Breaking News:

Salam

Kurikulum Darurat Ringan, Tapi Wali Murid Kerepotan  

Kurikulum darurat secara resmi telah diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)

Dok Humas IAIN Langsa
Wakil Rektor II IAIN Langsa, Dr H Mohd Nasir MA, saat membuka FGD Telaah Kurikulum. 

Kurikulum darurat secara resmi telah diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pada kurikulum ini, banyak materi yang dipangkas. Bahkan lebih dari separuh.

”Jumlah cakupan yang dihilangkan atau digabung bahkan ada yang sampai 70 persen. Jadi jauh dari yang aslinya. Kurikulum darurat ini akan meringankan beban guru termasuk siswa.,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kemendikbud Totok Suprayitno.

Kurikulum darurat diterapkan dengan pemangkasan jumlah kompetensi dasar dan kompetensi inti tiap mata pelajaran. Materi yang wajib disampaikan pada proses belajar hanya yang penting dan esensial. Sehingga, akan meringankan beban mengajar dan belajar di tengah pandemi Covid‑19.

Meski begitu, kurikulum darurat ini tidak wajib digunakan semua guru. Apabila guru merasa sesuai, maka bisa menggunakan kurikulum normal atau modifikasi mandiri dari kurikulum normal. Kemendikbud tidak akan memberi restriksi (pembatasan pelaksanaan) ketat kepada guru. Sebab, dalam proses belajar guru harus diberikan kreativitas. Sehingga, tidak kaku. ”Ketika RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran, red) diseragamkan jadinya kaku.

Pada masa pandemi ini, penyederhanaan kurikulum sangat diperlukan. Karena, anak yang belajar tanpa didampingi guru banyak menghadapi kesulitan‑kesulitan. Maka dari itu, salah satu mengatasinya ialah mempersilakan sekolah di daerah zona hijau dan kuning untuk membuka sekolah dengan seluruh persyaratan yang ada. Dari sisi kurikulum, diberikan opsi kurikulum yang sederhana sebagai salah satu pilihan sekolah untuk pelaksaan pembelajaran jarak jauh ataupun tatap muka.

Yang menjadi pertanyaan bagi kita semua, apa jadinya bila belajar menggunakan kurikulum darurat? Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan, sejatinya kurikulum darurat ini akan memudahkan proses pembelajaran di masa pandemi.

Dampak kurikulum darurat bagi guru adalah tersedianya acuan kurikulum yang sederhana. Berkurangnya beban mengajar. Guru dapat berfokus pada pendidikan dan pembelajaran esensial dan kontekstual. Kesejahteraan psikososial guru meningkat.

Sedangkan dampak bagi siswa adalah anak didik tidak dibebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum dan dapat berfokus pada pendidikan dan pembelajaran yang esensial dan kontekstual. Kesejahteraan psikososial siswa meningkat.

Dampak bagi orang tua katanya mempermudah pendampingan pembelajaran di rumah. Kesejahteraan psikososial orang tua meningkat. Karena itu, kurikulum darurat ini diharapkan dapat membantu mengurangi kendala yang dihadapi guru, orang tua, dan anak selama masa pandemi.

Yang jelas apapun nama kurikulum yang diterapkan pada masa pandemi ini ruh utamanya adalah Kurikulum 2013. Ketika berbicara tentang Kurikulum 2013 tentu kita terbayang pada ketidakpahaman banyak guru hingga sekarang. Maka, ketika katanya di masa pandemi ini kurikulum itu disederhanakan lagi penerapannya, tentu ini menjadi PR baru bagi guru untuk mengikhtisar materi yang ajar yang ada.

Di sisi orang tua murid, kerepotan selama ini hukan soal banyak atau sedikitnya tugas dan bahan ajar yang dikirim guru, tapi soal banyak orang tua yang gagap teknologi. Mereka setengah mati belajar tentang bagaimana membuat email berselancar di aplikasi classroom, dan lain-lain. Banyak orangtua, terutama kaum ibu, hingga tengah malam masih berusaha menyelesaikan tugas-tugas sekolah anaknya. Dari tak punya smartphone, mareka harus bersusah ayah membelinya, membeli kuota internet, dan tentu saja belajar mengakrabkan diri dengan teknologi agar bisa menjadi guru bagi anak-anak merek sendiri di rumah.

Oleh sebab itu, seringan apapun kurikulum, jika harus belajar secaraonline, maka untuk saat ini banyak orang tua masih kerepotan. Dan, syukurnya banyak guru dan sekolah sangat memaklumi hal itu. Jadi, para orangtua murid yang belum cerdas mengoperasi smartphone, tidak punya wi-fi, kuota internet yang terbatas, dan lain-lain janganlah berkecil hati, Tapi, tetap semangat untuk mengikuti semampunya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved