Breaking News:

Opini

Ketika Cinta Berakhir di Tangan Kekasih  

Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh berita yang sungguh menyayat hati, yaitu kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh istri maupun suami

Ketika Cinta Berakhir di Tangan Kekasih   
IST
Dr. Agustin Hanafi, MA, Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Anggota IKAT-Aceh

Oleh Dr. Agustin Hanafi, MA, Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Anggota IKAT-Aceh.

Akhir-akhir ini kita dikejutkan oleh berita yang sungguh menyayat hati, yaitu kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh istri maupun suami yang berujung kematian. Eksekutor atau otak pelakunya tak lain adalah pasangan hidupnya sendiri. Laila Magfirah di Bener Meriah, tewas di tangan suaminya, Suryadi, (Serambi 6/3/2018). Dan kasus terbaru, Suami membunuh istri mudanya, Arini, jasadnya dibiarkan berlutut selama dua hari di samping truk yang ada di halaman rumahnya, (Serambi 14/8/2020).

Sebelumnya di Aceh Utara, penjual es campur tewas dibunuh selingkuhan istri, (Serambi, 15/9/2019). Kemudian Hakim senior Pengadilan Negeri Medan, Jamaluddin, juga tewas dibunuh oleh selingkuhan istrinya, Zuraida Hanum. Seyogyanya pasangan hidup memberikan perlindungan, pengayoman, dan kebahagiaan bagi pasangan tapi nyatanya bersikap biadab, beringas, dan melampaui batas.

Bagaikan pakaian

Alquran mengingatkan bahwa substansi pernikahan adalah ikatan suci nan kokoh serta sakral. Bukan akad biasa, atau sekadar coba-coba untuk melampiaskan nafsu biologis, tetapi untuk beribadah kepada Allah. Hubungan suami-istri ibaratkan pakaian yang saling melengkapi, "Mereka (istri-istri kamu) adalah pakaian untuk kamu, dan kamu (wahai para suami) adalah pakaian buat mereka" Q.S. Al-Baqarah: 187.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa suami-istri saling membutuhkan sebagaimana kebutuhan kita kepada pakaian, suami-istri juga memiliki kekurangan, maka satu sama lain harus berfungsi menutupi kekurangan pasangannya sebagaimana halnya pakaian menutup aurat (kekurangan manusia). Untuk itu perlu disadari bahwa masing-masing sangat butuh kepada pasangannya, bagaikan gembok dengan kunci, sepasang sepatu dan kaca mata, betapapun mahalnya jika hanya sebelah maka tidak dapat berfungsi.

Sunnatullah, bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tidak semua orang berperilaku baik, dan tidak juga semuanya berperilaku jahat, kekurangan yang dimiliki istri boleh jadi dimiliki juga oleh suami dalam bentuk yang lain. Kesalahan yang dilakukan suami dapat juga dilakukan oleh istri dalam bentuk yang sama atau bahkan lebih parah. Dan Alquran menggambarkan bahwa posisi seorang suami dalam rumah tangga sebagai qawwam yaitu penuntun, pelindung, dan pengayom bagi istrinya berdasarkan tanggung jawab yang dimilikinya (Q.S. An-Nisa`: 34).

Untuk itu, seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan cara yang ma`ruf, tidak berbuat semena-mena tetapi secara sungguh-sungguh memperhatikan pasangan hidupnya. Jangan tergesa-gesa memberikan vonis buruk dan jangan semaunya saja memaksakan kehendak dan keinginan. Kesadaran yang demikianlah yang dapat memelihara dan menyuburkan kasih sebagaimana ungkapan Imam Ghazali, "Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan perlakuan baik terhadap istri bukanlah tidak mengganggunya, melainkan bersabar dalam gangguan/kesalahan serta memperlakukannya dengan kelembutan dan kemaafan saat ia menumpahkan emosi dan kemarahan"

Dalam sebuah rumah tangga, perselisihan dan beda pendapat antara pasangan merupakan sesuatu yang lumrah terjadi bagaikan sendok dengan garpu, yang acap kali bersinggungan dan itu merupakan bagian dari seni dan bumbu-bumbu sebuah kehidupan. Karena masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda, karakter dan keluarga yang berbeda, adat istidat serta budaya yang berbeda pula. Maka ketika kerikil itu muncul, dituntut kedewasaan dan kematangan berfikir masing-masing pihak, diuji kesabaran dan ketangguhannya dalam menyikapi perbedaan ini.

Sekiranya bersikap lues dan dewasa, maka yang sebelumnya kondisinya panas membara akan berubah menjadi dingin seperti salju karena telah disirami oleh air "kebesaran jiwa". Masalah yang tadinya pun besar dapat berubah menjadi kecil, dan yang tadinya kecil bisa menjadi hilang sama sekali.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved