Breaking News:

Opini

Perempuan Itu  Lambang Persatuan

SAAT saya masih duduk di sekolah menengah pertama 18 tahun silam, guru saya berkata,"Ayah itu lambang kehormatan

Perempuan Itu  Lambang Persatuan
IST
M ANZAIKHAN, S.Fil.I., M.Ag., Direktur Pematik (Pusat Entrepreneur) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Banda Aceh

M. ANZAIKHAN, S.Fil.I., M.Ag., Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry dan Founder Komunitas Menulis Pematik, melaporkan dari Banda Aceh

SAAT saya masih duduk di sekolah menengah pertama 18 tahun silam, guru saya berkata,"Ayah itu lambang kehormatan, sedangkan ibu lambang persatuan. Bila ayah lebih dulu berpulang, maka hilang kebanggaan, bila ibu lebih dulu berpulang maka terpecah kasih sayang."

Awalnya saya masih belum bisa memahami makna dari pernyataan guru saya tersebut. Mungkin karena saya terlahir dari keluarga yang utuh sehingga tidak merasakan bagaimana membangun kehormatan tanpa ayah dan minimnya kasih sayang tanpa ibu. Setelah melakukan penelitian dosen yang berjudul "Ketahanan Keluarga Pascacerai" barulah saya mengerti arti petuah guru di atas. Itu pun setelah usia ini hampir berkepala tiga dan saya sudah menjadi seorang ayah.

Dalam penelitian ini, saya dan anggota mengambil sampel dari sepuluh wilayah berbeda di Aceh. Di setiap wilayah terdiri atas tiga informan. Setiap informan merupakan oknum yang mengalami perpecahan dalam rumah tangga atau minimal anggota familinya ada yang broken home.

Selanjutnya, agar lebih objektif kami pilih ketiga informan dari oknum yang berbeda status dalam keluarga, seperti ayah, ibu, dan seorang anak. Verifikasi data narasumber juga senantiasa melihat ketiga elemen tersebut, sebab masing-masing oknum dalam keluarga tentu memiliki cara pandang yang berbeda ketika mengalami broken home.

Setelah mengkaji berbagai fenomena sosial, baik secara langsung maupun yang saya peroleh dari bahan bacaan, akhirnya penelitian kami menyimpulkan bahwa, “Bila anak-anak kehilangan ayah dan tinggal bersama ibunya, baik itu karena meninggal dunia atau bercerai, maka mereka masih bersatu, walau secara ekonomi saling bahu-membahu dalam bertahan hidup. Sebaliknya, ketika anak-anak ditinggal ibunya, hampir seluruh dari mereka akan terpecah belah (terpisah) meskipun sang ayah memiliki kemampuan finansial lebih. Pada kasus yang lain, ketika sebuah keluarga hanya dipimpin oleh perempuan (kakak perempuan tertua) ketahanan keluarga juga lebih utuh dibandingkan bila dipimpin oleh lelaki (abang-abangnya).

Meskipun dalam Islam yang bertanggung jawab dalam menafkahi keluarga dan menjaganya adalah saudara lelaki, tapi dalam kejadian di lapangan (khususnya dalam penelitian ini) tersaji data bahwa perempuan lebih menjadi sosok ketahanan keluarga dengan segala keterbatasan yang ada. Jadi, secara presentase, yang membuat suatu keluarga utuh itu bukanlah aspek ekonomi, lebih dari itu adalah peran perempuan selaku orang tua ataupun pengganti orang tua.

Alasan yang mengakibatkan terjadi demikian dipengaruhi oleh berbagai aspek, namun temuan di lapangan menunjukkan bahwa itu dipengaruhi oleh karakter lelaki yang cenderung menikah lagi setelah bercerai dengan istri. Temuan kami ini senada dengan referensi penelitian lain yang menyimpulkan bahwa, “Istri lebih memilih pisah dengan suami daripada berpisah dengan anak, sedangkan suami lebih memilih bercerai dengan istri karena ia bisa menikah lagi.”

Begitu juga dengan pihak abang dalam keluarga yang sudah tak ada ayah dan ibunya. Keutuhan keluarga akan terganggu karena si abang lebih memutuskan untuk menikah dini daripada menunggu adik-adik (yang seharusnya menjadi tanggungannya) menjadi dewasa atau mandiri. Berbeda dengan seorang kakak (perempuan), ia lebih memilih tidak menikah dulu agar adik-adiknya tetap menyatu. Kalaupun sang kakak dilamar, biasanya ia akan menjadikan adik-adiknya sebagai syarat pernikahan. Maksudnya, pihak lelaki yang ingin melamar harus siap menerima dan menanggung untuk menghidupi adik-adiknya yang yatim.

Begitu juga soal pembagian warisan. Jika seorang ayah ditinggal istri dalam keadaan memiliki rumah dan harta, ia lebih memilih keluarga yang baru (menikah lagi) daripada tetap bersama dengan anak. Kalaupun ia adil, maka ia akan membagikan porsi warisan itu sesuai kaidah fikih.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved