Breaking News:

Salam

Perluas Cakupan 'Tracing' di Aceh  

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin mewartakan Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Bireuen pada hari Kamis (6/8/2020) turun

Dok Dinkes Bireuen
Tim medis melakukan pendataan keluarga Irwandi Yusuf di Kecamatan Peusangan, Bireuen, Kamis (6/8/2020). 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin mewartakan Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Bireuen pada hari Kamis (6/8/2020) turun ke Desa_ Sagoe dan Cot Rabo Tunong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen.

Tujuan tim ini turun untuk melakukan tracing keluarga Irwandi Yusuf, baik ibunya maupun mertuanya, dalam hal ini orang tua Darwati A Gani. Pasalnya, istri mantan gubernur Aceh ini 4 Agustus lalu terkonfirmasi positif Covid-19 bersama 14 orang lainnya di dalam rumahnya.

Kita sambut baik upaya tracing ini. Soalnya, tracing, tepatnya contact tracing atau penelusuran kontak memang harus dilakukan untuk mengendalikan laju penyebaran virus pertama teridentifikasi di Wuhan, Cina, pada Desember 2019 itu. Setelah itu, banyak orang yang kemudian harus dipantau dan dievaluasi saat diketahui pernah kontak dengan pasien positif Covid-19.

Identifikasi terhadap orang-orang yang melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19 inilah yang merupakan konsep contact tracing. Gagasan utama di balik konsep ini adalah mencegah penyebaran infeksi ke kerumunan besar atau komunitas melalui pemutusan rantai transmisi, terutama transmisi lokal.

Journal Healthcare Management Science pernah memublikasi bahwa pelacakan kontak adalah sarana utama untuk mengendalikan penyebaran penyakit menular seperti Covid-19, STDs, Ebola, dan tuberkulosis. Ini adalah konsep yang digunakan mendeteksi jumlah orang yang terinfeksi setelah melakukan kontak dekat dengan kasus positif penyakit.

Nah, contohnya adalah kasus Covid-19. Pandemi yang telah menginfeksi jutaan_ orang di seluruh dunia ini bersifat menular. Bahkan mayat korban Covid-19 pun sangat infeksius. Sebagaimana kita tahu penularan virus bisa melalui droplet (percikan partikel liur dari batuk, bersin atau saat berbicara), sehingga kontak dekat dengan orang yang terinfeksi virus memungkinkan penyebaran. Yang dekat dengan orang terinfeksi inilah yang berpotensi menyebarkan lagi virus saat berada di kerumunan.

Sebab, tak jarang di antara mereka tidak menyadari dirinya telah menjadi "carrier",_ membawa virus di tubuhnya. Oleh karena itu, sangatlah penting melakukan penelusuran kontak dan mengendalikan pergerakan orang yang sudah berpotensi tertular tadi.

Konsep pelacakan kontak dimaksudkan juga untuk memberikan respons cepat terhadap orang yang baru atau diduga terinfeksi dan mengawasi mereka dengan cermat. Langkah ini bagian dari pencegahan penyebaran virus lebih lanjut.

Karena urgensi inilah kita anggap sangat mendesak untuk memperluas cakupan tracing ke seluruh Aceh. Jangan sampai ada kesan bahwa petugas tracing hanya cepat bergerak ketika yang positif Covid-19 itu adalah orang-orang penting. Misalnya, keluarga mantan gubernur, keluarga ulama tertentu, atau pejabat lainnya.

Merujuk pada_ WHO, pelacakan kontak bisa dilakukan melalui tiga langkah. Pertama, melakukan identifikasi kontak._ Orang yang terinfeksi diminta untuk merunut kegiatannya sejak timbulnya gejala penyakit dan jumlah orang yang telah mereka kunjungi atau kontak. Misalnya, keluarga, teman, kerabat, kolega atau petugas kesehatan.

Kedua, mendaftar kontak. Dalam proses ini, siapa pun yang telah melakukan kontak langsung dengan pasien positif perlu didata. Individu yang terinfeksi juga diberikan informasi mengapa perlu melakukan karantina mandiri pada tahap awal ini.

Perlu juga diberitahukan bahwa karantinamandiri penting dilakukan untuk menghentikan penyebaran infeksi ke masyarakat. Tindak lanjut rutin dilakukan ke seluruh orang yang sudah didaftar. Pemantauan gejala pun harus dilakukan rutin dan berkala.

Mereka juga diminta melakukan karantina mandiri untuk pencegahan penyakit. Pada Covid-19, sekitar tujuh hingga 14 hari muncul gejala._ Pelacakan kontak ini boleh jadi sebuah jenis pekerjaan yang rumit, sebab harus merunut kembali kontak pasien positif dengan orang-orang lain.

Tapi serumit apa pun tracing ini tetap perlu dilakukan untuk memutus rantai penularan Covid yang lebih parah di Aceh. Semoga upaya tracing ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Aceh yang sudah merefocusing anggaran Rp 1,7 triliun untuk penanganan Covid-19 di Aceh. Bukan kecil uang senilai itu. Maka, harus efektif dan besar pula manfaatnya bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Aceh.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved