Breaking News:

Salam

Rohingya; Jangan Telantar Sesudah Terdampar  

Ratusan imigran Rohingya dalam kondisi sangat kelelahan terdampar di Pantai Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe

SERAMBI/ZAKI MUBARAK
Puluhan wanita Etnis Rohingya, tertidur setelah terdampar di Pantai Ujong Blang Lhokseumawe, Senin (7/9/2020). 

Ratusan imigran Rohingya dalam kondisi sangat kelelahan terdampar di Pantai Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Senin (7/9/2020) dini hari. Para imigran itu kemudian ditempatkan di gedung Balai Latihan Kerja (BLK) kawasan Kandang, Lhokseumawe. Di tempat ini, ada 99 warga Rohingya yang beberapa bulan lalu juga terdampar ke Aceh. Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees - UNHCR), mengatakan para imigran yang terdampar dua hari lalu tersebut sudah tujuh bulan terombang-ambing di lautan sebelum akhirnya mencapai daratan Aceh.

Mereka adalah korban konflik berdemensi agama yang terjadi di negaranya, Myanmar. Para etnis muslim Rohingya terpaksa bermigrasi membelah lautan menggunakan kapal kayu sederhana tanpa jelas arah dan tujuan. Ini merupakan yang kedua kalinya di tahun ini mereka terdampar di Aceh. Sebelumnya, pada Juni lalu ada sekitar 99 imigran Rohingya yang terdampar di perairan Aceh Utara. Ada beribu-ribu warga Rohingya yang sempat ditampung sementara di Aceh dalam beberapa tahun terakhir, sebelum mereka dikembalikan ke negaranya atau ditempatkan ke negara-negara lain.

Pihak UNHCR menyatakan sangat berterima kasih kepada Pemko Lhokseumawe yang sudah bersedia memberikan tempat dan makanan kepada para imigran tersebut. “Apalagi melihat kondisi mereka saat ini sangat lemah,” ujar Staf Protection Associate UNHCR, Oktina Hafanti, yang berjanji terus berkoordinasi dengan Pemerintah Lhokseumawe terkait penanganan ratusan imigran itu.

Etnis Rohingya yang mendiami bagian Rakhine, Myanmar, merupakan kelompok minoritas di negera yang mayoritas menganut Budha. Secara historis, ketegangan antara etnis Rohingya dan Myanmar sudah terjadi sejak zaman kolonialisme Inggris. Pada tahun 1942 upaya pengusiran etnis Rohingya dari wilayah Arakan atau yang saat ini dikenal Rakhine sudah dilakukan.

Bukan hanya pengusiran, etnis Rohingya juga dibantai pasukan pro Inggris yang mengakibatkan 100.000 muslim tewas pada waktu itu. Ketegangan antara etnis Rohingya dan Myanmar semakin meningkat setelah Burma merdeka pada 1948.

Sejak saat itu muslim Rohingya selalu mengalami diskriminasi dan pengusiran yang menyebabkan mereka mengungsi ke Bangladesh. Diskriminasi yang dialami etnis Rohingya semakin kompleks ketika pemerintah Myanmar menerapkan kebijakan yang mencabut kartu putih atau kartu identitas warga negara Myanmar terhadap etnis Rohingya pada 31 Maret 2015, yang kemudian menandakan bahwa etnis Rohingya secara resmi bukan lagi warga negara Myanmar.

Kekerasan yang dilakukan negara terhadap etnis Rohingya membuat kaum minoritas ini terpaksa mengungsi dan mencari suaka ke negara-negara tetangga seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Bangladesh. Menurut data UNHCR pada Agustus 2017 tercatat sebanyak 745.000 orang Rohingya memasuki Bangladesh dan tinggal di Kamp pengungsian Cox’s bazar.

Namun, beberapa waktu lalu Pemerintah Malaysia sudah menolak kedatangan kapal pengungsi Rohingya yang membawa ratusan penumpang dengan alasan mencegah penularan Covid-19. Padahal, seharusnya Malaysia dapat menerima pengungsi Rohingya dengan mempertimbangkan sisi kemanusiaan.

Menurut  Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) nasib para pengungsi Rohingya membahayakan karena saat ini cuaca sedang ekstrim yang meyebabkan angin topan maka dari itu perlunya pendaratan yang aman untuk memastikan keselamatan bagi para pengungsi Rohingya. Selain itu IOM juga meminta negara mitra untuk menjunjung tinggi komitmen deklarasi Bali 2016 serta janji ASEAN untuk melindungi yang paling rentan.

Terlepas dari deklarasi itu, Aceh memang daerah yang paling sering didarati Rohingya. Masyarakat Aceh tentu akan sangat tidak sampai hati  menolak mereka, selain faktor kemanusian juga terkait faktor keyakinan, yakni sesama Muslim.

Yang selalu menjadi problem adalah ketika para pengungsi itu terlalu lama berada di pengungsian, maka akan menjadi beban daerah, terutama biaya kebutuhan hidup mereka. Mulai makanan, kesehatan, hingga pakaian mereka. Oleh karena itu, pihak UNHCR dan IOM kita harapkan bisa memikirkan masalah ini agar kelak para pengungsi ini tidak telantar hingga kemudian mereka kabur pelan-pelan dari pengungsian.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved