Breaking News:

Warga Mampu Stop Gunakan Gas Subsidi

Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswanamigas) Aceh, meminta sekaligus mengajak warga yang mampu

KAPOLRESTA Banda Aceh, AKBP Trisno Riyanto didampingi Kasat Reskrim AKP M Taufiq memperlihatkan tabung gas elpiji 3 kilogram yang disita dari pangkalan yang menjual gas bersubsidi di atas Harga Eceren Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah, di Mapolresta Banda Aceh, Selasa (20/3). 

* Terkait Dugaan Kelangkaan Elpiji di Aceh Utara

BANDA ACEH - Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswanamigas) Aceh,  meminta sekaligus mengajak warga yang mampu dari segi ekonomi dan finansial, untuk tidak menggunakan gas elpiji subsidi 3 kg.

Pasalnya gas melon bersubsidi tersebut jatah masyarakat miskin dan memang diperuntukkan bagi warga yang tingkat ekonominya rendah, sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Aceh Tahun 2019.

Namun, kondisi tersebut tidak mau dipahami oleh sebagian besar warga yang mampu, sehingga mereka yang berkecukupan dalam segi ekonomi sudah merampas hak-hak kaum papa, tanpa merasa bersalah.

"Fakta itu yang terjadi, dimana warga yang merasa mampu dari segi ekonomi merampas hak si miskin. Harusnya mereka malu menggunakan gas elpiji bersubsidi 3 kg. Karena, gas elpiji 3 kg itu peruntukkannya bagi mereka yang kurang mampu. Hal itu lah yang selama ini terjadi dan tidak pernah disadari," kata Bendahara Umum Hiswanamigas Aceh, Nahrawi Noerdin, kepada Serambi, Minggu (2/8/2020).

Penegasan tersebut diungkapkan Nahrawi Noerdin, menyikapi pemberitaan gas elpiji subsidi 3 kg sulit ditemukan di Aceh Utara, beberapa hari lalu menjelang Hari Raya Idul Adha 1441 H.

Ia pun menerangkan Hiswanamigas Aceh juga sudah mengampanyekan 'budaya malu' yang targetnya agar dipahami oleh masyarakat Aceh yang mampu untuk tidak menggunakan gas elpiji subsidi 3 kg. "Jangan rampas jatah saudara-saudara kita yang miskin dan sangat membutuhkan gas elpiji 3 kg tersebut. Karena mereka yang mampu ikut menikmati gas elpiji subsidi 3 kg itu, maka gas melon tersebut jadi sulit ditemukan di pasaran, bahkan pangkalan," ungkap Awi, sapaan akrab bagi Nahrawi Noerdin.

Ia pun kembali menerangkan bahwa tidak cukupnya gas elpiji menjelang Lebaran Idul Adha 1441 H di beberapa kabupaten kota di Aceh, seperti, Aceh Utara, Lhokseumawe dan Bireuen, karena banyak orang-orang yang tidak berhak masih menggunakan gas 3 kg.  Karena, di satu sisi kuota gas 3 kg tercukupi bagi masyarakat miskin di semua kabupaten/kota, justru kenyataannya dirampas oleh mereka yang mampu.

"Itu yang terjadi! Karena itu orang yang mampu itu sudah sepatutnya malu menggunakan gas elpiji 3 kg. Karena itu sama saja dengan merampas hak orang-orang miskin," tegas Awi.

Masih adanya orang-orang mampu yang tetap menggunakan gas elpiji 3 kg, hal itu sama saja mereka tidak punya hati dan rasa malu.

Jika urat malu sudah hilang, lanjut Bandahara Umum Hiswanamigas ini, maka rasa empati dan kepedulian terhadap kaum yang lemah sudah hilang. Tapi justru orang-orang mampu tersebut lebih mementingkan dirinya sendiri.

"Karena itu kami meminta sekaligus mengajak masyarakat yang mampu untuk menunjukkan jati dirinya sebagai masyarakat Aceh yang beriman dan masih punya rasa malu untuk tidak menggunakan yang bukan haknya," pungkas Awi.

Gunakan yang Tersedia di Pasaran

Bendahara Umum Hiswanamigas Aceh ini menjelaskan persoalan kelangkaan dan gas elpiji 3 kg tetap sulit ditemukan di pasaran, bahkan pangkalan sekalipun kalau orang yang mampu masih menggunakan gas subsidi untuk masyarakat miskin tersebut. "Kalau si mampu tetap menggunakan gas elpiji 3 kg, maka masalah kelangkaan atau tidak cukup gas bersubsidi tidak akan pernah terselesaikan," sebut Awi.

Harusnya sarannya, orang yang mampu tersebut menggunakan gas elpiji yang tersedia di pasar, yakni elpiji tabung 5,5 kg atau 12 kg. "Sementara Elpiji 3 kg hanya untuk keluarga miskin saja," tegasnya.(mir)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved