Sabtu, 11 April 2026

Penyeberangan Perintis Buka Akses Daerah Terpencil

Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh belum lama ini membuka akses ke daerah terpencil atau kawasan pulau terdepan melalui jalur

Editor: bakri
IST
Serambi Podcast bersama Dinas Perhubungan Aceh dengan tema “Penyeberangan Perintis, Membuka Akses Baru ke Daerah Terpencil” . Narasumber: Ir. Mahyus Syafril (Ka. Bidang Pelayaran) dan Husaini, SE, M.M.Tr Kepala Seksi Angkutan Pelayaran dan Angkutan Sungai, Danau, dan Penerbangan. Host: Zainal Arifin M Nur Pemimpin Redaksi Harian Serambi Indonesia Rabu, 12 Agustus 2020 

BANDA ACEH – Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh belum lama ini membuka akses ke daerah terpencil atau kawasan pulau terdepan melalui jalur penyeberangan perintis yang disetujui oleh Kementerian Perhubungan. Dua jalur tersebut adalah penyeberangan dari Ulee Lheue-Seurapong/Ulee- Paya (Pulo Breueh) dan Calang-Sinabang. Kepala Bidang Pelayaran Dishub Aceh, Ir Mahyus Syafril, bersama Kepala Seksi Angkutan Pelayaran dan Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan Dishub

Aceh, Husaini SE MM Tr dalam podcast Serambi yang dipandu Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin, mengatakan, dua jalur perintis ini sudah memulai pelayarannya pada 3 Juni 2020 (Ulee Lheue-Seurapong) dan 2 April (Calang- Sinabang).

Kedua jalur ini menggunakan jenis kapal yang sama, yaitu kapal  Feri Roro. Untuk lintas Ulee Lheue-Seurapong menggunakan kapal KMP Papuyu 284 GT dengan kapasitas penumpang 105 orang, dan lintas Calang- Sinabang KMP Teluk Sinabang 750 GT dengan kapasitas penumpang 282 orang. Mahyus menjelaskan, Dishub Aceh mengusulan lintasan penyeberangan perintis lintasan Calang- Sinabang sejak tahun 2017. Usulan ini disetujui Ditjen Perhubungan  Darat tahun 2019.

Sedangkan lintas penyeberangan Ulee Lheue-Seurapong/ Ulee Paya (Pulo Breueh) diusulkan tahun  2019. “Penetapan kedua lintasan baru ini oleh Plt Gubernur Aceh pada tanggal 13 Januari 2020. Lalu ditetapkan tariff kelas ekonomi angkutan penyeberangan perintis oleh Plt Gubernur Aceh pada 7 Februari 2020,” katanya.

Dia menjelaskan, sampai saat ini untuk lintasan Ulee Lheue-Seurapong/ Ulee Paya jumlah trip (PP) yang sudah dilaksanakan adalah 16 trip dengan jumlah penumpang 93 orang (load factor 4,2%), dan kendaraan campuran roda dua 27 unit, roda empat 6 unit. Sedangkan lintasan Calang-Sinabang jumlah trip (PP) yang sudah dilaksanakan adalah 15 trip dengan jumlah penumpang 439 orang (load factor 10,46 %), dan kendaraan campuran roda dua 110 unit, roda empat 27 unit, roda enam 22 unit.

“Penumpang rata-rata masih di bawah 5 persen, kendaraannya masih di bawah 30 persen untuk lintasan Ulee  heue-Seurapong. Mungkin perdana, apalagi tambah Covid. Tapi yang namanya perintis beda dengan komersil, kebutuhan masyarakat beda, jika kebutuhan masyarakat sudah ramai, di atas 50 persen, lintasan  tersebut bisa jadi komersil, bukan lagi perintis,” katanya.

Sedangkan jalur Calang- Sinabang untuk penumpang, kata Mahyus, secara load factor masih di bawah 20 persen dan kendaraan masih d  bawah 25 persen. “Kita berharap ke depan terus meningkat. Karena tujuan kita membuka jalur perintis ini adalah untuk menciptakan transportasi berkeadilan guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat terutama pada lintasan itu,” ujarnya.

Selama ini, seperti jalur  Ulee Lheue-Seurapong/ Ulee Paya, masyarakat melintas secara mandiri menggunakan kapal kayu kapal kayu swadaya masyarakat. “Inilah menjadi kewajiban pemerintah menyediakan akses penyeberangan yang layak. Pemerintah pusat dalam hal ini menyetujui jalur perintis, provinsi menetapkan lintasan dan penetapan tarif. Sementara kabupaten/kota melengkapi fasilitas yang kurang,” pungkasnya. (dan)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved