Breaking News:

Opini

Corona, Skeptisme, dan Resikonya  

Selama ribuan tahun lalu dan hingga hari ini wabah atau penyakit menular masih saja menjadi musuh terburuk bagi kemanusiaan

FOR SERAMBINEWS.COM
Anita, SKM., M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar 

Oleh Anita, SKM., M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Besar

Selama ribuan tahun lalu dan hingga hari ini wabah atau penyakit menular masih saja menjadi musuh terburuk bagi kemanusiaan. Pada dekade 1330, wabah paling terkenal yang dinamai maut hitam (black death) meletup di suatu tempat di Asia Timur atau Tengah, ketika bakteri penumpang kutu Yersinia pestis mulai menginfeksi manusia yang digigit kutu yang ditulari oleh tikus dan kutu.

Wabah dengan cepat menyebar ke seluruh Asia, Eropa, dan Afrika Utara. Dan hanya dalam waktu kurang dari dua tahun, antara 75 juta sampai 200 juta orang meninggal dunia, dan populasi manusia terentaskan dari 3,7 juta jiwa menjadi 2,2 juta jiwa setelah serangan epidemi tersebut.

Bukan hanya itu saja, wabah-wabah yang lebih dahsyat juga tercatat dalam kepingan sejarah kontemporer. Pada 5 Maret 1520 seorang budak Afrika bernama Francisco de Egula tidak menyadari dalam tubuhnya membawa bom biologis bernama (smallpox) yang sewaktu-waktu bisa saja meledak. Virus itu mulai berbiak cepat dalam tubuhnya, akhrinya meletup keluar dari kulitnya dalam ruam ruam mengerikan dan mulai menularkan kepada orang di sekitarnya.

Imbasnya pada rentang tahun 1520 sebelum virus smallpox yang hari ini kita sebut sebagai cacar mampu membunuh 8 juta jiwa penduduk meksiko. Di balik dua virus di atas, kemanuisan harus masih berjuang melawan virus lainnya seperti halnya flu spanyol, dan virus MERS.

Pada abad ke-18 pejabat atau pemerintahan tidak berdaya menghentikan penyebaran virus-virus yang menggerogoti kemanusian saat itu, ditambah lagi pengetahuan dan teknologi tidak secanggih saat ini. Selain menyelenggarakan doa-doa dan memohon ampun kepada Tuhan mereka tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus, apalagi untuk menyembuhkan korbannya. Para dokter kehilangan esensi ilmiahnya, mereka menyarankan berdoa, memohon ampun, dan menyarankan cara-cara klenik yang secara hakikat tidak pernah padan dengan kaidah sains.

Pandemi Covid 19 bisa saja membawa kita kembali ke zaman-zaman sebelumya, dan sah-sah saja orang ingin melihat permasalahan Covid-19 ini melalui sudut pandang bagaimana. Dengan segala hal konspiratif terkait Corona banyak spekulasi yang terjadi, mulai dari virus buatan Cina, hegemoni pasar Amerika, program illuminati, dan bahkan sampai ke tahap proyek pemerintah.

Sebetulnya kalau pun ingin kita cermati lebih dalam, segala spekulasi terhadap virus ini adalah kecenderungan dari sikap skeptisme. Rasa ketidakpercayaan inilah yang membuat permasalahan Covid-19 ini menjadi artifisial di kalangan masyarakat dan menyebabkan meningkatnya kasus positif di daerah Aceh Besar.

Sikap skeptis seperti yang menganggap bahwa Corona itu tidak ada, sehingga menghilangkan rasa kehati-hatian masyarakat untuk tidak terjangkit virus tersebut, mulai dari tidak mematuhi instruksi pemerintah, protokol kesehatan, dan larangan berpergian keluar daerah. Ini semua akibat dari sikap abai dari kita sendiri.

Menurut data terbaru dari Gugus Covid-19 Aceh yang dikeluarkan tanggal 22 Juli 2020 seluruh kabupaten/kota yang ada di Provinsi Aceh di bagi menjadi empat kategori tingkat resiko, yaitu M = resiko tinggi, O = resiko sedang, K = resiko rendah, dan H = tidak terdampak.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved