Kopi Gayo Tertimbun di Gudang Akibat Pandemi Covid-19
Kondisi dunia yang belum sepenuhnya pulih dari pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak terhadap kesehatan manusia
REDELONG - Kondisi dunia yang belum sepenuhnya pulih dari pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak terhadap kesehatan manusia, namun juga berpengaruh besar terhadap ekonomi dunia. Bagi masyarakat Gayo, salah satu dampak langsung adalah tak kunjung dibukanya kran untuk ekspor kopi arabika. Akibatnya, kini kopi tertumpuk di gudang-gudang pembeli di Gayo.
Meskipun sempat ada pengiriman, namun hanya dalam jumlah kecil dari biasanya.
Sedangkan kopi arabika Gayo menjadi primadona di belahan dunia dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah warga asing setiap tahunnya hadir ke daerah Gayo untuk berwisata ke kebun sekaligus menjajaki pembelian kopi. Namun, akibat pandemi Covid-19, sejumlah negara seperti Amerika dan Eropa menunda pembelian hingga ekonomi mereka pulih seperti sediakala. Kondisi tersebut berdampak besar terhadap petani kopi di Dataran Tinggi Gayo (DTG) yang selama ini menggantungkan pendapatan ekonomi pada sektor kopi.
Untuk mengantisipasi hal itu, Bupati Bener Meriah Abuya Tgk H Sarkawi mengajak masyarakat di Bener Meriah untuk berhemat dalam pengeluaran kebutuhan sehari-hari. Disebutkan, dengan kondisi seperti ini petani bisa mengolah sendiri kopi hasil panennya untuk tidak dijual dalam bentuk biji merah, tapi diolah menjadi biji kopi yang bisa disimpan sampai harga stabil kembali.
Sembari menunggu ekonomi dunia pulih, Bupati mengharapkan masyarakat agar bisa menggunakan keuangannya dengan baik, tepat, dan tidak terlalu boros agar bisa menghadapi situasi ke depan.
“Kita tidak bisa memprediksi sampai kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir, namun gejolak ekonomi mulai sangat terasa di masyarakat, terutama di Bener Meriah yang menggantungkan pendapatannya dari hasil penjualan kopi,” ujar Bupati Sarkawi kepada Serambi, Selasa (25/8/2020).
Ia menambahkan, saat ini puluhan ton kopi petani hasil panen periode Maret-April 2020 juga masih menumpuk di gudang-gudang penampung atau koperasi. Belum lagi dalam waktu dekat akan datang panen raya yang diperkirakan terjadi pada pertengahan September-November 2020 dengan kalkulasi mencapai 90 ton.
Menurutnya, kopi di Bener Meriah sepenuhnya dimiliki oleh rakyat, maka dampak ekonomi akan terasa ke rakyat. “Kami berharap sebagaimana disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo sebelumnya bahwa akan ada bantuan yang mengupayakan membeli kopi Gayo senilai Rp 1 triliun agar bisa direalisasikan,” harap Bupati. Saat ini pihaknya dengan dinas terkait sedang menyusun konsep sebagai strategi pemecahan masalah.
Sementara itu, Irwan Kadari (38), salah seorang penampung dan pengekspor kopi arabika Gayo di Bener Meriah menyampaikan, dampak tidak dibelinya kopi selama pandemi Covid-19 ini membuat dirinya kehabisan modal. Saat ini sudah 2 ton lebih kopi berkualitas ekspor menumpuk.
Disebutkan, 2 ton lebih kopi yang dibelinya dari 54 kelompok petani organik binaannya yang bekerja sama dengan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) masih menumpuk di gudang akibat tidak dibeli oleh buyer.
“Dalam waktu dekat akan panen raya lagi, sedangkan kontrak dengan buyer belum ada. Kita tidak tahu sampai kapan kopi terjual,” ujarnya. Menurutnya, kalau kondisi ini belum normal dan kontrak dengan buyer tidak ada, dirinya akan menyetop pembelian kopi sementara waktu. Ia berharap pemerintah pusat, provinsi, dan daerah bisa berpartisipasi membeli agar petani tidak merugi.(bud)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/seorang-penampung-dan-pengekspor-kopi-arabika-gayo-di-bener-meriahmemperlihatkan.jpg)