Breaking News:

Salam

Penertiban PKL Harus Tegas dan Berkelanjutan    

Sejak awal pekan ini petugas Satpol PP Kota Banda Aceh menertibkan para pedagang kaki lima (PKL) musiman yang selama ini diberi

FOR SERAMBINEWS.COM
Petugas Satpol PP Kota Banda Aceh, menertibkan pedagang kaki lima yang berjualan di lokasi di kawasan Taman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Selasa (4/8/2020). 

Sejak awal pekan ini petugas Satpol PP Kota Banda Aceh menertibkan para pedagang kaki lima (PKL) musiman yang selama ini diberi kelonggaran berdagang di lokasi terlarang pada moment-moment tertentu seperti hari raya. Ketika momen tersebut berlalu, maka area publik yang dilarang untuk berdagang, harus segera dikosongkan guna mengembalikan wajah Kota Banda Aceh yang tertib, nyaman, dan indah.

Lima lokasi yang sudah ditertibkan adalah kawasan Jalan Teuku Umar, Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan Mohd Jam, Jalan Diponegoro, dan sekitaran Taman Masjid Raya. Kini kondisi kelima lokasi tersebut sudah kembali sedia kala, setelah para PKL ditertibkan. Namun, di Banda Aceh kawasan-kawasan  yang disumpeki pedagang kaki lima bukan hanya di lima lokasi tersebut. Akan tetapi banyak lagi kawasan yang kini bukan hanya menjadi sumpek serta mengungangi keindahan dan kebersihan kota, namun juga sangat mengganggu arus lintas. Sebab, rata-rata mereka yang berjualan mengunakan meja, kios mobil, dan gerobak, umumnya menggunakan badan jalan serta space parkir. Sehingga, banyak jalan di Banda Aceh kini menyempit gara-gara dipakai para pedagang di dua sisi, yakni kiri dan kanan jalan.

Bukan hanya itu, trotoar yang merupakan hak bagi pejalan khaki di perkotaan, selama ini juga dirampas oleh para pedagang. Mereka yang menggunakan trotoar dengan tanpa hak itu seolah merasa tidak bersalah. Apalagi, kenyataannya banyaknya pelanggaran yang tidak segera ditertibkan membuat orang terus melakukan pelanggaran dan semakin merasa tidak bersalah. “Kesalahan‑kesalahan yang terus menerus dilakukan itu telah menjadi pembenaran kesalahan. Jadi kalau orang (pengendara motor) berjalan di trotoar, dia tidak merasa salah,” tegas seorang pengamat perkotaan.

Fenomena membanjirnya pedagang kaki lima di kota-kota memang harus kita lihat dua sisi. Di satu sisi kita dan pemerintah tetap menginginkan kota ini bersih, tertib, dan nyaman. Artinya tak ada seorangpun yang boleh mengotori atau mengganggu ketertiban kota. Jika ada toleransi dari Wali Kota, misalnya boleh berjualan bagi pedagang kaki lima di tempat-tempat terlarang pada musim-musim tertentu, itu adalah kebijakan yang bersifat kemanusiaan.

Sisi kedua, kita harus melihat keberadan pedagang kaki lima terkait dengan pandemi Corona yang berdampak pada banyak sektor kehidupan. Bahkan pengaruh besar begitu terasa di lapisan masyarakat bawah seperti kepada para pedagang kaki lima. Ada pedagang khaki lima yang kehilangan pembeli karena masyarakat takut mengonsumsi makanan atau minuman yang dijual secara terbuka, misalnya, di tepi jalan. Lalu, pedagang lainnya yang biasa berjualan di sekitaran sekolahan benar-benar kehilangan lapak karena sekolah-sekolah tutup sejak lima bulan lalu.

Pemko harus berpikir dan bekerja ekstra karena tata ruang harus mempertimbangkan kepentingan berbagai entitas di tengah terbatasnya lahan. Sebab, setiap orang punya harapan dan kebutuhan yang mungkin saja berbeda dan saling berbenturan. Untuk itulah pemerintah perlu hadir, memberi pelayanan agar kesejahteraan masyarakat bisa dioptimalkan.

Sebaliknya, menegakkan peraturan seharusnya tegas dan tidak pandang bulu (berlaku umum). Oleh sebab itu, penertiban terhadap PKL harus tetap terus berjalan secara tegas dan berkelanjutan. Ketika muncul satu PKL di kawasan terlarang harus segera ditertibkan. Sebab, jika terlambat, maka PKL-PKL lain akan muncul karena mereka beranggapan kawasan itu tidak terlarang.

Dan, selama ini pendekatan yang dilakukan Pemkot dalam kaitan dengan penertiban pedagang kaki lima, gelandangan, pengemis, dan anak jalanan terkesan belum maksimal. Penertiban hanya dilakukan sesekali tanpa kelanjutan. Sehingga, para pedagang ikan, pedagang sayur, pedagang buah, dan pedagang-pedagang lainnya yang biasa cari nafkah di tempat terlarang semain berani “kucing-kucingan” dengan petugas Satpol PP. Itu terjadi bukan hanya di Banda Aceh, tapi juga di kota-kota lainnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved