Breaking News:

Jurnalisme Warga

Gule Awe, Kuliner Tradisional yang Terpinggirkan

Ketika saya sedang mengeksplorasi informasi di YouTube, secara tidak sengaja saya melihat postingan terkait kuliner Aceh yang sering disantap

Gule Awe, Kuliner Tradisional yang Terpinggirkan
IST
NURUL AINI, Mahasiswi Prodi Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik, melaporkan dari Alue Jeureujak, Aceh Barat Daya

OLEH NURUL AINI, Mahasiswi Prodi Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry dan Anggota Komunitas Menulis Pematik, melaporkan dari Alue Jeureujak, Aceh Barat Daya

Ketika saya sedang mengeksplorasi informasi di  YouTube, secara tidak sengaja saya melihat postingan terkait kuliner Aceh yang sering disantap oleh kebanyakan orang. Lalu, saya teringat, adakah kuliner di kampung saya, Alue Jeureujak, Babah Rot, Aceh Barat Daya, yang sudah jarang atau bahkan generasi saat ini sama sekali tak mengenalnya? 

Esoknya, dengan rasa penasaran yang tinggi, saya bertanya kepada tetua kampung yang kebetulan adalah ayah saya sendiri. Usia beliau sudah lebih dari 70 tahun, tentu sudah cukup baik dalam mengenal dan memahami kearifan lokal yang ada di kampung sendiri. Saat saya bertanya, ayah pun cukup lama berpikir, lalu beliau mengatakan bahwa ada satu makanan yang terpinggirkan dan mungkin tak pernah dicicipi oleh generasi saat ini, yaitu gule awe (gulai umbut rotan). Masyarakat Singkil dan Subulussalam bahkan saya dengar hingga kini, terutama pada bulan Ramadhan, masih sering menggulai umbut rotan ini yang mereka namakan gulai simboling.

Wah, untuk pertama kalinya, saya mendengar bahwa rotan ternyata bisa dimakan. Unik sekali, pikir saya. Ternyata zaman dulu, gule awe digunakan sebagai hidangan pada acara-acara tertentu, seperti kenduri khitanan, pesta nikah, hingga maulid. Informasi terkait gule awe ini tentu tidaklah cukup berdasarkan buah bibir semata. Lebih dari itu, sebagai generasi milenial, saya ingin melihat dan mencicipinya langsung agar bisa saya ceritakan ke anak cucu kelak.

Saya pun mengajak beberapa teman pergi ke hutan mencari pohon rotan muda. Tentunya dipandu oleh orang yang lebih ahli. Kami berencana untuk memasak gulai tersebut di pinggir sungai dekat hutan. Kata pemandu, nama hutannya Alue Rimung (Sungai Harimau). Wah, mendengar nama hutannya saja sudah membuat ngeri. Tapi insyaallah aman untuk saat sekarang. Entah bagaimana sejarahnya dulu sehingga penamaan sungai kecil itu menjadi seperti itu.

Tentu ke hutan bukan hal yang mudah, perlu beberapa persiapan untuk mengantisipasi terjadinya bahaya. Menyiapkan obat-obatan ringan adalah hal yang pertama kami lakukan. Kemudian, mengingat saat ini masih dalam masa pandemi, tak lupa pula kami kenakan masker dan membawa hand sanitizer. Perjalanan itu kami coba kemas seperti berwisata, khususnya dengan membawa bekal, alat untuk memasak dan bumbu-bumbu kuliner yang dianggap perlu.

Kami yang berjumlah enam orang pun bergegas pergi dari kampung pukul 9 pagi, dengan segala persiapan yang sudah kami siapkan sebelumnya. Meskipun saya dan teman-teman perempuan, tapi karakter kami yang sering mendaki dataran tinggi dan perbukitan, membuat fisik kami lebih kuat menopang tubuh walau terasa semakin berat dengan tanjakan yang kian tinggi.

Sepanjang perjalanan, tak hentinya rasa sejuk menerawang di hati, bagaimana tidak udaranya sangat asri. Pepohonan menjulang tinggi, elok untuk menyejukkan mata, apalagi belum terjamah oleh tangan jahil manusia. Saya pikir, perjalanan mencari pohon rotan ini hanya melewati lembah dan bukit, ternyata tantangannya jauh dari perkiraan saya. Kami harus melewati beberapa anak sungai dengan arus yang cukup deras. Terpeleset sedikit saja, tubuh kami akan terbawa arus. Beruntung, kami memiliki pemandu yang ahli untuk mengantisipasi bahaya yang tidak diharapkan.

Sudah dua jam perjalanan, kami belum juga sampai ke tempat tujuan. Memilih untuk beristirahat sejenak adalah solusi terbaik. Setelah dirasa cukup, kami pun melanjutkan ekspedisi untuk mencari pohon rotan. Di tengah perjalanan, sungguh tidak terduga, kancil melintas di depan kami. Dengan kaki lincahnya, kancil berlari kencang meninggalkan kerumunan. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya saya bersama teman-teman melihat kancil secara langsung. Saya bersyukur, setidaknya di hutan kampung saya, masih bisa kami lihat hewan langka ini.

Langkah kami semakin terasa berat, tapi hal itu tidak membuat kami berhenti dan menyerah. Rasa penasaran akan gule awe memacu adrenalin kami untuk tetap tegar dan kokoh menapak diri. Singkat cerita, akhirnya lokasi yang dituju menunjukkan tabirnya. Kami mulai menemukan berbagai pohon rotan. Melihat itu, saya baru tahu, ternyata pohon rotan itu berduri, merambat ke pohon inang yang berada di sekitarnya, dan memiliki beberapa macam bentuk daun.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved