Breaking News:

Jurnalisme Warga

Kekhawatiran dalam Misi Silaturahmi di Tengah Pandemi

PERAYAAN Iduladha, selain kegiatan kurban, ada juga kenduri anak yatim yang secara rutin dilaksanakan di beberapa daerah

Kekhawatiran dalam Misi Silaturahmi di Tengah Pandemi
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Takengon

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Takengon

PERAYAAN Iduladha, selain kegiatan kurban, ada juga kenduri anak yatim yang secara rutin dilaksanakan di beberapa daerah. Salah satunya di Gampong Paya Tumpi, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah.

Hasil pemekaran, desa ini telah menjadi tiga desa, yaitu Desa Paya Tumpi Baru sebagai gerbang atau pintu masuk menuju Kota Takengon, Paya Tumpi I, dan Paya Tumpi Induk. Pada masa pandemi Covid-19 ini ketiga desa tersebut saling bergandeng tangan untuk ikut serta dalam mengantisipasi penularan Covid-19.

Tujuan perjalanan kami kali ini adalah untuk menjalin tali silaturahmi dengan keluarga (kakak) di Desa Paya Tumpi Baru dan menginap di rumah reje (anak kakak). Niat ini sudah seinggu lalu saya sampaikan kepada Geuchiek atau Reje Paya Tumpi Baru melalui WA. Oleh karenanya, setelah pelaksanaan kurban di Matangglumpang Dua, saya dan keluarga kecil berangkat menuju Takengon. Kunjungan ini merupakan kunjungan kedua setelah bencana banjir bandang yang telah memorakporandakan desa tersebut beberapa bulan lalu.

Sepanjang perjalanan kami ditemani angin sepoi-sepoi di tengah panasnya cuaca. Sesekali kendaraan kami terhenti karena kondisi jalan yang nyaris menyerupai huruf S sehingga sulit jika berpapasan dengan mobil lainnya.

Saya merasakan suasana sedikit mencekam saat melewati beberapa pintu masuk ke desa di sisi jalan nasional menuju Takengon di Kabupaten Bener Merah. Soalnya, sepi dan banyak pintu masuk yang ditutup dengan kawat duri, maupun benda-benda lain untuk membatasi ke luar masuknya masyarakat sebagai bentuk antisipasi penyebaran virus corona.

Setelah menempuh  jarak ± 100 km dalam waktu 2,7 jam, kami akhirnya tiba di Desa Paya Tumpi Baru dan langsung disambut oleh Reje Bapak Idrus Saputra. Tak lama kemudian datang dua petugas Satuan Tugas Penanganan Covid-19 yang dilengkapi alat pelindung diri (APD) berupa face shield, masker, sarung tangan, dan antiseptik. Mereka mendata dengan meminta KTP kami, lalu mereka mengisi form yang telah tersedia. Di antaranya kolom nama, tempat, tanggal lahir, asal perjalanan, alasan melakukan perjalanan, dan siapa yang bertanggung jawab di tempat yang dituju. Kemudian, salah satu petugas mengukur suhu tubuh kami dengan thermogun  dan memberikan wejangan tentang penanganan Covid-19 secara mandiri. Kami bersyukur mendapat perlakuan yang baik.

Setelah proses pemeriksaan selesai, kami diperbolehkan berbaur dengan keluarga lainnya. Reje Paya Tumpi Baru mengatakan, karena desa yang dipimpinnya merupakan pintu masuk menuju Takengon, maka tak jauh dari kediamannya, ± 500 meter ada pos penjagaan dan pemeriksaan Covid-19, tepatnya di dekat lampu merah (traffic light). Posko ini siaga 24 jam.

Mengingat banyaknya jalan elak atau jalan pintas yang telah ditutup, maka harus ekstra penjagaannya.

Reje juga menceritakan bahwa angkutan umum dari Medan sering menurunkan penumpang  menjelang subuh di lokasi dekat jalur dua. Mereka tidak mengetahui bahwa di sana telah siaga petugas Satuan Tugas Penanganan Covid-19 desa, akhirnya para penumpang itu ditangkap dan digiring menuju pos covid, walaupun sebagiannya sempat melarikan diri dan terlibat aksi kejar-kejaran dengan petugas seperti adegan film.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved