Breaking News:

Jurnalisme Warga

Agar Kupiah Meukeutop Tetap Eksis

KUPIAH meukeutop adalah warisan leluhur yang sudah membudaya di kalangan masyarakat Aceh

Agar Kupiah Meukeutop Tetap Eksis
IST
MUHIBBUL ZIKRI, RO, Founder oolens.id, lulusan refraksi optisi (ahli mata) di Medan dan berkarier di Jakarta, Kabid Ekonomi Forum Mahasiswa Pidie Meusapat (FMPM), melaporkan dari Jakarta

OLEH MUHIBBUL ZIKRI, RO, Founder oolens.id, lulusan refraksi optisi (ahli mata) di Medan dan berkarier di Jakarta, Kabid Ekonomi Forum Mahasiswa Pidie Meusapat (FMPM), melaporkan dari Jakarta

KUPIAH meukeutop adalah warisan leluhur yang sudah membudaya di kalangan masyarakat Aceh. Namun, akhir-akhir ini trennya naik tajam setelah dipakai oleh sejumlah tokoh, seperti Gubernur Jawa Barat Pak Ganjar Pranowo, pengusaha nasional Sandiaga Uno, Ustaz Abdul Somad, Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dan beberapa selebritas nasional, seperti Teuku Wisnu dan Raffi Ahmad yang mengenakan masker dan topi bermotif kupiah meukeutop saat pandemi Covid-19.

Tak bisa dipungkiri, saat ekonomi lesu karena Covid, kupiah meukeutop justru hadir memberikan semangat dalam warnanya yang cerah, sehingga sedikit banyaknya peci yang bulat ini mampu membuat perekonomian masyarakat tetap berputar, terutama para pegiat usaha kecil dan menengah (UKM) yang berbasis rumahan. Itu karena, makin banyak saja peminat yang memesan peci tersebut. Maka para produsen pun mampu menghidupkan keluarga, karyawan, bahkan keluarga karyawan. Namun, di sisi lain meninggalkan dilema persaingan bisnis.

Harus kita akui, produsen kupiah meukeutop dulu sangat terbatas dan lebih banyak produsen secara manual dibandingkan produsen mengandalkan mesin. Hal itu sesuai dengan permintaan pasar yang masih minim. Saat kupiah meukeutop viral dan permintaan pasar membeludak, maka produksinya haruslah mampu mengimbangi permintaan pasar sehingga hadirnya produksi menggunakan mesin mampu menjawab kebutuhan pasar.

Untuk menjawab kebutuhan pasar, hadirlah produsen kupiah yang menggunakan mesin, bahkan pabrik. Maka dari itu, para perajin kupiah meukutop tradisional banyak yang mengeluh karena merasa tergerus oleh kehadiran produsen kupiah yang mengandalkan mesin dan pabrik. Bagaimana tanggapan dan masukan kita sebagai penggiat UKM kepada pemerintah dan perajin kupiah?

Kita tahu bahwa memproduksi kupiah meukeutop secara manual membutuhkan waktu cukup lama, yaitu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Sedangkan jika produksinya menggunakan mesin hanya butuh waktu dalam hitungan jam saja, bisa langsung memenuhi permintaan para pelanggan di pasar tanpa harus menunggu waktu yang relatif  lama agar bisa mengikuti tren.

Namun, tetap saja persaingan bisnis masih terasa. Karena itu, kita bisa kembali berkaca pada sejarah batik, di mana sekarang terdapat jenis batik tulis, cap, dan printing. Apakah ada jenis batik yang tidak laku? Apakah karena batik tulis karena produksinya lama dan dijual mahal lalu konsumen semua beralih ke batik printing? Tidak, ketiga-tiga jenis batik ini sangat laku di pasaran.

Bagaimana tidak, saya bersama Umar Usman Business School Jakarta sudah melakukan kunjungan bisnis ke salah satu produsen batik tulis ternama di Indonesia yang sudah mendunia, berasal dari Cirebon, yakni Batik Trusmi. Kamia pikir produsen batik tulis akan mati karena terus digempur produsen batik printing, eh, ternyata malah semakin jaya karena semua ada segmentasi pasarnya.

Sedangkan segmentasi pasar bagi batik printing  atau mesin adalah mereka yang lebih simpel, kebanyakan mereka adalah kelas menengah dan kelas menengah ke bawah. Bagi segmen pasar ini, harga adalah segalanya, sehingga walaupun kita jual dengan harga murah sehingga nominal untung (profit) kita sedikit. Jangan lupa bahwa jumlah segmen pasar kelas menengah dan menengah ke bawah lebih banyak dibandingkan kelas menengah dan menengah ke atas.

Segmentasi pasar bagi batik tulis adalah para pecinta seni yang menghargai keindahan yang tercipta dari seniman batik, orang-orang yang suka hal unik, para penyuka seni yang detail, komunitas-komunitas yang ingin menjaga warisan leluhur, dan sebagainya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved