Sabtu, 25 April 2026

Petani Keumala Jaga Malam Usir Gajah

Petani di Gampong Tunong dan Gampong Pako, Keumala Dalam, Kecamatan Keumala, Pidie, terpaksa harus jaga malam untuk mengusir

Editor: bakri
For Serambi
Gajah di kawasan hutan Keumala, Pidie beberapa pekan lalu. 

SIGLI - Petani di Gampong Tunong dan Gampong Pako, Keumala Dalam, Kecamatan Keumala, Pidie, terpaksa harus jaga malam untuk mengusir kawanan gajah liar yang mengganggu 40 hektare tanaman padi siap panen. Aktivitas ronda malam itu sudah petani lakukan sejak sepuluh hari terakhir.

Petani asal Gampong Tunong, Kecamatan Keumala, T Hamzah kepada Serambi, Selasa (25/8/2020), mengatakan, kawanan gajah liar sejak sepuluh hari terakhir menguasai hutan Keumala. Keberadaan satwa dilindungi negara itu sangat meresahkan petani, mengingat di sekitar gajah berkeliaran adanya tanaman padi yang segera dipanen.

Menurutnya, dua hari lalu, dua ekor gajah justru berhasil menerobos masuk ke perkampungan warga. Gajah liar itu mengobrak-abrik pohon pisang warga yang jaraknya hanya dua meter dengan tempat tinggal penduduk. Memang, dua ekor gajah itu tidak mengganggu rumah warga, namun berkeliaran di dekat masjid di Keumala Dalam.

"Kami mengusir kawanan gajah dengan membakar mercon agar binatang itu pergi ke hutan. Tapi, stok mercon sudah habis, sementara kawanan gajah masih bertahan di Keumala. Kami minta kepada pemerintah maupun dewan untuk membantu mercon," harap T Hamzah.

Camat Keumala, Fakhruddin SSos kepada Serambi, Selasa (25/8/2020), menyebutkan, sekitar 15 ekor gajah liar turun dari hutan untuk mencari makan di kawasan hutan Keumala yang berdekatan dengan perkampungan penduduk. Saat ini, warga ketakutan karena tanaman padi milik mereka akan panen sepuluh hari lagi. Tanaman padi yang subur itu seluas 40 hektare terletak di Blang Meukik Keumala Dalam.

"Warga terpaksa jaga malam untuk menghalaunya dengan mercon supaya kawanan gajah tidak mendekati tanaman padi siap panen. Kini, warga sudah sepuluh hari jaga malam yang dilakukan sejak pukul 20.00 hingga pukul 06.00 WIB pagi. Yang jaga malam mereka yang punya tanaman padi siap panen," jelasnya.

Menurutnya, warga sudah berusaha menghalau kawanan gajar liar ke Geuni, Kecamatan Tangse, namun satwa itu belum juga meninggalkan Keumala. Sehingga petani sangat resah dengan bertahannya gajah di kawasan mereka.

"Biasanya saat dihalau petani dengan mercon, kawanan gajah langsung pergi. Tapi, sekarang tetap bertahan di Keumala. Kita tidak tahu, apakah karena adanya pemasangan kawat kejut di kawasan Tangse sehingga gajah tidak mau pergi. Sementara di kawasan Keumala belum dipasang kawat kejut tersebut," pungkasnya.

Resort BKSDA Aceh berkantor di Pidie, Abdullah yang dihubungi Serambi, kemarin, mengungkapkan, petugas BKSDA Aceh, Rabu (26/8/2020), akan turun ke Keumala untuk menghalau kawanan gajah liar yang kini masih bertahan. Pengusiran satwa tersebut menggunakan mercon sehingga gajar liar akan menjauh dari kebun dan sawah warga. "Besok, saya juga akan menyerahkan mercon kepada warga. Dan kami bersama warga akan menghalau gajah supaya menjauh," jelasnya.

Ia menambahkan, keberadaan kawanan gajah liar di Keumala sudah diterima informasi dari masyarakat. Sebab, lintasan gajah yang sering terjadi di Keumala, Cot Preh dan Mila. Untuk itu, sebut Abdullah, gajah dihalau tidak lagi dengan gajah jinak melainkan dengan membakar mercon, maka satwa itu akan pergi ke hutan. "Mudah-mudahan, kami bersama warga bisa menghalau kawanan gajah yang masih bertahan di Keumala Dalam," ujarnya. (naz)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved