Breaking News:

Opini

Saat Saya Divonis Positif!

PADA hari Selasa, 4 Agustus 2020, saya datang ke Poliklinik Penyakit Infeksi Emerging dan Reemerging Rumah Sakit Umum

Saat Saya Divonis Positif!
IST
Sekretaris Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aceh, Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Unaya

Dr. ASLINAR, Sp.A, M. Biomed, Dokter Spesialis Anak di Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

PADA hari Selasa, 4 Agustus 2020, saya datang ke Poliklinik Penyakit Infeksi Emerging dan Reemerging Rumah Sakit Umum Daerah dr Zainoel Abidin (Pinere RSUDZA) Banda Aceh untuk menjalani pemeriksaan swab. Mengapa? Karena, saya merasa melakukan kontak erat dengan seorang teman yang dikabarkan terkonfirmasi positif Covid-19.

Pengertian kontak erat sesuai Pedoman Kemenkes adalah seseorang yang kontak atau berdekatan dengan seseorang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dalam jarak kurang dari 1 meter dan dalam waktu lebih dari 15 menit. Bisa saja saya juga kontak dengan orang lain sebelumnya, apakah itu dengan pasien di rumah sakit, tempak praktik, atau di mana saja. Wallahu’alam. Yang jelas, saya tidak berusaha menyalahkan atau mencari kambing hitam di sini.

Ini adalah tanggung jawab moral saya untuk menyakinkan diri apakah saya tertular atau tidak dan jangan sampai saya menularkan kepada orang lain. Bayangkan di rumah saya ada anak-anak, suami, para keponakan, juga Mamak saya yang sudah lanjut usia. Ini sangat saya khawatirkan, walaupun sejak saya putuskan isolasi diri (malam sebelumnya), saya tidak berjumpa dengan beliau. Hanya via videocall saja  saya pantau kondisi beliau. Beliau dengan berbagai penyakit berat dan kondisi yang lemas. Kondisi beliau membuat saya merasa sangat khawatir.

Saat yang tidak saya harapkan itu pun tiba. Menjelang magrib tanggal 5 Agustus (Rabu), saya mendapat jawaban tentang hasil swab saya, “Positif, Dok,” kata kepala laboratoriumnya. Perasaan saya sangat kacau. Rasanya gunung jatuh ke atas kepala. Jantung berdegup kencang sambil saya menangis sesenggukan di dalam kamar. Ya, sendirian tentunya saya menangis karena memang sudah lebih sehari saya mengisolasi diri.

Setelah satu jam, saya pun memberi tahu suami bahwa saya terkonfirmasi positif Covid-19. Saya beri tahu via telepon dan beliau hanya terdiam dan bertanya kondisi saya bagaimana sekarang. Dukungan beliau yang menguatkan saya. “Kita hadapi sama-sama ya Sayang, kita lawan Covid ini bersama.” Begitulah dukungannya yang membuat saya menjadi bersemangat kembali.

Kemudian, saya mulai memberi tahu beberapa orang tentang hasil swab tersebut. Reaksi yang diberikan oleh teman-teman bisa mencerminkan siapa saja yang bisa dianggap sebagai sahabat. Ada yang berusaha mencari kesalahan saya dengan menyalahkan kegiatan yang saya lakukan sebelumnya. Ya sudahlah, saya menganggap itu sebagai pembelajaran. Tapi ternyata, Allah memberikan sahabat yang sangat banyak yang luar biasa memberikan dukungan. Masyaallah, tidak sanggup saya jabarkan satu per satu. Sangat banyak masuk pesan WhatsApp, SMS, inbox di Fb, dan di Instagram saya. Semuanya mendoakan yang terbaik buat saya dan memberikan semangat.

Berbagai dukungan lain juga ditunjukkan oleh para sahabat. Saya hitung sejak hari Rabu tersebut, saya banyak sekali menerima panggilan telepon dari abang Gojek yang mengantarkan berbagai paket. Baik itu makanan, minuman berupa berbagai jenis buah-buahan, air zamzam, susu, kurma, madu, dan  habbatussauda.

Tak terkecuali minuman rempah yang khusus dimasak sendiri oleh sahabat saya, kemudian juga multivitamin, propolis, masker, handschoen, hand sanitizer, face shield, berbagai cemilan berupa kerupuk, kue bawang, salak pliek-u, pudding, donat, berbagai jenis bolu/cake, pizza, ayam goreng, bahkan ada yang mengirim rendang Padang. Juga yang paling saya idamkan: kopi sanger.

Masyaallah, setiap menerima kiriman tersebut, saya selalu menangis terharu. Luar biasa bahagia dikelilingi oleh mereka yang sangat baik, sangat perhatian. Juga dukungan dari organisasi di mana saya berada di dalamnya. Kiriman paket juga saya terima dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Aceh, IDI Aceh Besar, Pengurus Wilayah Aisyiyah Aceh, Kawan Spesialis RS Aceh Besar, Dinas Kesehatan Aceh Besar, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aceh, dan tentu saja semua teman-teman Aceh Peduli ASI, serta teman-teman seangkatan kuliah dulu. Peluk erat buat kalian semua.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved