Breaking News:

Opini

Spirit Demokrasi Profetik Nabi Ibrahim  

Nabi Ibrahim As adalah rasul yang bergelar khalilullah atau kekasih Allah. Selain gelar khalilullah, Ibrahim As juga termasuk ulul azmi

Spirit Demokrasi Profetik Nabi Ibrahim   
IST
A. Wahab Abdi, Dosen FKIP Unsyiah Darussalam, Banda Aceh

Oleh A. Wahab Abdi, Dosen FKIP Unsyiah Darussalam, Banda Aceh

Nabi Ibrahim As adalah rasul yang bergelar khalilullah atau kekasih Allah. Selain gelar khalilullah, Ibrahim As juga termasuk ulul azmi sebagaimana diberikan kepada Nuh As, Musa As, Isa As, dan Muhammad Saw (Al-Ahqaf; 35, dan Ash-Shura; 13). Karena itu gelar khalilullah kepada Ibrahim As termasuk gelar spesial.

Para ahli tarikh Islam dan ulama sepakat bahwa pemberian gelar khalilullah ini disebabkan kelebihan sifat Ibrahim As dibandingkan para nabi lain. Paling tidak ada tiga sifat utama Ibrahim As sehingga Allah Swt menyebut rasul ini kekasih-Nya. Ketiga sifat dimaksud adalah keyakinan Ibrahim yang sangat tinggi kepada Allah, gemar bersedekah, dan senantiasa mengutamakan perintah Allah walaupun amat sulit.

Keyakinan Ibrahim As terhadap ketentuan Allah Swt dijumpai dalam banyak kisah. Keputusan Ibrahim As meninggalkan keluarganya di padang tandus karena harus pergi berdakwah adalah satu di antaranya (Surah Ibrahim; 35). Ibrahim tak ragu sedikit pun terhadap keluarga yang ditinggalkan di kawasan gersang, termasuk meninggalkan putranya yang masih bayi. Kerelaan Ibrahim As menyerahkan domba gembalaannya kepada Jibril As yang menyamar sebagai orang miskin adalah juga menunjukkan sifat keyakinannya kepada Allah Swt.

Ibrahim As adalah rasul yang gemar bersedekah makanan. Nabi Ibrahim tidak pernah makan baik di waktu sore maupun pagi, kecuali bersama tamunya. Kadangkala Ibrahim As harus menempuh perjalanan sejauh beberapa mil hanya mencari orang yang akan makan bersamanya.

Karakter unggul Ibrahim As lain adalah selalu mengutamakan perintah Allah Swt. Sifat ini dapat dilihat saat mendapat perintah dari Allah Swt untuk mengorbankan putranya Ismail As lewat mimpi. Tatkala Ibrahim As kembali dari berdakwah dan melihat putranya sudah menjadi anak yang belia, tentu saja rasa gembira menyusup ke relung-relung jiwanya. Namun, dalam suasana batin seperti itu datang ujian lain. Allah Swt kembali menguji imannya dengan perintah menyembelih Ismail As (Ash-Shaffat; 99-109).

Perintah ini kemudian dilaksanakan Nabi Ibrahim dengan ikhlas. Ini merupakan refleksi jiwa totalitasnya kepada Allah Swt. Ritual ini kemudian menjadi salah satu tonggak sejarah lahirnya ibadah berkurban bagi umat Islam setiap Idul Adha (Al-Kautsar; 1-3).

Ujian berat

Ritual kurban yang disyariatkan kepada umat Islam setiap Idul Adha dilandasai atas praktik historis yang dilakoni seorang ayah terhadap anaknya. Nabi Ibrahim As yang saat itu memiliki otoritas sebagai kepala keluarga dan sekaligus pemegang mandataris sebagai utusan Allah Swt, diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail As. Perintah yang nyaris tak masuk akal.

Bagi Ibrahim As perintah ini merupakan ujian yang amat berat di antara ujian lainnya. Titah ini tidak seberat saat Ibrahim As harus menghancurkan berhala-berhala di mana ayahnya juga ada dalam lingkaran penyembah berhala itu.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved