Breaking News:

Salam

Selamat Jalan Dokter Imai

Dunia medis di Aceh berduka. Pada hari Rabu (2/9/2020), Dokter Imai Indra SpAn, seorang dokter di Rumah Sakit Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh

KOMPAS.COM/RAJA UMAR
Tim medis di RSUZA berbaris sambil melantunkan shalawat saat pelepasan mobil ambulan jenazah dokter Imai Indra sebagai bentuk penghormatan terakhir, Rabu (2/9/2020). 

Dunia medis di Aceh berduka. Pada hari Rabu (2/9/2020), Dokter Imai Indra SpAn, seorang dokter di Rumah Sakit Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh meninggal dunia setelah menjalani perawatan di ruang RICU, akibat terpapar Covid-19. Kepergian Imai menghadap sang Khalik diantar dengan doa dan linangan air mata oleh beribu-ribu orang. Imai yang spesialis anastesi itu merupakan dokter pertama di Aceh yang meninggal karena terinfeksi virus Corona.

Kabar duka lainnya, jumlah warga Aceh yang terinfeksi Covid-19 terus bertambah. Kian hari, jumlahnya terus bertambah mulai puluhan hingga lebih seratus orang setiap hari. Sedangkan jumlah yang sembuh belum sebanding dengan jumlah orang yang terpapar setiap hari. Demikian pula, jumlah pesien positif Corona yang meninggal pun terus bertambah. Kabar terakhir dua hari lalu jumlahnya sudah mencapai hampir 70-an orang.

Sedangkan jumlah dokter yang meninggal di Indonesia akibat terpapar Covid-19 sudah melebihi 100 orang. Para perawat dan tenaga medis lainnya juga sudah ratusan orang meninggal. umumnya karena terinfeksi virus Corona dari pasien-pasien yang mereka rawat.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, Safrizal Rahman, selain menyatakan duka atas kepergian Dokter Imai juga mengingatkan bahwa eskalasi penyebaran Covid-19 di Aceh sudah tinggi. Makanya, IDI Aceh  mengimbau agar Pemerintah Aceh segera melakukan langkah konkrit penanganan pandemi ini, untuk menekan jumlah kasus yang semakin tinggi. Langkah konkrit yang bisa dilakukan, menurut Safrizal, adalah melakukan pembatasan pergerakan manusia. Sebab, tanpa pembatasan gerak, virus Corona akan terus menyebar ke sana-sini. "Selanjutnya perbanyak tes dan lakukan pencarian kasus secara aktif. Lakukan isolasi bagi yang positif di bawah pengawasan ketat medis," kata dia.

Saat ini di Aceh sudah 1.700-an orang yang terkonfirmasi positif Corona sejak virus itu “masuk” Aceh enam bulan lalu. Beberapa waktu lalu, ketika jumlah orang yang terkonfirmasi positif Corona baru 400-an orang,  IDI Aceh sudah mengingatkan bahwa kasus real di masyarakat bisa jadi 2 hingga 3 kali lebih banyak dari yang terkonfirmasi. “Artinya posisi kita bulan bulan ke depan akan bertambah berat dan sangat mengkhawatirkan karena banyak sekali orang yang membawa virus di dalam tubuhnya (carrier) berbaur di tengah masyarakat yang juga abai dengan protokol, bahkan menganggap Covid-19 ini tidak ada,” kata Safrizal saat itu.

Yang sangat mengkhawatirkan, selain jumlah masyarakat yang terpapar virus Corona terus bertambah, jumlah tenaga medis yang terkena Covid juga kian banyak. Bahkan, dalam beberapa pekan terakhir  menyebabkan beberapa rumah sakit dan puskesmas ditutup sementara. Penutupan itu untuk melakukan dekontaminasi dalam upaya pencegahan meluasnya penyebaran di fasilitas kesehatan publik.

Para dokter dan perawat mempertaruhkan nyawa dalam tugasnya mengobati dan merawat pasien-pasien yang terinfeksi virus Corona. Bagi mereka, risiko ada di depan mata, yakni ikut terpapar dan bahkan meninggal. Karena itu, upaya melindungi para dokter, perawat dan pekerja rumah sakit lebih penting ketimbang sekadar pemberian sanjungan kepada mereka.

Di seluruh dunia, para pekerja medis yang tengah berjibaku menyelamatkan nyawa pasien mengalami hal yang sama. Persoalan yang paling mengemuka kebanyakan mereka kekurangan alat pelindung diri (APD). Sebagian lainnya kelelahan karena menangani pasien. Beban psikologis para pekerja medis di Indonesia ditambah lagi oleh stigma negatif sebagian masyarakat.

Yang juga menjadi persoalan sampai sekarang adalah pemenuhan kebutuhan alat pelindung diri (APD) bagi dokter dan pekerja medis harus selalu tersedia sehingga tak ada keluhan dan ketakutan akibat APD yang seadanya. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian BUMN, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian harus cermat menyiapkan perlengkapan ini sehingga para dokter dan pekerja medis terlindungi.

Tentu, yang lebih penting lagu adalah, masyarakat mematuhi protokol kesehatan agar kita semua tercegah dari paparan Corona. Selamat jalan Dokter Imai. Kami menghargai pengabdianmu.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved