Breaking News:

Jurnalisme Warga

Kisah Pilu Perawat yang Positif Covid-19

Terdeteksinya kasus positif Covid-19 seorang dokter pada salah satu puskesmas di Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya (Pijay)

Kisah Pilu Perawat yang Positif Covid-19
IST
MIRNANI MUNIRUDDIN ACHMAD, M.A., Guru MIN 13 Pidie Jaya, alumni Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Anggota FaMe Chapter Pidie Jaya, melaporkan dari Pidie Jaya

OLEH MIRNANI MUNIRUDDIN ACHMAD, M.A., Guru MIN 13 Pidie Jaya, alumni Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Anggota FaMe Chapter Pidie Jaya, melaporkan dari Pidie Jaya

Terdeteksinya kasus positif Covid-19 seorang dokter  pada salah satu puskesmas di Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya (Pijay), dan juga seorang pasien positif yang berasal dari Meureudu, Pijay yang meninggal dunia, membuat se-Pijay heboh dan merasa waswas terhadap virus yang sudah mulai menggerogoti kabupaten ini.

Dua kasus ini menjadi momen "pecah telur" di Pijay yang terdeteksi telah terjangkit virus mematikan ini. Jika sebelumnya Pijay  masih nyaman dan aman dengan zona hijaunya, kini harus lebih siaga terhadap penyebaran virus asal Wuhan, Cina, ini.

Tidak berhenti di dua kasus tersebut, Covid-19 juga akhirnya menjangkiti salah satu perawat  (ners) yang berinisial EY yang bekerja di Poli THT-KL di salah satu rumah sakit Pijay. Sudah sepuluh tahun ia mengabdi di sana sebagai ASN yang mumpuni. Ia menikmati pekerjaannya dan menganggapnya sebagai salah satu ibadah dalam kehidupan.

Namun, kisah Ns EY yang dia ceritakan kepada saya kali ini benar-benar menyayat hati dan menguras emosi. Cerita dimulai pada Jumat, 14 Agustus, ia mulai  merasakan demam, nyeri di seluruh badan, sakit kepala, dan kedinginan.  Sampai pada malam Senin 17 Agustus  ia kehilangan penciuman dan tak bisa mencium bau sama sekali. Sebagai ners  yang bertanggung jawab, ia melaporkan gejala tersebut kepada dokter di RSUD Pijay. Hingga akhirnya ia dinyatakan positif Covid setelah diswab pada 18 Agustus. Dunia seakan hancur, tak sedikit pun ia menyangka akan terpapar virus yang belum ada vaksinnya ini. Bagaimana tidak? Ia dikenal sebagai perawat yang selalu patuh pada protokol kesehatan (prokes) yang telah ditetapkan. Apalagi ia bekerja di bagian THT, lokasi yang dianggap paling rentan untuk terpapar Covid-19.

Ia yang semenjak merebaknya virus ini selalu mengenakan masker meskipun itu di dalam rumah dan berusaha jaga jarak dengan orang lain, walaupun itu anaknya sendiri. Namun, jika Allah sudah berkehendak tak ada yang bisa dilakukan, kecuali berusaha sabar terhadap cobaan yang telah diberikan. Itu pula yang dilakukan EY, sebagai muslim yang taat, ia sudah menjalankan tugasnya untuk ikhtiar dan sekarang ia berusaha untuk tawakal.

Dengan kecanggihan teknologi sekarang seakan tak butuh waktu lama bagi masyarakat sekitar untuk mengetahui kondisi terkait positifnya EY mengidap Covid-19. Namun, yang amat disayangkan, perlakuan masyarakat sekitar rumah yang memperlakukan EY seolah ia sesegera mungkin harus dijauhkan dari desa tersebut agar tidak menularkan kepada orang lain. Banyak hoaks dan berita-berita yang tak betanggung jawab yang sengaja disebarkan segelintir orang yang menginginkan agar  ia segera pergi dari desa tersebut dan tidak lagi melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Perlakuan mereka terkesan jauh dari sifat sesama muslim yang seharusnya juga merasakan kesedihan saat saudara seimannya mendapat cobaan dari Allah.

Warga yang ketika melewati rumahnya selalu menutup hidung dan dibuka kembali setelah melewati rumah EY. Keluarganya dijauhi, dikucilkan, bahkan dianggap sebagai pembawa penyakit bagi masyarakat sekitar. Saya tak bisa membayangkan jika harus berada di posisi EY. Bagaimana ia bisa melewati cobaan ini tanpa adanya dukungan orang di sekelilingnya?

Cerita sedih bisa menjadi gambaran terhadap masyarakat kita yang sebenarnya telah mengalami krisis sosial dan rasa kemanusiaan yang kurang terhadap sesama. Sekarang yang hanya bisa EY lakukan hanyalah berserah diri kepada Allah dan berusaha untuk bangkit dan sembuh dari Covid-19. Demi keluarga tercinta, suami, anak, ibu, mertua, dan sebagian sahabat, tetangga yang masih menaruh rasa sayang dan mempunyai rasa empati terhadap EY. Dukungan juga selalu diberikan oleh manajemen rumah sakit tempatnya bekerja. Masih ada juga warga yang masih mau membawakan makanan ataupun sekadar menanyakan keadaan terbaru dari EY. Dalam masa isolasi mandirinya, ia sebisa mungkin melakukan hal yang bisa meningkatkan imun tubuh agar Covid-19 bisa pergi dari tubuhnya.

Ia memperbanyak baca Alquran dan mendengar ceramah-ceramah di berbagai macam media untuk meng-upgrade kembali sistem imannya. EY juga sering meminta petuah dari ustaz-ustaz untuk menyiram kembali kalbunya agar tak kering diakibatkan berbagai cobaan yang Allah berikan. EY berusaha bangkit dan meyakini diri bahwa jika memang ada umur panjang Allah pasti akan berikan kepadanya jalan kesembuhan dengan cara yang Allah kehendaki.

Setiap penyakit pasti telah Allah sediakan obatnya. Semua orang pasti mendengar ini, tapi praktik lapangan seolah “oknum” masyarakat ini tak tahu apa-apa, tidak berilmu, dan terkesan sangatlah bar-bar dengan sikap mereka yang mengucilkan dan menjauhi orang yang sedang sakit. Bukankah kita saudara seiman? Bukankah kita harus mencontoh Nabi Muhammad, sang pemilik kemuliaan akhlak? Nabi Muhammad yang mempunyai sifat menyayangi terhadap makhluk Allah sekalipun mereka bukan orang Islam dan sering menyakiti beliau. Dan EY ini adalah saudara kita, wahai Bapak Ibu. Sebagaimana dalam hadis disebutkan: Perumpamaan orang-orang yang beriman  dalam sikap saling mencintai, saling menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Inilah ciri muslim sejati yang semestinya memberikan dukungan penuh kepada saudara kita yang sedang ditimpa musibah. Bukan malah menjauhinya. Berikan semangat kepada mereka untuk tetap terus berjuang melawan penyakit ini. Toh, virus ini juga Allah yang kirimkan. Berusaha menjaga diri boleh saja, tapi jangan bersikap berlebihan juga. Tetap patuhi protokol kesehatan, tapi jangan sampai menyakiti hati orang lain dengan sikap kita.

Sudah saatnya kita mengubah pola pikir terhadap Covid-19. Mari sama-sama saling menguatkan dalam menghadapinya. Karena kita tahu, jumlah pasien yang sembuh dari virus ini juga tidak sedikit. Karena pada dasarnya, tubuh manusia memiliki sistem imun untuk melawan virus dan bakteri penyebab penyakit. Dan agar imun tubuh kita kuat salah satunya adalah dengan tidak stres yang bisa memicu turunnya imunitas tubuh yang otomatis menurunkan kualitas antibodi kita sendiri.

Bayangkan pula jika kita berada di posisi EY. Ia berjuang melawan penyakit, tapi yang kita lakukan malah membuat perjuangannya seolah sia-sia. Jika kita tak bisa memberikan manfaat kepada orang lain, setidaknya janganlah memberikan mereka mudarat. Yakini dalam hati masing-masing bahwa Covid-19 hanyalah penyakit. Dan tidak ada yang lebih berbahaya dibandingkan dengan penyakit hati, hati kita yang seharusnya kita perbaiki agar lebih peka terhadap sesama. Jika hati kita baik insyaallah yang lainnya pun akan ikut menjadi baik. Mensana in corporesano (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang waras). Wallahua’lam bisshawab. <19910815nani@gmail.com>

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved