Breaking News:

Dewan Undang MAPESA Bahas Situs Gampong Pande  

Ketua dan Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, dan Usman, bersama Komisi IV mengada­kan pertemuan dengan Mas­yarakat

FOTO HUMAS DPRK BANDA ACEH
Ketua DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar didampingi Wakil Ketua, Usman dan anggota Komisi IV mengadakan pertemuan dengan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) untuk membahas keberadaan situs Gampong Pande di Gedung DPRK setempat, Selasa (25/8/2020). 

BANDA ACEH -Ketua dan Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, dan Usman, bersama Komisi IV mengada­kan pertemuan dengan Mas­yarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) untuk membahas keberadaan situs Gampong Pande yang ada di Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh, Selasa (25/8/2020).

Dalam pertemuan yang berlangsung di Gedung DPRK, Farid Nyak Umar saat memi­mpin rapat menyampaikan apresiasi kepada MAPESA yang selama ini konsen menyelamat­kan situs-situs bersejarah yang ada di Aceh.

Karena itu pihaknya me­ngundang MAPESA untuk mendapatkan masukan dan saran yang akan dijadikan se­bagai kajian dan tindak lanjut oleh legislatif. “Apalagi saat ini dewan kota sudah menginisia­si Rancangan Qanun tentang Cagar Budaya dan Pelestarian Situs Sejarah di Kota Banda Aceh,” katanya.

Sementara Wakil Ketua DPRK, Usman mengatakan, pihaknya berterima kasih atas berbagai masukan dan infor­masi yang telah disampaikan oleh MAPESA. Dalam hal ini, dewan akan membicarakan lebih lanjut dengan Pemerintah Kota Banda Aceh agar berbagai peninggalan bersejarah di ibu kota Provinsi Aceh ini dapat diselamatkan.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi IV, Tgk Januar Hasan menga­takan, pada prinsipnya situs sejarah di Gampong Pande dan situs lain yang ada di Kota Banda Aceh perlu perhatian dari pemerintah. Karena itu perlu regulasi atau qanun untuk men­gidentifikasi, pemetaan, dan sur­vei bersama terhadap keberadaan situs sejarah di Banda Aceh supaya tidak hilang.

Ketua MAPESA, Mizuar Mah­di mengatakan, tujuan pertemuan dengan legislatif Kota Banda Aceh itu ingin melihat fungsi dan tujuan DPRK dalam membawa arah dan citra Banda Aceh. Jika Banda Aceh ini dibawa kembali ke semangat Islam, kata Mizuar, sebagaimana kota lama dalam sejarah dulu, maka dalam hal ini MAPESA akan melakukan tindak lanjut dan seri­us terhadap situs-situs sejarah di Kota Banda Aceh seperti penan­ganan, penyelamatan, pelestarian, hingga penelitian.

“Tujuannya memang untuk menggali sedapat mungkin ilmu pengetahuan yang ditinggalkan tersebut untuk para generasi penerus,” katanya.

Terkait Rancangan Qanun Pelestarian Sejarah dan Cagar Budaya yang sedang dibahas oleh DPRK Banda Aceh saat ini, Mizuar berharap dalam qanun tersebut harus memiliki kriteria dan citra dari Kota Banda Aceh.

“Qanun yang dilahirkan untuk menyelamatkan situs sejarah harus bernapaskan dari citra Kota Banda Aceh itu sendiri, artinya harus ada ka­jian-kajian mendalam tentang Kota Banda Aceh,” ujarnya.

Hadir dalam pertemuan tersebut, Pembina MAPESA, Abdul Haris, Pembina sekaligus Tim Peneliti MAPESA, Ustaz Taqiyuddin Muhammad, Wakil Ketua MAPESA sekaligus Di­rektur Pedir Museum, Masykur Syarifuddin, Sekretaris MAPE­SA, Rahmat Riski, dan Humas MAPESA Yusri Ramli.(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved