Breaking News:

100 Warga Tertipu Rumah Bantuan, Kerugian Ditaksir Rp 800 Juta

Sekitar 100 warga Kota Subulussalam diduga menjadi korban penipuan bantuan rumah Kementerian Sosial RI yang dilakukan oleh RM (65)

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/KHALIDIN
Kapolres Subulussalam, AKBP Qori Wicaksono SIK 

SUBULUSSALAM - Sekitar 100 warga Kota Subulussalam diduga menjadi korban penipuan bantuan rumah Kementerian Sosial RI yang dilakukan oleh RM (65).  Warga diminta menyetor uang muka dengan jumlah bervariasi, mulai Rp 4 juta hingga Rp 15 juta. Polisi memperkirakan, setidaknya jumlah uang yang dikutip dari warga sebesar Rp 800-an juta.

Kapolres Subulussalam, AKBP Qori Wicaksono SIK dalam keterangan persnya kepada Serambi, Kamis (10/9/2020), mengatakan, berdasarkan dokumen dan penyelidikan di lapangan, polisi menemukan jumlah warga yang mendaftar mendapatkan rumah bantuan tersebut mencapai 100 orang.

RM yang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu menjalankan aksinya dengan cara memberikan janji bantuan rumah kepada warga. Namun warga yang mendaftarkan diri harus menyetor uang muka senilai Rp 4 juta hingga Rp 15 juta per orang.

Selain setor uang, tersangka juga mensyaratkan fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK), dan sertifikat atau surat kepemilikan tanah.

Polisi memastikan aksi tersebut penipuan lantaran setelah dikroscek ke Pemerintah Kota Subulussalam tidak ada program rumah bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos).

Apalagi proses mendapatkan rumah bantuan tersebut dilakukan dengan mengutip dana kepada masyarakat.

Untuk memuluskan aksinya, tersangka RM membawa sejumlah berkas yang salah satunya berupa dokumen kontrak rumah bantuan senilai Rp 9,5 miliar. Dana Rp 9,5 miliar tersebut diklaim tersangka diperuntukkan membangun 100 rumah bantuan. Polisi juga menemukan adanya peran orang lain di lapangan atau setiap desa selaku koordinator pemungutan uang.

Beberapa kepala desa dikabarkan ikut terlibat menjadi pihak yang memungut uang kepada warganya terkait rencana rumah bantuan fiktif tersebut. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan polisi, para koordinator di lapangan tidak terkait dengan penipuan, karena sebatas mengumpulkan uang untuk disetor ke tersangka RM. “Setelah diinterogasi, koodinator tidak tahu karena mereka hanya mengumpulkan uang dan semua disetor ke tersangka,” kata Kapolres Subulussalam, AKBP Qori Wicaksono.

Ditambahkan, polisi menaksir ada sebesar Rp 800-an juta uang warga yang dikutip tersangka RM. Bukan hanya warga Simpang Kiri menjadi korban, namun juga warga di semua kecamatan di Kota Subulussalam, yakni Sultan Daulat, Penanggalan, Rundeng, dan Longkib.

Untuk memuluskan aksinya, RM membawa sejumlah dokumen mengatasnamakan atau mencatut Yayasan Pekerja Nasional Indonsia (YPNI) yang beralamat di Banda Aceh. Namun, semua dokumen YPNI termasuk kontrak dan denah rumah diduga kuat palsu lantaran hasil scanner.

Polisi juga melakukan penyelidikan hingga ke Banda Aceh guna melacak keberadaan YPNI. Hasil penelusuran polisi menemukan jika pria RM telah mencatut YPNI dalam aksi penipuan bantuan rumah.

Kapolres AKBP Qori Wicaksono memperkirakan jumlah korban mencapai seratusan orang dan kini polisi sedang mengembangkan kasusnya. Kini penyidik telah menetapkan pria asal Kutacane, Aceh Tenggara, itu sebagai tersangka dan ditahan di Mapolres Subulussalam.(lid)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved