Breaking News:

Kupi Beungoh

Mimpi Laut Bebas Plastik

Plastik yang dianggap sebagai kehadiran sangat vital di dunia kontemporer, kini dipandang sebagai bahan potensi kerusakan dan bahaya yang sangat besar

SERAMBINEWS.COM/Handover
Dr Muhammad Irham, Alumni Texas A & M University, USA. Dosen Fak Kelautan dan Perikanan (FKP), Unsyiah. 

Oleh Dr Muhammad Irham, S.Si, M.Si*)

SELAMA setengah abad terakhir, plastik telah menjadi bagian integral dari kehidupan kita sehari-hari.

Dari furnitur hingga tas belanjaan, dari bagian kendaraan hingga mainan, plastik adalah elemen tak terhindarkan dari kehidupan kita dalam berbagai bentuk.

Namun, dari yang dianggap sebagai kehadiran yang sangat vital di dunia kontemporer, plastik kini dipandang sebagai bahan potensi kerusakan dan bahaya yang sangat besar.

Setiap tahun 8 juta metrik ton (JMT) plastik memasuki lautan dunia dan terus terakumulasi dari tahun ke tahun.

Antara tahun 1960 dan 2000, produksi plastik dunia meningkat 25 kali lipat di mana produksi plastik global mencapai 311 JMT di tahun 2014, meningkat 670% sejak 1975.

Pakar dunia memperkirakan bahwa jumlah tersbut akan berlipat ganda selama 20 tahun ke depan.

Data menunjukkan sekitar 40% plastik saat ini diproduksi di Amerika Serikat, 45% dibuat di Eropa, dan 15% di Asia.

Kalau kita melihat lebih jauh ternyata industri plastik adalah konsumen besar minyak bumi.

Lebih dari 90% plastik yang dihasilkan berasal dari minyak bumi yang mewakili sekitar 6% dari konsumsi minyak global, nilai ini setara dengan konsumsi seluruh sektor penerbangan global.

Halaman
1234
Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved