Breaking News:

Salam

Apa Upaya Setelah Aceh Tembus 2.000 Kasus?

Harian Serambi Indonesia kemarin mewartakan bahwa kasus positif Covid-19 di Aceh terus meningkat

SERAMBINEWS/Foto Dok Dinas Kesehatan
Petugas Dinas Kesehatan Aceh Utara menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) untuk mengebumikan pasien positif covid-19. 

Harian Serambi Indonesia kemarin mewartakan bahwa kasus positif Covid-19 di Aceh terus meningkat. Pada hari Sabtu (5/9/2020), bertambah 61 lagi kasus baru. Dengan tambahan sebanyak itu, maka total warga yang positif corona di Aceh sejak Maret lalu hampir menembus angka 2.000, atau tepatnya 1.944 orang. Artinya, hanya kurang 56 orang saja, maka angka 2.000 tercapai.

Tiga pekan lalu, seorang ahli biomolekul dari Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menyampaikan kepada Serambi  prediksinya bahwa pada minggu pertama September 2020 kasus positif Covid-19 di Aceh bakal tembus angka 2.000. Padahal saat itu, jumlah kasus positif Covid di Aceh belum sampai 1.100 kasus.

Di luar dugaan, prediksinya yang disertai simulasi penularan itu ternyata kini terbukti menjadi kenyataan. Petang kemarin Serambi  mendapat update  kasus Covid di Aceh, ternyata tambahan kasus baru bukan hanya 56 orang, melainkan 78 orang. Dengan tambahan sebanyak itu, otomatis total warga yang positif corona di Aceh resmi menembus angka 2.000 atau tepatnya 2.022 orang.

Nah, bagi orang yang tak peduli dengan ancaman Covid-19 atau mereka yang masih menganggap virus yang satu ini hanya rekayasa atau konspirasi antara kalangan medis dengan jurnalis, angka 2.022 itu tentu tak ada artinya. Malah makin menguatkan tudingan mereka bahwa angka-angka itu memang sengaja ditukangi agar terkesan lebih horor.

Tapi ya sudah, kita abaikan saja sementara mereka yang masih belum mau percaya bahwa Covid-19 itu memang ada dan sangat infeksius. Penularannya pun begitu cepatnya. Kini bahkan sudah semakin banyak kasus penularan lokal di Aceh. Penularan di dalam keluarga juga kian banyak. Beberapa keluarga bahkan teridentifikasi sebagai klaster baru.

Menyadari fakta ini, maka angka 2.000 lebih itu harus kita maknai dengan rasa prihatin yang mendalam. Soalnya, kurang dari satu bulan, sekitar 800 kasus baru bertambah di Aceh. Ini mengindikasikan bahwa kita belum sangat disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Gebrak Masker yang dilakukan Pemerintah Aceh untuk mendistribusikan sejuta masker pemberian Presiden Jokowi ke desa-desa itu hanya satu ikhtiar. Itu saja tidak cukup. Apalagi lebih dari 200 tenaga medis di Aceh positif corona. Padahal, tak seorang pun di antara mereka yang tidak pakai masker sekeluar dari rumah. Oleh karenanya, gebrak masker saja tidaklah cukup. Masih banyak aspek lain yang harus digebrak dan itu harus dikomandoi oleh penguasa. Misalnya, pengetatan di perbatasan Aceh, apakah sudah pernah dievaluasi bahwa arus masuk orang luar ke Aceh dari jalur darat, laut, dan udara sudah benar-benar sesuai prokes?

Terus terang, kita ragu tentang ini. Masuknya 39 tenaga kerja asing (TKA) asal Cina ke Nagan Raya baru-baru ini, itu hanyalah salah satu contoh saja bahwa betapa tak seriusnya pemerintah kita, baik di tingkat provinsi dan kabupaten, mengawal Aceh dari kemungkinan “carrier” Covid-19.

Bukti lainnya adalah hampir setiap hari ada saja orang luar Aceh yang terkonfirmasi positif corona di Aceh. Kemarin saja ada empat orang dari luar. Sebelumnya enam orang, sehingga

dari 2.022 orang yang positif Covid di Aceh, 105 orang di antaranya adalah orang luar. Andai saja yang 105 ini tak menjejakkan kakinya di Aceh semasa Covid ini, maka angka 2.000 belumnya tembus.

Selain gebrak masker dan pengetatan di perbatasan, maka tentu perlu juga dikampanyekan secara massif item prokes lainnya. Yakni, serius menjaga jarak, bukan cuma di tempat kerja dan ruang publik, tetapi juga di masjid dan meunasah. Bukan rahasia lagi, ratusan jamaah di masjid-masjid kini hampir tak ada lagi yang jaga jarak. Semua saf  kembali seperti saat tak ada corona. Ambal dan sajadah panjang pun kembali digelar seperti sediakala. Jamaah juga abai dengan keharusan memakai masker.

Sudah mulai banyak tempat yang tak lagi menghiraukan apakah tempat cuci tangan yang mereka sediakan sejak Maret lalu masih ada airnya atau tidak. Masih tersedia sabun untuk cuci tangan atau tidak. Bukan tidak mungkin, dari kelengahan berbagai pihak yang hampir massif ini virus corona makin berkembang biak di Aceh. Itulah sebab kita tak perlu heran mengapa kurang dari satu bulan, angka 2.000 kasus Covid di Aceh tercapai. Menganggap enteng tambahan angka yang sudah tembus 2.000 itu sungguh sebuah kesalahan yang akan mengundang bencana lebih besar. Presiden Jokowi sudah mengingatkan: kasus Covid di Aceh masih kecil, jangan biarkan jadi besar. Tapi faktanya, kita telanjur membiarkannya jadi besar tanpa upaya nyata untuk mengeremnya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved