Breaking News:

Opini

Dr Imai Indra Pahlawan  Covid-19 Aceh  

IDI Aceh kehilangan anggota terbaiknya. Kematian dr Imai Indra, SpAN dalam peperangan melawan Covid-19 membuat mental medis di Aceh terguncang

SERAMBINEWS/NASIR NURDIN
DR. Dr. Safrizal Rahman, MKes, SpOT, Ketua IDI wilayah Aceh, Dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah 

Oleh DR. Dr. Safrizal Rahman, MKes, SpOT, Ketua IDI wilayah Aceh, Dosen Fakultas Kedokteran Unsyiah

IDI Aceh kehilangan anggota terbaiknya. Kematian dr Imai Indra, SpAN dalam peperangan melawan Covid-19 membuat mental medis di Aceh terguncang. Dalam catatan IDI ini adalah kematian medis pertama di Aceh, dan juga merupakan kematian dokter 103 di Indonesia.

Saya mengenal sosok dr Imai Indra sejak masa kuliah, bukan hanya sebagai kakak kelas juga sebagai senior di HMI Komisariat Fakultas Kedokteran Unsyiah. Dr Imai sebenarnya adalah putra Riau yang kemudian memilih kuliah, menetap, dan berbakti untuk Aceh pasca menamatkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Beliau sempat bertugas sebagai dokter PTT di Kabupaten Pidie, bahkan kecintaannya pada Aceh kemudian diabadikan pada nama anak sulung (dr Dipie) yang merupakan kebalikan Pidie. Selesai menjalankan tugas di Puskesmas dr Imay muda memutuskan menjadi dosen Fk Unsyiah, bahkan sempat menjadi Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Unsyiah.

Saya pribadi memiliki beberapa kesan mendalam akan sosok ahli anastesi yang meninggalkan seorang istri dan dua orang anak ini. Semangat pengabdian kepada masyarakat yang dimilikinya sebagai dokter sangat luar biasa. Saat mahasiswa, saya dan tiga orang teman lain pernah diajak melakukan bakti sosial Badko HMI mewakili Fakultas Unsyiah ke Beutong Ateuh, padahal saat itu kondisi keamanan masih sangat rawan.

Apalagi untuk mencapai lokasi kami harus berjalan kaki sekitar 12 jam dari sore hingga tiba besok pagi melewati hutan belantara mendaki puncak gunung singgah mata. Beliau beberapa kali meminta maaf karena tidak tahu bahwa medan yang harus ditempuh begitu beratnya, bahkan saat pulang kami memutuskan mencapai Aceh Tengah dengan kembali berjalan kaki, dengan modal makanan seadaanya, berjalan meski dalam ancaman hujan dan tanah longsor.

Setelah menjadi seorang spesialis pun beliau selalu menawarkan diri menjadi sukarelawan dalam setiap tim bantuan medis Aceh untuk bencana yang terjadi di seluruh Indonesia. Kami pernah bersama-sama membantu korban gempa di Padang dan yang terakhir saat terjadi gempa Lombok, beliau menawarkan diri untuk ikut membantu, bahkan bersedia meskipun dengan biaya sendiri.

Tidak ada tempat di Aceh yang belum didatangi dalam rangka melakukan bakti sosial, bahkan hingga ke Pulau Banyak, Aceh Singkil. Rasanya sangat jarang saat ini ada dokter dengan semangat pengabdian kepada masyarakat setinggi almarhum.

Saya pun terkejut ketika mengetahui beliau memutuskan untuk tetap melakukan sendiri pembiusan pada pasien Covid-19 yang dilakukan operasi bagian perut demi menyelamatkan nyawa si pasien. Meski dilengkapi dengan APD level 3 lengkap, tapi bukan mudah dan butuh mental kuat untuk bisa melakukan ini.

Beberapa pendamping di kamar operasi menyampaikan bahwa beliau merasa kesulitan bernafas setelah sekian lama memakai baju astronot tersebut hingga akhirnya mengerak-gerakan maskernya untuk mendapatkan sedikti udara. Namun takdir Allah berkata lain, ternyata upaya beliau membantu pasien inilah menjadi penyebab tertular.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved