Breaking News:

Salam

Pelayan Kesehatan Makin Kewalahan  

Dua orang di Nagan Raya, satu di Aceh Selatan. Ini termasuk angka kematian pasien Corona yang mengejutkan, sebab belum pernah ada kematian

SERAMBINEWS/RISKI BINTANG
Tim Gugus Tugas Penanganan dan Percepatan Pencegahan Covid-19 kabupaten Aceh Jaya saat melakukan uji swab terhadap salah seorang petugas Puskesmas yang mendampingi RA pasien positif Corona dirujuk ke Banda Aceh, Sabtu (11/7/2020). 

Pertambahan jumlah pasien positif Corona di Aceh hari-hari terakhir ini masih sangat mencemaskan. Pada Minggu (2/8/2020), bertepatan dengan hari ketiga Idul Adha 1441 Hijriah, pertambahan pasien Covid‑19 mencapai 21 kasus. Sedangkan jumlah pasien yang meninggal mencapai tiga orang. Yakni, dua orang di Nagan Raya, satu di Aceh Selatan. Ini termasuk angka kematian pasien Corona yang mengejutkan, sebab belum pernah ada kematian pasien Corona sebanyak ini di Aceh dalam satu hari sejak Maret lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr Hanif di Banda Aceh, menjelaskan, berdasarkan tempat domisilinya, para pasien baru itu terbanyak bermukim di Aceh Tamiang, mencapai sepuluh kasus, Nagan Raya lima, dan Aceh Barat Daya tiga kasus. Selebihnya masing‑masing satu kasus di Bireuen, Aceh Selatan, dan Aceh Besar. Usianya bervariasi mulai sembilan tahun hingga 75 tahun.

Hanif juga menyatakan bahwa Minggu 2 Agustus 2020 merupakan hari paling berkabung dalam sejarah pandemi Covid‑19 di Aceh, karena jumlah pasien yang meninggal mencapai tiga orang, hal yang belum pernah terjadi di provinsi ini. Mereka yang meninggal itu adalah Tuk (75), pria asal Nagan Raya dan Par (62), perempuan dari kabupaten yang sama. Satu orang lagi adalah Haji AH (60), warga Aceh Selatan.

Menyusul kian merebaknya jumlah warga yang terjangkit virus Corona, sejak akhir Juli lalu para pelayan kesehatan terindikasi mulai kewalahan. Di Banda Aceh, ruang khusus perawatan pasien Covid-19 kepenuhan hingga harus menggunakan sebagian Asrama Haji untuk tempat perawatan pasien-pasien Corona.

Di Bener Meriah Bupati tepaksa menutup sementara rumah sakit daerah setempat karena diduga menjadi tempat penyebaran Covid-19. Demikian juga di Kabupaten Aceh Barat Daya, Bupati Akmal Ibrahim juga menutup rumah sakit daerahnya yang diduga menjadi kluster penyebaran Corona. Kabar terakhir, rumah sakit umum daerah Aceh Tamiang juga sedang dipertimbangkan penutupan sementara untuk disterilkan.

Ada dua hal yang menjadi masalah besar bagi kita semua dalam kondisi seperti sekarang ini. Pertama adalah soal tidak efektifnya langkah-langkah memutus mata rantai penyeberan Corona di Aceh karena banyak di antara kita yang tidak patuh pada protokol kesehatan. Antara lain, tidak disiplin menjaga jarak, malas menggunakan masker, suka keluar rumah, terutama ke tempat-tempat ramai tanpa peduli protokol kesehatan. Anjuran-anjuran pemerintah tentang upaya memutus mata rantai virus Corona masih cenderung tidak digubris. Lihat saja di jalan raya bagitu banyak orang lalu lalang tanpa menggunakan masker.

Kedua, meningkatnya warga yang terpapar Corona telah memaksa pemerintah menutup dua rumah sakit umum daerah. Sebelumnya kita tahu juga ada sekian banyak dokter dan perawat di Aceh yang sudah diisolir karena terinfeksi virus Corona dari pasien-pasien yang mereka tangani. Dengan demikian, dari segi fasilitas dan tenaga pelayanan kesehatan tentu sudah berkurang, terutama untuk pelayanan pasien-pasien noncorona yang jumlahnya tentu sangat banyak.

Kita juga sangat menyesalkan tentang berkembangnya kabar dalam masyarakat bahwa seolah-olah jangkitan Corona itu sebagai rekayasa untuk tujuan-tujuan tertentu. Dan, banyak warga yang menganggap isu benar hingga mereka tak peduli pada protokol kesehatan. Lebih menyakitkan lagi, mereka ikut-ikutan menyebarkan kabar bohong itu.

Karena itulah, Abu Mudi atau Tgk Haji Hasanoel Bashry (71) yang baru dinyatakan sembuh dari Covid-19 langsung membut kesaksian dalam bentuk video yang antara lain diunggah ke Youtube. Sebelumnya, pimpinan Dayah Mudi Masjid Raya Samalanga ini terkonfirmasi positif Corona dan dirawat sejak 22 Juli 2020 di RSUZA.

“Atas izin dari Allah SWT dan doa yang tulus yang tidak henti‑hentinya dari semua masyarakat, saya sudah dibolehkan pulang dari ruangan isolasi RICU RSUZA Banda Aceh dan melanjutkan masa isolasi mandiri hingga 2 minggu ke depan dengan protokol kesehatan yang ketat,” kata Abu Mudi dalam video 1 Agustus 2020.

Abu Mudi mengatakan, “Wabah Covid‑19 ini nyata adanya. Apa yang saya alami sejak hari pertama bukan sebuah rekayasa, gejala lemah pusing dan penurunan nafsu makan adalah salah satu gejala yang mengarah ke Covid‑19,” ujarnya.

Maka patuhilah protokol kesehatan dan jangan lagi mempercayai atau menyebarkan kabar bohong, sebab itu sama artinya dengan menyebarkan virus Corona!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved