah kasus corona semakin berbiak. Ingat, jumlah tenaga medis dan tempat tidur untuk pasien Covid-19 di Aceh sangat terbatas. Jangan sampai rumah sakit kita tutup karena membeludaknya kasus corona, seperti di RSUD Munyang Kute di Bener Meriah. Rumah Sakit Aceh Tamiang pun terancam tutup. Dokter, PPDS, dan perawat banyak yang bertumbangan dan belum sembuh dari Covid.

Mari kita patuhi semua protokol kesehatan sebagai bagian dari ikhtiar kita sebelum berdoa dan akhirnya tawakal. Terakhir, setiap kita di bumi syariat ini harus sadar akan bahaya nyata virus corona dan berupaya sekuat tenaga agar tidak menjadi pembunuh di masa pandemi ini. Kelalaian, keteledoran, apalagi kesengajaan Anda dapat menyebabkan orang lain tertular Covid-19. Andai dia tidak sembuh dan menemui ajal tersebab Covid, berarti Anda telah membunuhnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved