Breaking News:

Opini

Merdeka dari Covid  

Bulan Agustus merupakan bulan istimewa bangsa Indonesia. Setiap memasukinya ada gairah perjuangan mengisi relung jiwa

Merdeka dari Covid   
IST
Humaira, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah, Dokter Rumah Sakit Jiwa Aceh

Humaira

ASN pada Rumah Sakit Jiwa Aceh, Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah

Bulan Agustus merupakan bulan istimewa bangsa Indonesia. Setiap memasukinya ada gairah perjuangan mengisi relung jiwa setiap warga negara. Pahlawan-pahlawan bangsa berhasil memproklamirkan kemerdekaan Indonesia menjadi bangsa yang bebas dan diakui dunia. Tetapi tahun ini terasa berbeda untuk Indonesia bahkan dunia, semua merasa kurang merdeka akibat ketakutan dan kekhawatiran akan penularan Covid- 19.

Pembahasan Covid-19 terus menjadi trending topic di semua kalangan. Kasus positif akibat virus ini semakin meningkat, begitu pula angka kematiannya. Grafik statistik Indonesia terus menuju puncak, belum terlihat tanda-tanda akan melandai dan turun. Aceh juga memperlihatkan hal yang sama. Saat ini angkanya melampaui seribu kasus.

Virus yang tidak kasat mata tersebut telah memporak-porandakan berbagai sendi kehidupan manusia, terutama sosio-ekonomi. Beberapa negara sudah mengumumkan resesi ekonomi. Sektor kesehatan terutama rumah sakit dan tenaga kesehatan mulai kewalahan menghadapi penambahan kasus secara signifikan setiap hari.

Di tengah kondisi penularan wabah yang berlangsung secara cepat ini, pemerintah dan tenaga kesehatan selalu mengingatkan masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat agar daya tahan tubuh tetap terjaga. Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kesehatan diri sendiri dan keluarga dengan terus berperilaku hidup bersih dan sehat dengan menerapkan prinsip Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat).

Langkah ini dianggap murah dan efektif. Adapun caranya dengan melakukan beberapa kegiatan seperti cuci tangan dengan sabun atau bahan berbasis alkohol, konsumsi makan bergizi seimbang, rajin berolahraga, dan istirahat yang cukup. Hal lain yang menjadi fokus adalah memakai masker dan jaga jarak interaksi antar orang.

Dari sisi penyebaran Covid-19, transmisi lokal sudah berlangsung di Aceh. Hal ini membuat orang-orang yang terinfeksi susah dikenali. Bahkan kita semua harus memposisikan diri sebagai orang tanpa gejala yang berpotensi menularkan kepada orang lain. Pemakaian masker saat ini menjadi tameng sekaligus kewajiban bagi setiap orang. Masker dimaksudkan untuk melindungi diri, tetapi bisa juga sebagai bentuk empati dan peduli atas keselamatan orang lain.

Dengan empati kita berusaha memahami dan mengerti setiap peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Empati tidak hanya sekadar rasa tapi perlu diwujudkan dengan perbuatan. Bukankah Agama Islam sebagai Rahmatan Lil'alamiin juga mengajarkan empati dan peduli? Mengasah sifat empati terhadap lingkungan sekitar adalah suatu kemestian bagi pribadi Muslim dan wujud kasih sayang antarsesama. Rasulullah pernah bersabda yang artinya "Orang-orang yang penyayang maka mereka akan disayangi Allah. Barangsiapa yang menyayangi yang di bumi, maka akan disayangi penghuni langit.'' (HR Abu Dawud dan at-Turmidzi).

Untuk mengendalikan laju penyebaran virus, Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan masyarakat untuk menghindari tiga Cs (three Cs the) yaitu menghindari tempat keramaian (crowded places), menghindari berkontak atau berbicara dalam jarak dekat (close-contact settings), serta menghindari ruang terbatas dan tertutup dengan ventilasi udara yang buruk (confined and enclosed spaces). Sasaran rekomendasi tersebut adalah perkantoran, sekolah maupun tempat keramaian lainnya sehingga perlu perhatian akan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved