Breaking News:

Opini

Masyarakat Bersuka, Medis Berduka

Eskalasi kasus konfirmasi positif Covid-19 di Aceh terus mengalami peningkatan, saat transmisi lokal ditemukan, maka lonjakan

SERAMBINEWS/NASIR NURDIN
DR. Dr. Safrizal Rahman, M.Kes, SpOT, Ketua Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Aceh, Dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah 

Oleh DR. Dr. Safrizal Rahman, M.Kes, SpOT, Ketua Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Aceh, Dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah

Eskalasi kasus konfirmasi positif Covid-19 di Aceh terus mengalami peningkatan. Saat transmisi lokal ditemukan, maka lonjakan kasus nyaris tidak terhindari. Sebanyak 430 kasus dengan peningkatan tajam dalam waktu satu bulan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Penambahan kasus yang awalnya sangat lambat, yaitu kurang lebih 22  di tiga bulan, seakan menjadikan sebagian masyarakat bahkan sebagian pemimpin di Aceh merasa pandemi ini tidak akan meledak di "Bumi Serambi Mekah".

Perkiraan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) sendiri bahwa kasus real dimasyarakat bisa jadi 2 hingga 3 kali lebih banyak dari yang terkonfirmasi, artinya posisi kita bulan bulan ke depan akan bertambah berat dan sangat mengkhawatirkan karena banyak sekali orang yang membawa virus di dalam tubuhnya (carrier) berbaur di tengah masyarakat yang juga abai dengan protokol, bahkan menganggap Covid-19 ini tidak ada.

Sampai saat ini tercatat lebih dari 50 tenaga medis yang terkonfirmasi positif dan sedang menjalani isolasi mandiri, bahkan ada di antara mereka yang dalam kondisi sangat mengkhawatirkan di Ruang Respiratori Intensive Care Unit (RICU) dan harus memakai alat bantu nafas.

Banyaknya tenaga medis yang terkena Covid, bahkan menyebabkan beberapa layanan IGD hingga rumah sakit sempat ditutup beberapa saat untuk melakukan dekontaminasi dalam upaya pencegahan meluasnya penyebaran di fasilitas kesehatan ini. Beberapa dari tenaga medis yang positif adalah peserta didik spesialis yang sedang berjuang menjadi dokter ahli, mereka adalah garda depan pelayanan di Rumah Sakit pendidikan utama Dr Zainoel Abidin.

Mereka melakukan tugas pelayanan siang malam tanpa kenal lelah meninggalkan anak istri, bahkan tidak sedikit yang terpisah jauh dari keluarga. Rata-rata peserta didik spesialis (PPDS) ini sudah empat kali dilakukan swab, bahkan ada yang sudah delapan kali terkait dengan kontak erat yang selalu mereka dapatkan karena kenaikan kasus Covid di Rumah Sakit Dr Zainoel Abidin.

Seorang calon spesialis merupakan perantauan dari Maluku Utara yang kemudian terkonfirmasi positif dan harus diisolasi, yang lain PPDS asal Surabaya juga masuk ke pusat isolasi, padahal minggu depan istrinya akan melahirkan. Sementara puluhan perawat dan dokter setiap hari cemas menanti hasil swabnya yang keluar berbilang hari, harus tetap bekerja demi pelayanan pasien padahal berbahaya bila nanti hasilnya positif.

Kondis Aceh sangat mengkhawatirkan, meskipun saat ini angka kematian masih di bawah rata-rata nasional kisaran 3.5-4% (sebelumnya 6%), namun angka ini akan sangat fluktuatif naik turun setiap hari. Kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan yang dikhususkan untuk pesien Covid kurang dari 200 tempat tidur.

Banyak pasien positif saat ini harus melakukan isolasi mandiri, beberapa di antaranya malah gagal faham dengan konsep isolasi mandiri, sehingga masih terlihat beredar di tengah masyarakat meskipun sembunyi-sembunyi.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved