Pemerintah Diminta Sediakan Rp 500 M, Untuk Tampung Kopi Petani
Eksportir Kopi Gayo, Burhanuddin, meminta pemerintah menyediakan dana talangan sebesar Rp 500 miliar sebagai solusi
REDELONG - Eksportir Kopi Gayo, Burhanuddin, meminta pemerintah menyediakan dana talangan sebesar Rp 500 miliar sebagai solusi untuk membeli kopi Gayo yang sudah menumpuk hingga puluhan ton. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah, mengingat panen raya diperkirakan berlangsung pertengahan September 2020.
Burhanuddin berharap pemerintah dapat bergerak cepat, apalagi saat ini masyarakat mulai menghadapi kesulitan akibat murahnya harga beli kopi Gayo. “Pemerintah daerah bisa mengusulkan ke provinsi hingga ke pusat, apalagi sebelumnya Pak Jokowi pernah berjanji kepada Plt Gubernur akan membeli Kopi Gayo senilai Rp 1 triliun,” ujarnya, Kamis (27/8/2020).
Dengan dana talangan itu, tambah Burhanuddin, harga beli kopi ditingkat petani bisa distabilkan. Sekarang ini harga kopi petani Rp 40 ribu/kg. Harga ini sangat jauh dari harga normal yaitu Rp 55 ribu/kg. Menurutnya, pemerintah daerah bisa mencari skema pembelian kopi dengan dana talangan supaya harga bisa stabil dan petani juga tidak dirugikan.
“Dengan dana talangan itu pemerintah bisa menunjuk eksportir atau koperasi yang bisa membeli kopi petani di Bener Meriah, sehingga harga bisa disamakan,” jelasnya.
Dikatakan, dana talangan merupakan solusi untuk memecahkan persoalan harga kopi Gayo. Sebab, setiap panen raya, harga kopi selalu anjlok. Jika ada dana talangan, katanya, pemerintah bisa membeli dengan harga Rp 55 ribu/kg dan harga beli dari petani untuk kopi gelondongan merah bisa Rp 10.000-Rp 11.000 per bambu. “Hal ini tentu sangat membantu petani. Inilah saatnya pemerintah hadir untuk membantu petani kopi,” ungkapnya.
Dijelaskan Burhanuddin, harga beli kopi diperkirakan akan semakin turun sebab, selain stok panen kopi sebelumnya yang masih banyak tersisa masa panen raya akan segera tiba. “Saat ini di gudang saya ada 7 ton kopi dengan modal Rp 50 ribu/kg yang sudah siap ekspor. Belum lagi di gudang-gudang lain, dan petani sendiri juga menyimpannya karena harga jual sekarang ini sangat murah,” bebernya.
Pihaknya memperkirakan, stok kopi panen sebelumnya di Bener Meriah masih tersisa 600 ton. Diperkirakan jumlah itu akan bertambah 1.000 ton pada panen raya September mendatang. “Prediksi saya panen raya ini harga kopi akan turun karena kran ekspor juga belum dibuka akibat pandemi Covid-19 dan kemarin saya hanya bisa mengirim kopi Gayo sebanyak 5 ton ke Taiwan,” sebutnya.
Sementara itu, Windi (33) seorang pengepul kopi menyampaikan, hanya mampu membeli kopi Rp 5.000/bambu. Sebab, selain harga dasar jual kopi yang murah Rp 40 ribu/kg, kualitas kopi panen perdana ini tidak terlalu bagus. “Harga kopi saat ini berada di level yang paling rendah sehingga membuat masyarakat menjerit,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah segera mengambil langkah-langkah yang kongkrit agar harga beli kopi ditingkat petani bisa stabil.(bud)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/seorang-penampung-dan-pengekspor-kopi-arabika-gayo-di-bener-meriahmemperlihatkan.jpg)