Breaking News:

Jurnalisme Warga

Covid-19 dan Perilaku Masyarakat Aceh Singkil

SEKITAR empat bulan lalu saya menulis di Web-LIPI tentang perkembangan Covid-19 di Aceh. Dengan sedikit bangga saya sampaikan bahwa Aceh

Covid-19 dan Perilaku Masyarakat Aceh Singkil
IST
DR. FADJRI ALIHAR, Peneliti Bidang Ekologi Manusia pada Pusat Penelitian Kependuduan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), melaporkan dari Jakarta

OLEH DR. FADJRI ALIHAR, Peneliti Bidang Ekologi Manusia pada Pusat Penelitian Kependuduan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), melaporkan dari Jakarta

SEKITAR empat bulan lalu saya menulis di Web-LIPI tentang perkembangan Covid-19 di Aceh. Dengan sedikit bangga saya sampaikan bahwa Aceh sukses mengendalikan penyebaran Covid-19 yang pada saat itu hanya kurang dari 20 orang yang positif.

Secara gamblang saya jelaskan  faktor-faktor geografis Aceh yang terletak di ujung utara Sumatera menjadi faktor penentu rendahnya penyebaran Covid-19 karena bukan terletak pada jalur lalu lintas yang ramai, seperti halnya Medan atau Jakarta. Sebagai akibatnya, migrasi masuk ke Aceh relatif rendah karena tiadanya magnet penarik bagi pendatang. Seandainya Covid-19 ini terjadi pada era 1970-an ketika Aceh ‘booming’ liquid natural gas (LNG) kemungkinan jumlah orang yang terpapar virus corona di Aceh, terutama di kawasan petrodolar (Aceh Utara dan Lhokseumawe), sangat besar karena banyak pekerja yang datang dari luar lalu lalang ke Tanah Rencong tersebut.

Kemudian, saya kemukakan bahwa selama Pemerintah Aceh mampu menjaga perbatasannya dengan Provinsi Sumatera Utara, maka penyebaran Covid-19 bisa ditekan serendah mungkin dan ini bisa menjadi model penanggulangan Covid-19 di Indonesia. Apalagi pada akhir Maret lalu, Pemerintah Aceh sempat memberlakukan jam malam. Namun, dalam kenyataanya, dengan berbagai alasan ekonomi kemudian Pemerintah Aceh meniadakan jam malam yang hanya berlangsung satu minggu dan melonggarkan daerah perbatasan. Nah, mulai saat itulah satu per satu anggota masyarakat terpapar Covid-19. Pada awalnya, sejak Maret hingga Mei, orang yang positif Covid-19 di Aceh semuanya yang memiliki riwayat perjalanan ke luar Aceh. Misalnya, ke Jakarta, Bogor, Surabaya, Batam, dan tentu saja ke Medan, Sumatera Utara, yang saat itu sudah digolongkan zona merah Covid-19 di Sumatra.

Ditambah lagi ada beberapa orang warga Aceh yangg baru pulang dari Malaysia dan juga dari daerah lainnya, ternyata setelah dites swab hasilnya positif Covid-19. Sebelumnya ternyata banyak di antara mereka yang sudah berkeliling ke berbagai daerah di Aceh dan ini merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya transmisi penyebaran Covid-19.

Sementara di lain pihak Pemerintah Aceh abai melakukan tracing pada anggota kelompok masyarakat yang pernah berinteraksi dengan mereka yang terpapar Covid-19 tersebut. Sebagai akibatnya, telah terjadi transmisi lokal dari orang ke orang dalam penyebaran Covid-19 di berbagai daerah di Aceh. Bahkan di Langsa dan Bener Meriah transmisi lokal tersebut berasal dari pedagang kaki lima yang kemungkinan besar telah terpapar Covid-19 sebelumnya. Tak sedikit pula dalam satu keluarga terpapar beberapa hingga belasan orang. Kasus seperti ini awalnya terjadi di Kota Lhokseumawe dan Lhoksukon, Aceh Utara. Berikutnya di Lamlagang, Kota Banda Aceh, di mana dalam satu keluarga sampai delapan orang yang positif Covid-19. Demikian pula di Lampriek (Bandar Baru) Banda Aceh, satu keluarga Irwandi Yusuf, yakni Darwati A Gani dan 14 orang lainnya terpapar corona sepekan lalu dan alhamdulillah kini semuanya sudah sembuh.

Pelan tapi pasti, akibat kelalaian individual, kelompok, dan penguasa, sekitar sebulan terakhir Aceh telah merasakan dahsyatnya penyebaran Covid-19  yang hingga kemarin jumlahnya hampir 800 orang yang positif. Padahal, pada awal-awal merebaknya corona di Tanah Air angka positif Covid di Aceh bisa dihitung dengan jari tangan. Kini, jumlah yang meninggal karena terpapar Covid-19 di Aceh hingga saat sudah mencapai 24 orang. Bahkan pada tanggal 10 Agustus 2020 salah seorang Wakil Dekan Universitas Syiah Kuala meninggal dunia karena Covid-19.

Dalam perjalanannya, korban Covid-19 ternyata tanpa memandang status, usia, dan jenis kelamin. Siapa saja bisa terpapar, apalagi mereka yang tidak mengindahkan protokol kesehatan, seperti tidak memakai masker, jarang cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta doyan berkerumun dengan orang ramai. Hingga saat ini dari 23 kabupaten/kota di Aceh, tinggal Kabupaten Pidie Jaya lagi yang bebas Covid-19. Dalam menghadapi Covid-19 ini seluruh masyarakat harus waspada dan selalu mematuhi protokol kesehatan setiap saat dan di mana saja.

Kemudian, pada tanggal 11 Agustus 2020,  masyarakat Aceh Singkil digegerkan dengan berita bahwa sebanyak 15 orang warganya positif Covid-19.  Bahkan diberitakan juga Bupati Aceh Singkil positif Covid. Padahal, beberapa hari yang lalu beliau meresmikan ruang isolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Singkil di Kecamatan Gunung Meriah dan juga sempat menghadiri rapat pada salah satu kantor dinas di Aceh Singkil.

Ironis sekali, sekitar dua minggu lalu wilayah Aceh Singkil tercatat sebagai daerah yang nihil Covid-19, seperti halnya Pidie Jaya. Namun sekarang, Covid-19 menjelma bagaikan monster yang menakutkan. Apalagi di tetangga Aceh Singkil, yakni Kota Subulussalam, sudah ada pasien perempuan yang meregang nyawa karena Covid-19, yakni NM pada 13 Agustus 2020 pagi.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved