Breaking News:

Opini

Pikiran Irasional di Tengah Covid-19  

Akal (`aql, logic, rasio) merupakan instrumen atau alat yang dimiliki manusia untuk berpikir (zoon politicon)

Pikiran Irasional  di Tengah Covid-19   
IST
ADNAN Dosen Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh

Adnan

Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh

Akal (`aql, logic, rasio) merupakan instrumen atau alat yang dimiliki manusia untuk berpikir (zoon politicon), mengingat (memory), menggali pengetahuan (kognitif) dan pengalaman (empiris). Kegunaan akal yang sangat mendasar ini, menyebabkan seorang manusia diwajibkan untuk menjaga, merawat dan memelihara akal dari segala sesuatu yang dapat merusaknya.

Imam Asy-Syatibi menyebutkan di antara tujuan diturunkan syariat (maqashid syari'ah) yaitu menjaga akal (hifz al-`aql). Pun, Buya Hamka mengungkapkan bahwa keberadaan akal menjadi pembeda (distingsi) manusia dengan makhluk lainnya. Dalam konteks fikih, akal yang sehat selalu dijadikan sebagai syarat pelaksanaan ritual ibadah, semisal shalat dan puasa.

Maka akal harus dirawat, dijaga dan dipelihara dengan sebaik mungkin agar ia tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Akal menjadi penciri manusia sebagai makhluk paripurna (insan kamil). Di antara cara merawat akal yaitu dengan menggali berbagai pengetahuan, pengalaman, dan informasi yang benar berbasis data dan fakta, agar ia tetap melahirkan pikiran rasional.

Artinya, pikiran rasional hanya diperoleh dari intensitas seseorang dalam menggunakan akal untuk memahami, meneliti, dan mengkaji segala pengetahuan, pengalaman, dan informasi yang benar. Jika tidak, maka akal akan disfungsi dan menyebabkan rentan berpikir irasional, yakni sebuah pikiran yang bertentangan dengan akal itu sendiri, dimana proses berpikir hanya dipengaruhi oleh emosi, subjektivitas, ego sektoral, dan sentimen pribadi.

Lebih lanjut, buah pikiran akan menghasilkan tindakan atau perilaku (behavior of habits). Jika seseorang berpikir rasional, maka akan melahirkan perilaku yang rasional. Sebaliknya, jika seseorang berpikir irasional, maka akan melahirkan perilaku yang irasional pula. Di sinilah bahayanya memiliki pikiran irasional. Sebab, perilaku merupakan hasil dari buah pikiran hingga terwujud sebuah kebiasaan.

Hal ini bisa saja dipengaruhi oleh pengetahuan keliru yang diterima akal, pengalaman yang salah, atau informasi yang tidak berbasis fakta dan data. Ironinya, jika anggota masyarakat seluruhnya berpikir irasional, maka lahirlah sebuah perilaku kolektif yang bersifat irasional. Maka Albert Ellis (1913-2007) mengembangkan teori Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) sebagai solusi untuk mengembalikan pikiran irasional seseorang.

Perilaku kolektif masyarakat yang berangkat dari pikiran irasional dapat dilacak dari semakin mewabahnya Corona Virus Disease (Covid-19), khususnya di Aceh. Jika dilihat dari frekuensi jumlah kasus pasien yang terpapar Covid-19 menunjukkan bahwa Covid-19 di Aceh semakin hari terus meningkat.

Data ini diungkap oleh Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) penanganan Covid-19 Provinsi Aceh bahwa angka kumulatif pasien positif Covid-19 di Aceh telah mencapai 1.632 orang (Serambi, 31/8/2020). Ironisnya kasus Covid-19 yang semakin meningkat di Aceh berbanding terbalik dengan kesadaran dan kepedulian masyarakat Aceh untuk mengikuti protokol kesehatan, semisal memakai masker dan jaga jarak (physical distancing).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved