Breaking News:

Jurnalisme Warga

Memelihara Persahabatan di Tengah Pandemi

PERSAHABATAN adalah hubungan yang menggambarkan perilaku kerja sama antara dua orang atau lebih yang saling mendukung, saling membutuhkan

Memelihara Persahabatan di Tengah Pandemi
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari  Bireuen

PERSAHABATAN adalah  hubungan yang menggambarkan perilaku kerja sama antara dua orang atau lebih yang saling mendukung, saling membutuhkan, dan saling pengertian terhadap individu masing-masing. Harapan setiap orang dalam bingkai persahabatan adalah adanya saling membantu dan selalu merasa bersama dalam situasi suka maupun duka.

Dalam lingkungan kehidupan sosial masyarakat, terutama di pedesaan, persahabatan layaknya tali silaturahmi yang masih kental terasa. Hal ini dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya saat gotong royong. Warga terlibat dalam kenduri atau hajatan, kegiatan fardu kifayah orang meninggal, dan berbagai kegiatan lainnya yang melibatkan seluruh warga dalam suatu wilayah.

Namun, pada masa pandemi Covid-19 saat ini kebersamaan itu mulai renggang, bahkan nyaris putus. Bagaimana tidak, ada suatu kejadian yang biasanya saya baca dari sosmed, tetapi ini justru terjadi di tempat tinggal keluarga dari sahabat anak saya.

Kisahnya begini: malam itu ada informasi bahwa salah seorang warga desa tersebut meninggal dunia setelah dirawat satu minggu di rumah sakit. Mendengar berita itu sebagian warga panik, apakah meninggal karena Covid atau sebab lain. Berbagai asumsi dan pendapat dari warga terus merebak tanpa mampu untuk dibendung. Bahkan berita itu sampai ke beberapa kepala sekolah TK, SD, MIN, SMP, dan SMA di seputaran tempat tinggalnya. Lalu, tanpa menunggu instruksi secara resmi malam itu juga mereka menyampaikan kepada semua orang tua melalui grup WA bahwa sekolah diliburkan selama satu minggu. Padahal, informasi resmi dari rumah sakit belum ada, begitu juga dari tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Bireuen. Namun, masyarakat telah meyakini kematiannya adalah akibat Covid. Tak ketinggalan malam itu juga aparatur gampong mengadakan rapat mendadak, bermusyawarah bagaimana tata cara untuk menangani jenazah ini esok harinya.

Pagi menjelang pemakaman, hanya sedikit warga yang datang melayat, bahkan hari itu untuk pertama sekali selama berdirinya gampong tersebut shalat jenazah terlambat dilaksanakan karena harus menunggu prosesi memandikan jenazah sesuai protokol kesehatan. Meski sedikit ada perdebatan dengan petugas medis proses memandikan jenazah selesai dilaksanakan. Kemudian, dilanjutkan dengan proses shalat jenazah dengan jumlah jamaah yang tak terlalu banyak. Ini hal yang sangat berbeda dengan biasanya.

Setelah shalat jenazah selesai sebagian yang hadir merasa bingung, karena jika memang jenazah orang yang meninggal ini akibat Covid-19 mengapa petugas medis yang datang justru tidak memakai alat pelindung diri (APD). “Ini sangat aneh,” celutuk seorang warga yang tak ingin disebut namanya.

Sebagaimana kebiasaan masyarakat gampong malam pertama sampai ketiga kemalangan ada kegiatan berdoa di rumah keluarga yang sedang musibah. Namun, berbeda pada kasus ini berdoanya hanya dilaksanakan di meunasah. Selain itu, kenduri hari ketujuh hanya sebagian warga yang hadir, selain itu hanyalah keluarga terdekat almarhum.

Akibat isu yang merebak, hampir sebagian besar warga gampong tersebut menghindar atau jaga jarak dari keluarga yang berduka. Hal ini menyebabkan ketidaknyamanan bagi keluarga tersebut dan mereka merasa dikucilkan. Padahal, semasa hidupnya almarhum punya begitu banyak sahabat. Bahkan informasi yang saya peroleh, kantor tempat almarhum bekerja semasa hidupnya pun ditutup sementara dan telah didisinfektan. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat setempat mencurigai bahwa almarhum meninggal karena terinfeksi Covid-19. Namun anehnya, gampong itu justru tidak pemberitahuan resmi, apalagi mendapat penanganan apa pun dari dinas kesehatan setempat.

Kejadian itu tentu membawa luka mendalam bagi keluarga dan mereka merasa tertekan. Sudahlah musibah akibat kehilangan anggota keluarga, kehilangan pula perhatian dari sahabat-sahabat dekat almarhum.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved