Breaking News:

Jurnalisme Warga

Semangat Mandiri Siswa Pulau Breueh

PANDEMI Covid-19 membuat saya dan teman-teman mengganti istilah KKN (Kuliah Kerja Nyata) menjadi KKM (Kuliah Kerja Maya)

Semangat Mandiri Siswa Pulau Breueh
IST
NABILA ULAMY ALYA, Mahasiswi Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada, melaporkan dari Yogyakarta

OLEH NABILA ULAMY ALYA, Mahasiswi Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada, melaporkan dari Yogyakarta

PANDEMI Covid-19 membuat saya dan teman-teman mengganti istilah KKN (Kuliah Kerja Nyata) menjadi KKM (Kuliah Kerja Maya). Sebanyak 27 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang bertugas di Pulau Breueh, Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar, harus melakukan observasi secara tidak langsung: menjelajahi internet dan mewawancarai warga lewat telepon ataupun WhatsApp.

Mencari pemberitaan internet mengenai Pulau Breueh bukanlah hal yang mudah. Saya lebih banyak menemukan judul-judul yang mengangkat keindahan alam Pulau Breueh untuk menarik wisatawan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tema tersebut, tetapi kita melupakan sisi lain yang lebih penting untuk dibicarakan: bagaimana kehidupan masyarakat di sana?

Publikasi ilmiah yang mengangkat Pulau Breueh pun kebanyakan berasal dari para akademisi sains yang membicarakan aspek-aspek diversitas alam dibandingkan dengan studi-studi yang membahas aspek sosial, budaya, dan pendidikan. Pemberitaan tentang bidang pendidikan di Pulau Breueh sebetulnya lumayan banyak, walaupun sifatnya terkadang negatif. Saya mencoba mencari kontak beberapa guru SD, SMP, dan SMA, siswa, juga mahasiswa untuk mendengarkan cerita mereka terkait pendidikan di sana. Beruntung sekali, masyarakat di Pulau Breueh sangat ramah! Wawancara dengan para guru dan siswa berjalan dengan sangat lancar. Bahkan oleh Bu Rusmidar, Guru SDN Ulee Paya, saya ditawari untuk menginap di rumahnya jika menyeberang ke Pulau Breueh. “Nanti kita bakar-bakar ikan,” katanya ramah. Wabah ini membuat saya hanya mampu mengkhayalkannya saja.

Dalam bidang pendidikan, cerita dari narasumber memperlihatkan beberapa hal berikut. Pertama, untuk prasarana dan sarana sekolah, semua guru mengatakan bahwa saat ini keadaannya sudah lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Memang masih ada beberapa catatan seperti perbaikan ruang dan penambahan ruang untuk laboratorium, musala, kantin, dan WC. Kedua, persoalan guru. Ada tiga kelompok guru di Pulau Breueh: 1) guru asal Banda Aceh,  2) guru asal Pulau Breueh, dan 3) guru garis depan. Kelompok pertama adalah mayoritas guru di Pulau Breueh. Kebanyakan dari mereka tidak menetap di Pulau Breueh selama satu semester penuh. Masalah utama guru asal Banda Aceh ini adalah transportasi dan keberadaan keluarga di Banda Aceh, sehingga Cek Gu ini harus bolak-balik Banda Aceh-Pulau Breueh. Beberapa sekolah menetapkan sistem shift sehingga setiap guru tidak perlu hadir di sekolah setiap hari. Di SD Negeri Ulee Paya yang memiliki banyak murid, tidak ada aturan shift sehingga tiga minggu dalam sebulan pahlawan pendidikan ini harus menetap di Breueh (Akibatnya, mereka harus menyiapkan breueh/beras/bekal, asal-usul nama Pulau Breueh). Cerita dari seorang mahasiswa, Nura, yang sejak SD hingga SMA di Pulau Breueh, kendala utama selama ia bersekolah adalah kurangnya guru yang masuk kelas. “Terkadang dalam sehari ada 3-4 mapel, palingan yang masuk cuma 1-2. Itu kalau hari Kamis-Sabtu. Sedangkan Senin-Rabu-nya alhamdulillah lumayan full,” ujar Nura.

Kategori kedua adalah guru asal Pulau Breueh yang mayoritas adalah guru honor. Mereka adalah asoe lhok, sehingga ombak bukanlah hambatan. Harapan mereka, bisa diangkat menjadi PNS. Kategori terakhir adalah Guru Garis Depan (GGD) rekrutan pusat. Program Kemendikbud ini menyeleksi guru yang berkomitmen untuk menetap jangka panjang di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Karena itu, para guru GGD ini menetap di Pulau Breueh. Nura mengakui bahwa sejak datangnya guru GGD, masalah guru yang jarang datang menjadi lebih teratasi.

Permasalahan ketiga adalah tentang minat belajar dan akses siswa ke sekolah. Cerita dari para guru menunjukkan sebuah pola: di tingkat SD, minat belajar siswa masih tinggi. Naik ke SMP, sudah mulai menurun. Di SMA, pikiran siswa lebih berorientasi uang daripada belajar. Akibatnya, bolos kerap terjadi. Uniknya, menurut guru, “bolos” berbeda dengan “tidak masuk sekolah”. Bolos berkonotasi negatif, dimaknai sebagai siswa yang tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas. Sedangkan bila siswa ikut bekerja bersama orang tua di jam-jam sekolah, itu tidak masuk kategori bolos, hanya “tidak masuk sekolah”.

Di Pulau Breueh tidak tersedia angkutan umum. Siswa berangkat ke sekolah dengan jalan kaki, naik sepeda, diantar orang tua, nebeng teman, atau naik motor sendiri. Untuk tingkat SD masih bisa dijangkau dengan jalan kaki karena jumlah sekolah banyak. Untuk tingkat selanjutnya, terutama SMA yang hanya ada satu di Pulau Breueh, tentu semakin banyak siswa yang berada jauh dari sekolah. Pertemanan akhirnya menjadi salah satu penentu kehadiran di sekolah, tergantung siapa yang memberi tebengan. Persoalan ekonomi juga jadi hambatan. Bu Rahmi, guru SMP Negeri 3 Pulo Aceh, bercerita tahun lalu ada dua muridnya yang tidak masuk sekolah lagi karena tersendat dana. Untuk kasus seperti ini, ada dua pilihan: bekerja dan menikah. “Kerja, kakak, cewek-ceweknya kalau ada yang lamar, kalau mau, ya nikah. Makanya nanti Kakak jangan heran kalau liat perempuan di sini masih muda-muda tapi udah punya anak,” ujar Nura.

Terakhir adalah hubungan antara sekolah dengan masyarakat setempat. Dari cerita sebelumnya--terutama mengenai ketidakhadiran siswa karena ikut bekerja bersama orang tua--sekilas kita bisa melihat bagaimana hubungan antara sekolah dengan masyarakat setempat. Selain itu, dua dari empat guru pun memang menyampaikan masalah adanya perbedaan pandangan antara orang tua dengan sekolah mengenai pendidikan anak. Misalnya ketika mengajak anaknya ikut lomba di luar Pulau Breueh, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (khususnya ke perguruan tinggi), dan pilihan antara bekerja dengan sekolah. Walaupun demikian, secara umum pandangan masyarakat di Pulau Breueh terhadap pendidikan sudah jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Sudah ada anak-anak yang melanjutkan pendidikan ke luar pulau bahkan sejak tamat SMP. Bu Lia, Guru SMAN 2 Pulo Aceh, mengatakan bahwa kontribusi anak-anak muda Pulau Breueh yang merantau ini sudah mulai terasa. “Udah banyak juga anak-anak pulau itu yang bisa bangun daerahnya… Kayak di Pulo itu udah banyak travel-travel, ngadain jalan-jalan itu dari orang Pulo sendiri.” Cerita dari dua siswa asal Pulau Breueh pun menunjukkan bahwa orang tua mereka mendukung keinginan anaknya, walaupun ada pula yang harus tersendat karena faktor ekonomi.

Tampaknya sudah banyak perubahan yang terjadi di pulau memesona itu. Anak-anak muda di sana mempunyai modal utama semangat kemandirian yang tinggi. Banyak anak usia SMA yang menjadi tulang punggung keluarga. Gambaran pendidikan di Pulau Breueh secara utuh masih memerlukan observasi lanjutan seperti melihat langsung keadaan sekolah dan kurikulum serta strukturnya. Jika hal itu bisa dilakukan, insyaallah taraf hidup masyarakat akan lebih cepat berubah. Harapan kita, Pulau Breueh elok panoramanya, mandiri masyarakatnya, dan kaya hasil alamnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved