Breaking News:

Opini

"Putoh Ngen Mufakat,  Kuat Ngen Meuseuraya"  

Ketika kita membacanya tersirat betapa indah kalimat ini dari aspek kebahasaan. Namun ironi kita terlupa merefleksikan dan memaknakan kalimat

Dr. Munawar A. Djalil. MA, Pegiat Dakwah, PNS Pemerintah Aceh, Tinggal Cot Masjid, Banda Aceh

Oleh Dr. Munawar A. Djalil. MA, Pegiat Dakwah, PNS Pemerintah Aceh, Tinggal Cot Masjid, Banda Aceh

Semua kita yang berakal sehat tidak akan menafikan sebuah kalimat penuh makna "Damai itu indah". Kalimat ini serentak dapat dilihat tertulis rapi terutama di institusi-institusi militer. Ketika kita membacanya tersirat betapa indah kalimat ini dari aspek kebahasaan. Namun ironi kita terlupa merefleksikan dan memaknakan kalimat ini dalam kehidupan nyata. Karena secara fitrah setiap makhluk ciptaan Allah SWT mendambakan kedamaian tercipta.

Jika kita ajukan pilihan kepada masyarakat Aceh khususnya, manakah yang lebih baik, perang atau damai, semuanya akan memilih perdamaian. Sebab apapun motivasi dan alasannya perang tidak bisa berakibat lain kecuali kerusakan, kehancuran dan kebinasaan, baik bagi manusia itu sendiri, sumber-sumber penghidupan seperti ternak dan sawah-ladang, maupun peradaban dan hasil-hasil kemajuan yang telah mereka capai. Sementara perdamaian tidak bisa berarti lain kecuali kebahagiaan, ketenteraman, ketenangan, kesejahteraan, kemakmuran, dan kemajuan.

Tidak ada orang arif di dunia, filosof atau reformer yang tidak mencela peperangan dan segala akibatnya yang mengerikan sebagai hasil dari tindakan kekejaman, keganasan, dan kebuasan. Tidak ada manusia yang memuji peperangan selain mereka yang hendak menarik keuntungan dari peperangan dan agresi serta mereka yang haus kekuasaan.

Kalau manusia zaman dahulu memuji-muji peperangan dan membangga-banggakannya, tetapi setelah datangnnya agama Islam 15 abad yang lalu, jiwa umat manusia terdidik sedemikian rupa sehingga menyadari bahwa peperangan hanya boleh dilakukan untuk kepentingan mempertahankan diri, harta benda dan kekayaan negeri, keselamatan tanah air, membela kebenaran dan keadilan, serta melawan kejahatan dan agresi.

Sebagaimana diketahui bahwa momentum damai Aceh yang diawali dengan penandatanganan naskah Memorandum of Understandng (MoU) antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Pemerintah Indonesia di Helsnki Finlanda 15 tahun silam menjadi dasar perubahan keadaan wilayah, dari wilayah perang (Dar alharb) menjadi wilayah damai (Dar alsalam). MoU ini pula menggambarkan akan perjuangan melelahkan masyarakat Aceh sehingga akhirnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan sejarah Aceh untuk menggapai kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. 

Saat ini setelah 15 tahun damai Aceh, yang harus kita lakukan adalah merawat damai tersebut. Perlu diketahui bahwa merawat dan menjaganya jauh lebh sulit daripada perjuangan mendapatkan perdamaian itu. Maka tidak ada cara yang lebih indah kecuali menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian, persatuan dan kebersamaan. Bagi kita orang Aceh yang terkenal sebagai masyarakat yang religius, tentu kita memahami bahwa Islam adalah sebuah agama yang mengajarkan perdamaian. Sebagaimana banyak disebut dalam Alquran, kata "Salam" yang bermakna damai adalah salah satu dari sebutan nama-nama Allah. "Salam" juga dipergunakan Islam sebagai sebutan yang diucapkan dalam tasyahud di waktu shalat.

Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari ketika Muslim bertemu dengan saudaranya sesama muslim, dua-duanya disunahkan saling mengucapkan "Assalamualaikum" (salam sejahtera bagi kalian). Artinya, Islam sangat mendambakan terwujudnya kedamaian di muka bumi, karena kedamaian itu merupakan nikmat terbesar yang dianugerahkan Allah kepada manusia yang wajib dilestarikan.

Karenanya, seluruh elemen masyarakat Aceh harus tetap bersinergi, bahu membahu dalam rangka merawat dan menjaga perdamaian yang merupakan nikmat Allah SWT yang patut kita syukuri. Karena perdamaian menjadi kunci dan instrumen penting dalam mensukseskan pembangunan menuju Aceh hebat dan sejahtera.

Dalam rangka penguatan perdamaian Pemerintah Aceh saat ini sedang giat-giatnya melaksanakan program pembangunan di segala bidang, sesuai dengan Visi Pemerintah Aceh 2017-2022 "Terwujudnya Aceh yang Damai dan Sejahtera melalui Pemerintahan yang Bersih, Adil dan Melayani."

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved