Breaking News:

Gas Elpiji Kembali Langka    

Selama sepekan terakhir, gas elpiji tabung 3 kg bersubsidi kembali langka di sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara, sehingga menyebabkan

FOTO KIRIMAN SAIFUL
Warga Keude Blang Mee Pulokat, Kecamatan Samudera, Aceh Utara mengantre gas elpiji tabung 3 kg bersubsidi di pangkalan, Sabtu (1/8). 

LHOKSUKON – Selama sepekan terakhir, gas elpiji tabung 3 kg bersubsidi kembali langka di sejumlah kecamatan dalam Kabupaten Aceh Utara, sehingga menyebabkan warga kesulitan mendapatkannya. Padahal, jelang meugang dan Lebaran Idul Adha 1441 hijriah penggunaan elpiji lebih banyak dibandingkan sebelumnya, karena aktivitas warga memasak meningkat.

Informasi yang diperoleh Serambi, kelangkaan elpiji tabung 3 kg sudah terjadi di pangkalan beberapa hari sebelum meugang. Memang, ketika mendapatkan pasokan gas dari agen pada siang hari, banyak terjadi antrean panjang seperti di Kecamatan Tanah Pasir. Karena, sebagian agen langsung menjualnya kepada masyarakat sesuai kuota yang diterima.

Namun, sebagian pangkalan mendapatkan pasokan gas pada malam hari. Diduga pangkalan yang mendapatkan pasokan malam hari, menjual sebagian kepada pedagang pengecer dengan harga lebih mahal dari harga beli masyarakat. Sehingga, ketika stok kosong di pangkalan warga harus membeli elpiji hingga harga Rp 40 ribu pertabung.

Pada Sabtu (1/8/2020), Serambi juga melakukan penelusuran ke sejumlah pangkalan di Kecamatan Tanah Luas, seperti di Desa Rayeuk Meunye dan Meunasah Ceubrek. Pemilik pangkalan mengaku stok elpiji tabung 3 kg, bright gas tabung 5.5 kg, dan 12 kg kosong. “Semua kosong,” ujar pemilik pangkalan di Tanah Luas.

Saiful (35) warga Tanah Pasir kepada Serambi, menyebutkan, dirinya menemukan satu pangkalan yang menjualnya secara terbuka di Tanah Pasir. Sedangkan di pangkalan lainnya stok elpiji sudah kosong. “Ada beberapa pangkalan saya datangi, tapi stoknya selalu kosong, meskipun baru mendapatkan pasokan,” lapor Saiful.

Nurhayati (45) ibu rumah tangga asal Kecamatan Matangkuli kepada Serambi, menyebutkan, dirinya membela gas elpiji dengan harga Rp 40 ribu. Itupun setelah lama mencarinya ke sejumlah pedagang pengecer, karena tak ada stok di pangkalan. “Tetangga saya sampai menangis, karena dimarahin pihak pangkalan karena disuruh beli enam tabung sekaligus. Sedangkan dia tak memiliki uang sebanyak itu,” katanya.

Munawar (25) warga Kecamatan Paya Bakong kepada Serambi, menyebutkan, masih ada pangkalan di kawasannya sampai sekarang menjual gas kepada pengecer dengan harga lebih mahal. “Kami tidak mempersoalkan kalau dijual Rp 20 ribu atau Rp 22 ribu, meskipun harga hetnya Rp 18 ribu, yang penting stoknya ada di pangkalan,” pungkas Munawar.

Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Rayon III Aceh, Suhendra Sembiring kepada Serambi, menyebutkan, jelang meugang dan Lebaran Idul Adha pertamina menambah kuota tabung gas 3 kg sebanyak 31.700 atau sekitar 10 persen untuk 374 pangkalan yang ada di Aceh Utara. Sedangkan alokasi normal tabung 3 kg untuk kawasan Aceh Utara sebanyak 316.000.

Begitu juga untuk Lhokseumawe jumlah penambahan sebanyak 11.800 tabung dari alokasi normal 119.300 tabung, sehingga jumlahnya menjadi 131.100 tabung dan distribusi sudah mulai dilakukan mulai 27 Juni 2020. “Pangkalan tidak dibenarkan menjual tabung elpiji kepada pengecer,” ujar Suhendra.

Disebutkan, pihaknya sudah menyampaikan kepada pangkalan melalui agen, untuk pembelian tabung elpiji misalnya membawa KTP atau kartu keluarga, karena untuk satu keluarga satu tabung. Namun, ada oknum yang membeli banyak kemudian menjual kepada pengecer. “Harapan kita ke depan adanya kerjasama dengan pemkab untuk menentukan siapa yang berhak membelinya,” pungkas Suhendra.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved