Breaking News:

Opini

Jejak Heroik Aceh di Kota Tua Jakarta

SETIBA di Stasiun Kereta Api Jakarta Kota, saya melangkahkan kaki ke utara hingga sampai ke Pelabuhan Sunda Kelapa di muara Sungai Ciliwung

Jejak Heroik Aceh di Kota Tua Jakarta
IST
YOPI ILHAMSYAH, akademisi, melaporkan dari Laboratorium Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh

YOPI ILHAMSYAH,

Dosen Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Kota Tua, Jakarta

SETIBA di Stasiun Kereta Api Jakarta Kota, saya melangkahkan kaki ke utara hingga sampai ke Pelabuhan Sunda Kelapa di muara Sungai Ciliwung. Dahulu, wilayah tepi laut ini merupakan pelabuhan Kerajaan Sunda yang beribu kota di Pakuan Pajajaran (kini Bogor) dan dinamakan Kalapa, karena banyak pepohonan kelapa.

Di sini dijual lada, salah satu komoditas rempah yang sangat dicari oleh pedagang asing kala itu. Lokasi pelabuhan yang strategis serta pintu masuk menuju pedalaman Sunda yang kaya rempah menjadikan pelabuhan ini ramai dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah Nusantara dan Eropa.

Pelabuhan dan daerah sekitarnya kemudian disebut Sunda Kelapa. Dahulu, Sungai Ciliwung bahkan dapat dilintasi kapal-kapal dagang bertonase sedang, sedangkan kapal bertonase berat berlabuh di depan pantai. Kini, Pelabuhan Sunda Kelapa hanya berfungsi sebagai pelabuhan antarpulau dengan ukuran kapal kecil hingga sedang. Aktivitas bongkar muat dengan cara tradisional masih ditemukan dengan komoditas berupa sembako, kelontong, bahan bangunan, tekstil, dan hasil bumi.

Alkisah, pada 1522, Raja Sunda mengundang Portugis untuk membangun benteng di Sunda Kelapa serta meminta bantuan melindungi Sunda Kelapa dari serangan Kesultanan Cirebon maupun Demak. Sebuah kesepakatan berlangsung di mana Portugis berjanji mendirikan loji (perkantoran dan perumahan yang dilengkapi benteng) serta menyediakan senjata, sedangkan Sunda menghadiahkan 1.000 keranjang lada. Sebuah prasasti yang disebut Padrao dibangun untuk mengenang perjanjian tersebut.     

Kesultanan Demak, Jawa Tengah, melihat persekutuan Sunda Pakuan Pajajaran dengan Portugis sebagai sebuah ancaman. Tidak ingin Portugis tumbuh besar dan berkuasa penuh seperti halnya di Malaka, Demak pun menyerang Portugis di Sunda Kelapa pada tahun 1527. Demak yang beraliansi dengan Cirebon mengirim pasukan gabungan berkekuatan 2.000 tentara dipimpin oleh Fatahillah. Fatahillah sendiri adalah perantau asal Pasai di pantai utara Aceh yang tiba di Demak pada tahun 1524. Lantas siapakah Fatahillah dan mengapa diangkat sebagai panglima tertinggi Demak-Cirebon?

Dari informasi yang dipamerkan di Museum Fatahillah dilengkapi lukisan dirinya, Fatahillah lahir dengan nama Maulana Fadhillah pada 1471. Kemudian, Fatahillah dibesarkan di lingkungan Kesultanan Pasai. Beliau memiliki beragam nama lokal yang menggambarkan bangsawan, seperti Ratu Bagus Paseh, Tubagus Paseh (gelar Banten), Wong Agung Sebrang (gelar Jawa), Fadhillah Khan, dan Pangeran Pasee. Sedangkan orang Portugis menyebutnya Falatehan.

Fatahillah memperoleh pendidikan kemiliteran laut serta ilmu-ilmu agama. Pengetahuan dan pengalaman militer yang mumpuni menjadikan Fatahillah dipercaya sebagai panglima tertinggi pasukan gabungan.

Sumber Portugis dan Belanda menyebutkan bahwa setelah Pasai jatuh ke tangan Portugis pada 1521, Fatahillah pergi ke Mekkah selama tiga tahun. Ketika pulang, Fatahillah yang mendapati Pasai masih dikuasai Portugis melanjutkan perjalanan hingga tiba di Demak, Kerajaan Islam, pada 1524. Di sana Fatahillah mengabdi pada Sultan Trenggana dan kemudian mendapat penugasan mengusir Portugis di Sunda Kelapa.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved