Breaking News:

Jurnalisme Warga

Melestarikan Tradisi Asyura

Baru saja kita memasuki Tahun Baru Islam 1442 Hijriah. Setiap kali memasuki Muharam, ada hari istimewa yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam

Editor: bakri
Melestarikan Tradisi Asyura
IST
NAURATUL ISLAMI, Santriwati Dayah Putri Muslimat, alumni Pelatihan Jurnalistik dan Magang 2020 Dinas Pendidikan Dayah Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH NAURATUL ISLAMI, Santriwati Dayah Putri Muslimat, alumni Pelatihan Jurnalistik dan Magang 2020 Dinas Pendidikan Dayah Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

Baru saja kita memasuki Tahun Baru Islam 1442 Hijriah. Setiap kali memasuki Muharam, ada hari istimewa yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia. Demikian pula dengan santriwati tempat saya menetap, yaitu Dayah Putri Muslimat, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Sebagaimana yang sudah populer, kita menyebut hari kesepuluh Muharam tersebut dengan hari Asyura.

Alasan hari Asyura menjadi salah satu hari besar dalam Islam adalah karena banyaknya kejadian besar yang terjadi pada hari tersebut. Di antaranya yang disebutkan dalam kitab Jam’ul Fawaid adalah hari lahirnya Nabi Adam, ditenggelamkannya Fir’aun ke dalam laut, hari diterimanya tobat Nabi Adam, pengampunan dosa Nabi Daud, dikembalikannya Kerajaan Nabi Sulaiman, dan surutnya banjir bandang pada masa Nabi Nuh.

Menjelang Asyura, kami mulai mempersiapkan perayaan untuk Asyura. Setelah isya pada Kamis malam (27/8), kami berkumpul di aula untuk mendengarkan arahan tentang amalan yang akan dikerjakan pada Asyura nanti yang disampaikan langsung oleh ketua umum. Dalam arahannya ia sampaikan bahwa hal utama yang perlu dilakukan adalah puasa. Namun, harus didahului dengan puasa pada hari Tasu’a, yaitu satu hari sebelum Asyura. Hal tersebut bertujuan untuk membedakan antara umat Islam dengan Yahudi dan Nasrani. Puasa Ayura tersebut sebanding dengan puasa selama setahun.

Kemudian ketua umum menambahkan, pada hari Asyura tersebut, air zamzam akan dialirkan ke setiap sumur di muka bumi, sehingga kita dianjurkan untuk mandi dengan tujuan mengambil berkat agar sembuh dari berbagai penyakit. 

Selain itu, ia juga menjelaskan secara rinci tentang tata cara shalat sunat Asyura kepada santriwati, terutama untuk mereka yang masih baru. Shalat ini memiliki kelebihan diampunkan dosa 50 tahun ke belakang dan 50 tahun ke depan.

Selain itu, tradisi turun-temurun yang selalu dinantikan yaitu memasak bubur Asyura. Menurut satu pendapat, tradisi bubur tersebut berasal dari zaman Nabi Nuh, di mana pada saat itu Nabi Nuh menyuruh pengikutnya yang selamat dari banjir bandang mengumpulkan sisa-sisa makanan yang masih ada. Kemudian, sisa makanan tersebut dimasak menjadi bubur.

Seluruh dewan guru beserta santriwati ikut berpartisipasi. Semua sudah mempunyai tugas masing-masing. Perlengkapan untuk memasak bubur sudah disiapkan sejak Jumat pagi (28/8). Sedangkan pada Jumat malam, santriwati duduk bersama teman sekelasnya untuk mengupas kacang yang akan dimasak keesokan harinya. Mereka terlihat begitu bersemangat. Terlebih lagi santriwati kelas 1. Maklum, ini pengalaman pertama mereka dalam menyambut Asyura di  dayah.

Sabtu pagi (29/8),  terlihat sekelompok santriwati mengukur kelapa dengan cekatan. Di balai yang berdekatan dengan mereka terlihat juga santriwati yang bertugas memerah santan. Di sudut lain, dewan guru mulai bekerja merebus kacang. Sedangkan santriwati yang tak bertugas, melakukan amalan sunat lainnya, seperti membaca doa hari Asyura, memotong  kuku, mandi, dan shalat.

Sekitaran pukul 09.00 WIB santriwati baru berkumpul  di bawah rumah Ummi untuk melakukan tradisi “rah ulee” dengan air mawar. Ada salah satu santriwati baru yang belum mengerti dengan tradisi ini. Dia berpikir bahwa air mawar yang digunakan adalah air mawar yang biasa digunakan sebagai pembersih muka. Padahal, air yang digunakan adalah air putih biasa yang sudah ditabur bunga mawar. Sedangkan santriwati lama mereka melakukan tradisi “rah ulee” tersebut di dekat tempat mereka bertugas.

Terlihat juga mereka membawa tasbih ke mana pun pergi. Untaian manik tasbih itu mereka gunakan untuk menghitung bacaan Al-Ikhlas yang juga merupakan amalan yang sunah dilakukan pada hari Asyura yang memiliki kelebihan akan dipandang dengan pandang kasih oleh Allah.

Setelah membasuh kepala dengan air mawar tersebut, dilanjutkan dengan pemakaian celak putih. Celak putih tersebut dipakai agar terhindar dari penyakit mata. Celak tersebut biasa dipakaikan langsung oleh dewan guru. Terlihat berbagai macam ekspresi menahan mata yang pedih karena memakai celak tersebut. Namun, hal tersebut merupakan hal yang menyenangkan bagi kami. Hal  lain yang dilakukan setelah memakai celak adalah menyantuni anak yatim dengan mengusap-usap rambutnya, memuliakan orang fakir miskin, dan mengunjungi orang sakit.

 Pada perayaan Asyura kami biasanya menyempatkan diri untuk mengunjungi pimpinan dayah. Kami biasa memanggil dengan sebutan Ummi. Namun, perayaan tahun ini tidak seperti biasanya. Ummi telah kembali ke sisi-Nya. Namun, hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk kami menziarahinya. Kami menziarahi maqbarahnya yang berada di pemakaman keluarga yang berlokasi di dalam pekarangan kompleks dayah juga.

Walaupun dibakar terik mentari, para dewan guru dan santriwati yang bertugas memasak bubur tanpa letih tetap melaksanakan tugasnya tanpa pamrih. Mereka masih bersemangat dan tak ada yang terlihat mengeluh. Semua tetap bersenda gurau untuk menghilangkan rasa jenuh dan lelah.

Setelah bubur diangkat, santriwati  yang bertugas untuk membagikan bubur datang. Mereka menggantikan tugas para anggota masak yang sudah menyelesaikan tugasnya. Mereka menyiapkan bubur di beberapa stan agar tidak terjadi keramaian saat pengambilan bubur.

Sekitar pukul 15.00 WIB bubur siap dibagi kepada santriwati murni terlebih dahulu. Sedangkan santriwati yang berstatus siswi di SMA S  Muslimat dan  SMP S Muslimat mendapatkan giliran setelah asar. Soalnya, mereka menjalani aktivitas belajar di sekolah seperti hari biasanya. Proses pembagian bubur berjalan tertib tanpa ada kendala karena seluruh santriwati mematuhi prosedur yang sudah diatur.

Terlihat pancaran kebahagiaan di mata seluruh santriwati saat mengambil bubur. Mereka mengantre dengan tenang tanpa takut kehabisan.  Karena keseluruhan jumlah santri atau pun dewan  guru  sudah terdata dengan akurat. Kerja keras dari semua pihak membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Bubur tersebut akan dinikmati bersama saat berbuka nanti.

Terlihat juga sekelompok santriwati  yang  masih menekuni tugasnya untuk membungkus bubur yang akan dibagikan kepada dewan guru yang tidak berdomisili di dalam kompleks dayah.

Perayaan Asyura ini selain sebagai amalan sunat bertujuan untuk meningkatkan kerja sama sesama santriwati dan juga dengan dewan guru. Karena tanpa kerja sama perayaan Asyura ini tidak akan sukses. Juga harapan penulis sendiri, semoga tradisi perayaan Asyura dapat selalu terlaksana setiap tahunnya dan semoga selalu mendapat dukungan dari segala pihak.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved