Breaking News:

Salam

Saatnya Pengenaan Sanksi yang Menjerakan  

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin memberitakan bahwa seluruh tenaga medis yang selama ini bertugas di Pusat Kesehatan

FOR SERAMBINEWS.COM
Puskesmas Blang Kuta, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya, yang sedang tutup. Foto direkam Kamis (20/8/2020). 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin memberitakan bahwa seluruh tenaga medis yang selama ini bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Blang Kuta, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya (Pijay) sejak dua hari lalu melakukan  isolasi mandiri di rumah masing-masing. Hal itu mereka lakukan setelah seorang dokter berinisial N, 29 tahun,_ di puskesmas tersebut terkonfirmasi positif Covid-19berdasarkan hasil pemeriksaan swab di Laboratorium Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh yang keluar pada Sabtu, 15 Agustus 2020.

Tenaga medis yang melakukan isolasi mandiri itu berjumlah55 orang. Mereka terdiri atas dua dokter umum, satu dokter gigi, dan satu petugas pelayanan kesehatan lingkungan (kesling), dan perawat 52 orang. Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Pijay, Edi Azwar SKM MKes mengatakan bahwa semua tenaga medis yang isolasi mandiri tersebut empat hari lalu sudah menjalani rapid test di Meureudu, hasilnya lima orang dinyatakan reaktif.

Meski melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing, ke-55 tenaga medis di puskesmas tersebut tetap diawasi secara kontinu oleh dokter Tim Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Pidie Jaya, ungkap Edi Azwar. Ia juga menyatakan, kompleks puskemas_ sudah disemprot dengan cairan disinfektan agar steril dari virus corona. Berhubung seluruh tenaga medis di puskesmas itu sedang menjalani isolasi mandiri, maka pelayanan kesehatan di puskesmas tersebut ditutup antara 10 hingga 14 hari ke depan, terhitung sejak 17 Agustus 2020.

Jadi, warga dari delapan kampung yang selama ini berobat ke Puskesmas Blang Kuta untuk sementara diminta datang ke Puskesmas Bandar Baru yang berada di ibu kota kecamatan, yaitu di Keude Ulee Gle. Nah, apa yang terjadi di Puskesmas Blang Kuta, Pijay itu hanyalah potret kecil dari persoalan besar yang kini melanda tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan kita di Aceh pada masa pandemi.

Pelan tapi pasti, satu per satu puskesmas terpaksa ditutup untuk tujuan sterilisasi. Bermula dari puskesmas di Aceh Tamiang, Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Banda Aceh, kini puskesmas di Pijay kena giliran ditutup sementara. Penyebabnya sama: ada dokter atau perawat di lingkungan puskesmas yang terinfeksi Covid-19.

Di lingkup yang lebih besar, hal itu juga menimpa Rumah Sakit Umum Daerah Muyang Kute di Bener Meriah, RSUD Aceh Tamiang, bahkan rumah sakit rujukan tingkat provinsi, yakni RSUZA Banda Aceh. Ketika pusat layanan kesehatan, entah itu puskesmas, rumah sakit, bahkan laboratorium milik Balitbangkes Aceh menjadi tempat penularan lokal atau bahkan berkembang jadi klaster baru penularan Covid-19, hal itu tentulah sangat mencemaskan.Kita wajar merasa sangat prihatin.

Apalagi jika kejadian itu berulang di sebuah puskesmas, lab, bahkan rumah sakit. Tambahan lagi, sudah lebih 205 dari 1.137 pasien Covid-19 di Aceh adalah tenaga kesehatan. Artinya, 15-18 persen di antara pasien Covid di Aceh kini adalah orang yang seharusnya melayani dan merawat pasien Covid. Tapi justru mereka kini yang harus diisolasi dan dirawat sampai sembuh.

Keprihatinan kita jadi berlipat ganda, karena di sela-sela kesibukan tenaga medis di rumah sakit memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien dan di tengah makin banyaknya tenaga medis yang_ positif Covid, tapi di sisi lain belum terlihat ada sedikit pun perubahan sikap masyarakat kita hampir di seluruh Aceh terhadap pandemi Covid-19 ini.

Protokol kesehatan yang apabila dijalankan dengan ketat diyakini dapat mencegah seseorang tertular virus corona, ternyata tak semua orang di negeri syariat ini mematuhinya. Kalaupun ada yang patuh, itu hanya segelintir. Lebih banyak yang bandel. Padahal, kalau mereka mau berpikir rasional dan membanding: tenaga kesehatan saja bisa kena, apalagi kita, seharusnya mereka tak lagi abai apalagi sengaja mencueki protokol kesehatan.

Tampaknya, sudah saatnya diberlakukan sanksi tegas oleh Pemerintah Aceh dan kabupaten/kota terhadap mereka yang ke luar rumah atau saat di kantor tak pakai masker, tak cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, juga tak jaga jarak saat

berada di ruang publik. Sanksinya harus tegas, sanksi yang bikin kapok, yang menjerakan. Jangan justru bikin sanksi yang terkesan seperti sedang bersenda gurau atau bahkan bersandiwara. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved