Breaking News:

Opini

Program Aviasi Aceh  

Menyambung opini saya sebelumnya, "Integrasi Pembangunan Kawasan di Aceh" (Serambi Indonesia, 6/2/2020), dan "Visi Global Pembangunan Aceh"

Program Aviasi Aceh   
IST
Nurchalis, SP, MSi, Ketua Ikatan Saudagar Muslim Aceh (ISMI) Aceh

Oleh Nurchalis, SP, MSi, Ketua Ikatan Saudagar Muslim Aceh (ISMI) Aceh

Menyambung opini saya sebelumnya, "Integrasi Pembangunan Kawasan di Aceh" (Serambi Indonesia, 6/2/2020), dan "Visi Global Pembangunan Aceh" (Serambi Indonesia, 18/6/2020), maka Aceh sangat membutuhkan instrumen berupa program aviasi untuk mendukung dan memperkuat substansi gagasan yang saya kemukakan dalam dua artikel tersebut, yaitu integrasi kawasan strategis dan orientasi global pembangunan Aceh.

Sebenarnya Irwandi Yusuf ketika masih menjabat Gubernur Aceh telah memulai program aviasi di Aceh beberapa tahun yang lalu tetapi karena kegagalan pembantunya di SKPA dalam memberi konteks dan justifikasi kebutuhan program, prorgram ini cenderung lebih dilihat sebagai "program pesawat" sehingga banyak timbul penentangan publik karena dianggap mubazir serta tidak menggambarkan kebutuhan rill Aceh saat ini. Padahal, dalam konteks ini pesawat hanyalah instrumen pendukung, bukan substansi programnya.

Jadi seperti pernah saya gambarkan sebelumnya, posisi Aceh sangat strategis dalam konteks geo-ekonomi-bahkan politik-global. Dengan posisi geografis berada di ujung paling barat Indonesia, Aceh adalah hot spot yang masuk dalam setidaknya lima skema kerjasama ekonomi dan jalur perdagangan regional dan internasional, yaitu IORA, Indo-Pasifik, IMT-GT, sebagai konektor hubungan bilateral Indonesia-India, plus berbatasan langsung dengan Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan tersibuk nomor dua di dunia, dan prospek rencana terusan Kra di Thailand yang dipastikan semakin memperkuat posisi politik dan ekonomi Aceh.

Dukung pariwisasta

Jika dilihat dalam konteks kepentingan politik dan ekonomi nasional-Indonesia, maka dengan posisi, peluang, dan momentum besar ini sangat berdasar kalau kita berkeyakinan bahwa tidak ada daerah lain yang paling strategis merepresentasikan kepentingan geo-politik dan geo-ekonomi Indonesia ke depan selain Aceh, atau dengan bahasa lain Aceh sesungguhnya adalah "lokomotif"-bukan sekadar gerbong-, "halaman depan" bagi kepentingan politik dan ekonomi Indonesia di masa-masa yang akan datang-sepertinya memang sudah takdir Aceh selalu sangat berarti bagi Indonesia sesuai konteks dan dinamika sejarahnya.

Semua skema ini otomatis menempatkan Aceh pada golden position with the golden opportunity and momentum. Untuk itu, ada dua langkah dan terobosan besar yang wajib kita dorong untuk memanfatkan super momentum ini, yakni pertama, meningkatkan aksesibilitas yang sebesar-besarnya agar Aceh lebih terbuka dan mudah diakses dunia luar hingga memungkinkan Aceh terlibat dalam kontak ekonomi secara lebih intensif dan massif baik di tingkat lokal, nasional, maupun global; dan kedua, merancang program strategis berorientasi jangka panjang yang paralel dengan langkah pertama.

Aceh terkoneksi dengan dunia melalui dua jalur, yakni laut dan udara. Via laut dapat kita kembangkan dalam skema industri bermuara pada perdagangan internasional yang berimplikasi pada kebutuhan pengembangan pelabuhan dan armada kapal ekspor-impor. Lalu via udara, sangat strategis dikembangkan dan ditingkatkan untuk mendukung program kepariwisataan sekaligus menjadi armada lalu lintas bagi koneksi antarkawasan industri strategis di Aceh.

Sebagaimana kita ketahui Aceh berada paling dekat dengan pintu gerbang masuknya wisatawan mancanegara ke Indonesia, yaitu Thailand (Bangkok, Pattaya, Phuket), Malaysia (Langkawi, Penang, Kuala Lumpur), dan Singapura. Karena itu sudah harus kita kembangkan penerbangan internasional langsung dari titik-titik masuk ini ke Aceh. Skenarionya Bandara Sultan Iskandar Muda yang memang sudah berstatus bandadra internasional perlu ditingkatkan sebagai pintu utama, sementara jika ada yang masuk melalui Bandara Kualanamu, itu adalah bonus.

Selanjutnya di tingkat penerbangkan domestik, Aceh dapat mengembangkan program aviasi dengan menggunakan armada kelas kecil hingga menengah melayani jalur penerbangan dari kedua bandara internasional SIM dan Kualanamu ke sepuluh bandara perintis menuju berbagai destinasi pariwisata di seluruh Aceh, seperti Sabang, Pulau Banyak, Simeulue, dan Dataran Tinggi Gayo, dan lain sebagainya. Insya Allah langkah ini akan melahirkan multiplyer effects, salah satunya yang pasti adalah menstimulasi tumbuhnya investasi sektor kepariwisataan dengan aneka ragam usaha pariwisata di Aceh, hingga pada akhirnya sektor kepariwisataan bisa menjadi penyumbang devisa dan daya ungkit utama ekonomi Aceh. 

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved