Breaking News:

Opini

"Limbah Cair Domestik, Tantangan & Solusi Inovatif"  

Lebih satu dekade lalu PBB pernah mengestimasikan penduduk Indonesia akan melebihi 270 juta pada tahun 2025

IST
Prof. Dr. Ir. Izarul Machdar, M.Eng. Laboratorium Teknik Lingkungan Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik-Unsyiah

Oleh Prof. Dr. Ir. Izarul Machdar, M.Eng. Laboratorium Teknik Lingkungan Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik-Unsyiah

Lebih satu dekade lalu PBB pernah mengestimasikan penduduk Indonesia akan melebihi 270 juta pada tahun 2025. Tapi nyatanya, di tahun 2020 populasi Indonesia telah melebihi 272 juta jiwa, lima tahun lebih cepat dari perkiraan. Laju pertambahan penduduk yang meningkat pesat seperti ini membawa konsekuensi besar terhadap beban lingkungan, di antaranya peningkatan buangan air limbah domestik.

Limbah cair domestik adalah air limbah yang dihasilkan dari aktivitas-aktivitas suatu komunitas penduduk, di mana laju produksi dan komposisinya berbeda menurut tempat, latar belakang ekonomi, jenis dan jumlah aktivitas, kondisi iklim, konsumsi air, dan jenis serta kondisi saluran limbah. Umumnya, setiap negara telah mengeluarkan standar ambang batas konsentrasi limbah yang dapat dibuang ke badan air.

Walaupun aturan telah ada, dengan laju peningkatan populasi yang tinggi dan pendapatan per kapita yang rendah, dapat kita lihat kota-kota di Indonesia menghadapi permasalahan untuk mengembangkan infrastruktur perlindungan lingkungan, khususnya limbah cair domestik, yang pada akhirnya tak mampu secara optimal mengikuti aturan yang telah ditetapkannya.

Di Banda Aceh sendiri, kalau mau dibayangkan, apabila produksi limbah cair setiap orang 100 liter per hari, dengan populasi saat ini lebih 260 ribu jiwa, maka akan ada produksi limbah sekitar 26 ribu m3 per hari. Kalau dikumpulkan, ini setara dengan volume lebih dari 2 kali lapangan sepakbola standar internasional dengan kedalaman cairan limbah 2 meter.

Limbah ini tak terolah secara patut dan dibuang langsung ke lingkungan (tanah, selokan, atau alur sungai). Banyak kasus di tempat kita drainase dan sungai yang hitam pekat karena limbah ini.

Status limbah cair

Di Indonesia, septik tank adalah unit proses yang umum digunakan untuk menampung limbah toilet. Survei menunjukkan bahwa 85%-90% dari total jumlah perkotaan di Indonesia, penduduknya menggunakan septik tank. Septik tank menurut standar (SNI) terdiri dari dua ruang, yaitu ruang pengendapan dan peruraian secara anaerob, selanjutnya diikuti oleh area perkolasi atau resapan.

Tapi realitanya, masyarakat umumnya hanya membuat bangunan septik tank (yang kadang hanya sebatas pakai beberapa cincin sumur yang tak standar) tanpa kedap air dan tanpa menyediakan area perkolasi.

Keluaran dari septik tank dialirkan langsung ke drainase kota, alur, juga sungai. Bahkan keluaran dari septik tank komunal pun tanpa ada monitoring sebelum dibuang. Ironisnya sampai saat ini, sistem sanitasi di tempat (on site) seperti toilet dengan tangki septik untuk keluarga atau komunal masih terus dibangun. Dengan hanya menggunakan septik tank pribadi atau komunal tak dapat menjamin bahwa konsentrasi limbah yang dikeluarkan memenuhi baku mutu air limbah yang ditetapkan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved