Breaking News:

Ubi Kayu Jadi Komoditi Andalan Nonberas

Kepala Dinas Pangan Aceh, Cut Yusminar bersama Asisten II Setda Aceh, H T Ahmad Dadek, dalam acara Gerakan Diversifikasi Pangan

SERAMBINEWS.COM/HERIANTO
Asisten II Setda Aceh, Ahmad Dadek dan Kadis Pangan Aceh, Cut Yusminar, dalam acara "On TV Boh Bi" Gerakan Diversifikasi Pangan Nasional, di Dinas Pangan Aceh, Rabu (19/8/2020) 

BANDA ACEH ‑ Kepala Dinas Pangan Aceh, Cut Yusminar bersama Asisten II Setda Aceh, H T Ahmad Dadek, dalam acara  Gerakan Diversifikasi Pangan yang dilakukan Kementerian Pertanian Secara Serentak pada hari Rabu (19/8) kemarin,  kepada seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota di Indonesia, mengampanyekan ubi kayu menjadi komoditi andalan non beras.

Komiditi Ubi Kayu dan Ketela Pohon, salah satu komoditi yang difocuskan Dinas Pangan Aceh dalam  Kegiatan Gerakan Diversifikasi Pangan pengganti beras yang digelar Kementerian Pertanian, pada acara On TV Gerakan Diversifikasi Pangan Nasional.

" Untuk mengenyangkan perut itu, bukan hanya dengan nasi, tapi dengan bahan pangan lainnya seperti ubi kayu juga bisa," kata Kepala Dinas Pangan Aceh, Cut Yusminar kepada Serambi, di Banda Aceh, Rabu (19/8) usai acara On TV Gerakan Diversifikasi Pangan dengan pihak Kemenetrian Pertanian dan Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Cut Yusminar mengatakan, acara On TV Gerakan Diversifikasi Pangan yang di gelar Kementrian Pertanian Secara Nasional pada hari Rabu (19/8) serentak di 34 Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia, tujuannya supaya kegiatan ini serentak di gelar di seluruh Indonesia.

Gerakan Diversifikasi Pangan non beras ini, kata Cut Yusminar, dicanangkan kembali oleh Kementrian Pertanian, untuk menyegarkan semangat masyarakat dalam pemanfaatkan bahan pangan lokal, sebagai makanan alternatif berkalori di luar beras.

Misalnya jagung, ubi kayu, talas, sagu, mi dan lainnya yang di daerah tertentu, bahan pangan itu ada yang dijadikan makanan pokok. Oleh karena itu, ubi kayu, ketelah pohon, jagung, talas, sagu dan sejenisnya, dalam pengolahan bahan makanan itu tidak hanya untuk satu produk makanan, tapi harus lebih dari satu.

Misalnya ubi kayu, manfaatnya cukup banyak, bisa dijadikan berbagai produk makanan, mulai dari ubi rebus, ubi goreng, tape, getuk lindri, keripik ubi, bolu ubi, dan makanan lainnya seperti makanan khas Aceh, timpan dari tepung ubi kayu dan lainnya.

Bahan baku ubi kayu dan ketela pohon (ubi rambat), sangat mudah dikembangkan. Biya untuk mengembangkannya juga, tidak mahala, apalagi mengurusnya. Cuma waktu masa panennya sedikit lama 3 ‑ 4 bulan.

Di Saree Aceh Besar, kata Cut Yusminar, pengembangan ubi kayu, ketela pohon/ubi rambat, sangat banyak, dan sepanjang tahun ada orang jual keripik ubi, tape ubi, jagung rebus, dan kacang rebus, serta timpan ubi ketela pohon, bolu ubi dan lainnya.

Itu artinya, kata Cut Yusminat, produk ubi kayu dan ketela pohon yang tahun ini menjadi usu Diversifikasi Pangan oleh Kementerian pertanian, di Aceh ia  sudah menjadi komoditi dan makanan yang sangat digemari bagi masyarakat Aceh, terutama yang sering melintas di Saree, Aceh Besar, mereka dapat kita pastika, akan berhenti sejenak, untuk beli keripik ubi, keripik pisang, tape, jagung rebus, kacang rebus dan lainnya, untuk makanan cemilin bagi keluarganya.

Program Diversifikasi Pangan Nasional ini, kta Cut Yusminar, untuk Aceh, sudah dimasukkan ke dalam Gerakan Aceh Mandiri Pangan yang disingkat dengan sebutan Gampang.

Asisten II Setda Aceh, H T Ahmad Dadek mengatakan, pembentukan program Gampang Aceh 2020, didasari oleh seruan Presiden Joko Widodo, dalam menghadapi masa darurat covid 19, dimana pada bulan Nopember 2020 ‑ Januari 2021 mendatang, dunia akan mengalami krisis pangan. Untuk menghadapi masalaha itu, Aceh buat Gerakan Aceh Mandiri Pangan yang disingkat dengan sebutan Gampang 2020.

Gerakan Aceh Mandiri Pangan, kata Ahmad Dadek, mengajak masyarakat dan petani untuk bertanam padi, jagung, beternak ayam petelur, pelihara ikan lele dan perhatikan ketersediaan air dan pengembangan komoditi pangan lainnya.

Gerakan Gampang Aceh 2020 itu, kata Ahmad Dadek, sudah berjalan sejak Juni 2020 lalu, dan di masing‑masing daerah sudah melakukannya, menurut kemampuan keuagan masing‑masing daerah.

" Untuk memaksimalkan pelaksanaan " Gampang 2020 itu, Pemerintah Aceh juga menggelontorkan bantuan keuanganya ratusan miliar rupiah ke Kabupaten/Kota, supaya daerah meresponnya secara maksimal,"ujar Ahmad Dadek.(her) 

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved