Breaking News:

Opini

Dagang IG Kopi Gayo    

Pada saat berbelanja produk yang umumnya berbasis pertanian di toko atau pasar swalayan tertentu di luar negeri atau juga

Dagang IG Kopi Gayo     
IST
Said Fauzan Baabud, Praktisi Bidang Pembangunan Berkelanjutan

Oleh Said Fauzan Baabud, Praktisi Bidang Pembangunan Berkelanjutan  

Pada saat berbelanja produk yang umumnya berbasis pertanian di toko atau pasar swalayan tertentu di luar negeri atau juga di dalam negeri, kita mungkin menemukan ada produk yang melekatkan label geografis dimana produk itu berasal. Produk khusus tersebut umumnya telah lulus proses pendafataran dan verifikasi serta memiliki legalitas untuk perlindungan geografisnya atau lazim disebut dengan Indikasi Geografis (IG) atau Geographical Indications (GI).

Di luar negeri, produk seperti minyak zaitun Kalamata dari Yunani, kain sutra Thailand dari Korat, jam tangan Swiss adalah beberapa contoh produk IG. Konsumen cerdas dan loyal tidak enggan membayar lebih untuk mendapatkan produk otentik tersebut. Di Eropa sebagai contoh, ada 3.409  produk IG yang telah terdafar di benua biru itu pada akhir 2018.

Tulisan ini tidak akan menyelami aspek legal dari IG, namun mencoba mencermati faedah masa depan yang bisa dimanfaatkan dari kacamata perdagangan dan ekonomi khusus produk IG kopi arabika Gayo dari Provinsi Aceh. 

Dikutip dari Kemenkumham Indonesia, definisi Indikasi Geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis, termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan. Di Indonesia sendiri, produk IG yang telah resmi terdaftar sebanyak 67 produk dan tiga di antaranya dari Provinsi Aceh, yakni Kopi Arabika Gayo, Minyak Nilam Aceh, dan Jeruk Keprok Gayo-Aceh.

Kopi arabika Gayo merupakan komoditas pertama dari Provinsi Aceh yang sukses terdaftar pada tahun 2009 di Ditjen Kekayaan Intelektual Kemenkumham yang kronologis sejarahnya dimulai pada tahun 2005 dengan pembentukan Forum Kopi Aceh dan proyek Aceh Partnership for Economic Development (APED) kolaborasi antara Bappeda Provinsi Aceh dan lembaga PBB United Nations Development Programme (UNDP).

Proyek ini juga berjaya membidani lahirnya Yayasan Masyarakat Perlindungan Kopi Gayo (MPKG) sekaligus berstatus sebagai pemilik IG kopi arabika Gayo. Tidak berhenti di tingkat nasional, jerih payah MPKG mendaftarkan IG di tingkat internasional juga membuahkan hasil. Difasilitasi oleh proyek Trade Cooperation Facility (TCF) Uni Eropa, perlindungan IG kopi arabika Gayo telah berhasil terdaftar di Komisi Uni Eropa pada 15 Mei 2017 dan juga tercatat sebagai produk IG pertama asal Indonesia.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimama status IG kopi arabika Gayo dapat memberi nilai tambah pada kenaikan penjualan dan ekspor, peningkatan ekonomi daerah utamanya bertambahnya pendapatan lebih dari 75.000 petani kopi di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Dengan modal dua pendaftaran IG di tingkat nasional dan internasional, kopi arabika Gayo sudah memegang aset promosi yang valid untuk mengakses pasar negara-negara yang menghargai dan memiliki daya beli produk-produk IG.

Studi AND International tahun 2019 menunjukkan bahwa penjualan produk makanan dan minuman bersertifikat IG dari 28 Uni Eropa di tahun 2017 mencapai 74,76 miliar Euro. Dari jumlah tersebut, sejumlah 15,5% juga diekspor ke AS, China dan Singapore.

Merujuk pada definisi produk IG di atas, kualitas menjadi faktor penting yang melekat pada barang/produk IG. Jika petani dan produsen menerapkan praktek pertanian yang baik dan proses pascapanen yang konsisten, kopi arabika Gayo umumnya mampu mencapai nilai kualitas citarasa antara 80 sampai dengan 84.99 yang masuk kategori kualitas Sangat Bagus-Spesialti sesuai rujukan Specialty Coffee Association (SCA).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved