Breaking News:

Tradisi Idul Adha di Berbagai Negara, Mudik Besar-besaran Hingga Menghias Hewan Kurban

Di Turki, setelah shalat Idul Adha dilanjutkan dengan menyembelih hewan kurban. Uniknya, hewan kurban yang akan disembelih terlihat cantik

ANTARA/REUTERS/LIM HUEY TENG
Umat muslim memakai masker bersiap untuk menyembelih hewan kurban pada salah satu masjid di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (31/7/2020). 

Di Turki, setelah shalat Idul Adha dilanjutkan dengan menyembelih hewan kurban. Uniknya, hewan kurban yang akan disembelih terlihat cantik dengan hiasan berupa pita-pita yang berwarna dan cat henna.

Idul Adha atau yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban merupakan salah satu hari besar keagamaan bagi umat Islam. Di Indonesia, perayaan Idul Adha pada umumnya tidak semeriah Idul Fitri. Setiap menjelang Idul Fitri ada satu tradisi yang dikenal dengan mudik. Karena begitu ‘sakral’-nya mudik, sampai-sampai ada pemeo di kalangan masyarakat, tak ada Idul Fitri tanpa mudik. Ternyata, di sejumlah negara lain, Idul Adha tak kalah semaraknya, bahkan ada yang sama dengan Idul Fitri.

Di Bangladesh, misalnya, mudik secara besar-besaran bukan saat menjelang Idul Fitri, tapi menjelang Idul Adha. Kesemarakan mudik di Bangladesh tidak ubahnya dengan Indonesia. Bedanya, mudik atau pulang kampung di Bangladesh bukan menjelang Idul Fitri, tapi saat Idul Adha.

Di India, perayaan Idul Adha sama besar dan semaraknya dengan Idul Fitri. Kesemarakan itu paling terasa di Srinagar, ibu kota Kashmir dan Jammu. Beberapa hari menjelang Idul Adha, masyarakat menyesaki toko pakaian, makanan, kue, dan berbagai hadiah untuk keluarga dan teman. Tiga hari sebelum Idul Adha biasanya diadakan festival yang diikuti oleh banyak orang.

Festival ini biasanya bersamaan dengan waktu liburan. Semua orang merayakan festival yang dipenuhi dengan banyaknya pedagang makanan manis, roti khas dan daging. Festival Idul Adha juga menjadi daya tarik tersendiri bagi turis asing.

Libur hingga lima hari

Meski bukan negara Islam, namun perayaan Idul Adha oleh umat muslim Cina tak kalah meriah dengan negara lain. Setiap menjelang Idul Adha, umat Islam Cina libur empat hingga lima hari. Mereka akan menikmati libur beberapa hari itu untuk merayakan Idul Adha.

Di wilayah otonom Ningxia, misalnya, umat muslim yang etnik Hui menikmati libur empat hari. Sekolah-sekolah tutup, begitu juga kantor-kantor yang tidak terkait dengan kebutuhan mendesak seperti pangan.

Di Kashgar yang masuk wilayah otonom Xinjiang, yang mayoritas penduduknya etnik Uyghur, umat Islam menikmati hari libur selama lima hari. Mereka umumnya berkumpul bersama keluarga sampai shalat Idul Adha. Setelah shalat Idul Adha mereka menggelar seni tradisi antara lain menari dan bernyanyi bersama di pelataran masjid.

Tradisi perayaan Idul Adha selama empat hari berturut-turut juga dilakukan masyarakat Turki.

Di Turki, setelah shalat Idul Adha dilanjutkan dengan menyembelih hewan kurban. Uniknya, hewan kurban yang akan disembelih terlihat cantik dengan hiasan berupa pita-pita yang berwarna dan cat henna.

Daging hewan kurban biasanya diolah menjadi masakan daging bayram yang lezat. Hidangan ini disantap dengan roti khas Turki (borek), daun anggur dan kavurma. Sambil menikmati hidangan kurban, anak-anak akan berkunjung ke rumah orang yang lebih tua untuk bersilaturahmi sambil mencium tangan.

Di Uni Emirat Arab (UEA), perayaan Idul Adha dilakukan besar-besaran. Semua orang akan mengenakan pakaian baru yang mewah. Kaum ibu berhias diri dengan mengecat rambut, mengecat tangan dengan henna dan menggunakan wewangian. Anak-anak perempuan Arab didandani dengan cat tangan henna yang diukir cantik. Semua warga akan saling mengunjungi dari rumah ke rumah.

Sambil bersilaturahmi dan bercengkerama, tuan rumah akan menyediakan berbagai makanan lezat, hidangan daging, makanan manis, teh, kopi dan tidak ketinggalkan buah kurma. Suasana Idul Adha di UEA tak kalah dengan perayaan Idul Fitri. (*/dbs)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved