Breaking News:

Jurnalisme Warga

Jejak Lance Castles di Geuceu Kompleks

SEORANG sosiolog di Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr M Najib Azca mengirim kabar duka ke WhatsApp saya tentang meninggalnya Lance Castles

Jejak Lance Castles di Geuceu Kompleks
IST
TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Prodi Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH TEUKU CUT MAHMUD AZIZ, S.Fil., M.A., Dosen Prodi Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim, melaporkan dari Banda Aceh

SEORANG sosiolog di Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr M Najib Azca mengirim kabar duka ke WhatsApp saya tentang meninggalnya Lance Castles (1937-2020) dengan menautkan tulisan Profesor Tadjuddin Noer Effendi perihal obituari Lance Castles berjudul “Indonesianis Pemandu Sejarah Aceh” yang dimuat di Majalah Tempo edisi 5 September 2020.

Lance Castles merupakan sejarawan dan pakar politik Indonesia asal Australia yang ahli sejarah Aceh. Ia tutup usia pada 29 Agustus 2020 di Australia.

Dalam tulisannya itu, Profesor Tadjuddin menyebut dirinya sebagai alumnus Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial (PLPIIS) Banda Aceh Angkatan 1978, pensiunan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. Beliau mengisahkan pengalaman menjadi peserta bersama sembilan akademisi lainnya dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia saat mengikuti Pelatihan Penelitian Angkatan II di PLPIIS Unsyiah. Pak Lance yang terlihat sedikit serius, di awal kedatangan para calon peneliti itu terlebih dahulu membawa mereka melakukan pendekatan lapangan dengan mengunjungi sejumlah tempat bersejarah di Banda Aceh. Di Aceh, Lance Castles sangat dihormati. Karena fasih berbahasa Aceh maka beliau disapa dengan panggilan teungku, “Teungku Lance, pue haba?” (“Tengku Lance, apa kabar?”). Di Aceh, panggilan teungku merupakan sapaan umum bagi laki-laki dewasa.

Berita duka meninggalnya Lance Castles saya teruskan ke sejumlah sahabat dan kolega. Salah satunya kepada Dr Ir Yunardi MA.Sc, Dosen Program Studi Teknik Kimia Unsyiah yang pernah menjabat Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok. Balasan WA Pak Yunardi benar-benar mengesankan sekaligus membuat saya penasaran. “Terima kasih Pak Pon Cut atas informasi berita dukanya. Semasa SMA, saya sering berkunjung ke rumah Lance Castles di Geuceu, bersama teman-teman. Itu sebagai salah satu awal keinginan saya belajar bahasa Inggris lebih dalam. Saya sering mendengar cerita lucu Pak Lance selama dia di Aceh. Suatu kali dia pergi ke sebuah desa di Aceh Besar dibawa oleh tim Unsyiah dalam rangka penelitian. Selama pertemuan dengan masyarakat desa, terdengar di telinganya beberapa pemuda desa tersebut mengatakan, ‘Hidong lagee ceurapee (Hidung seperti cerape, hewan sejenis musang. Perumpamaan seperti hidung cerape yang mancung dengan warna agak kemerahan).

Pak Lance dengan lembut menjawab dalam bahasa Aceh, ‘Tanyoe hanjeut peugah keugob lagee nyan. Nyan hana get (Kita tidak boleh mengatakan ke orang lain seperti itu. Itu tidak baik)’.”

Mendengar jawaban spontan Pak Lance luar biasa terkejutnya pemuda-pemuda tersebut. Ke depannya kalau berkunjung ke desa itu, beliau mendapat pelayanan yang sangat istimewa. Saya merasa dekat sekali dengan beliau, beliau sangat baik dan bisa masuk ke dalam komunitas Aceh dengan sangat klop. Rest in Peace, Pak Lance.”

Sungguh mengesankan, tapi saya jadi penasaran ketika ada kata “Geuceu” di WA Pak Yunardi. Saya langsung menduga ini besar kemungkinan di Geuceu Kompleks. Saya familier dengan lingkungan di Gampong (Desa) Geuceu Kompleks karena tempat permainan saya semasa SMP dan SMA. Saya sekolah di SMP Negeri 5 Geuceu Kompleks yang sekarang telah berganti menjadi SMP Negeri 7. Namun, Pak Yunardi masih ragu apa memang beralamat di Geuceu Kompleks atau bukan karena perjumpaan dengan Pak Lance sekitar 40 tahun lalu, sekitar tahun 1978. Ia lalu mengirim gambar lokasi melalui aplikasi Google Maps. Setelah saya amati, saya langsung yakin dan menyampaikan kepada Pak Yunardi memang benar ini di Geuceu Kompleks. Lalu beliau memberi gambaran rumah dinas Pak Lance bersebelahan dengan rumah dinas Prof  Ibrahim Alfian. Pertama dijumpai rumah Tengku Sofyan Hamzah (almarhum, mantan Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman), lalu rumah Pak Lance Castles, baru setelah itu rumah Pak Ibrahim Alfian. Dari keterangan Pak Yunardi, menjadi mudah bagi saya untuk menelusurinya.

Dari hasil penelurusan di lapangan, rumah yang dahulu ditempati Pak Lance Castles dan Pak Ibrahim Alfian adalah rumah dinas Unsyiah yang pernah juga ditempati oleh Profesor Dayan Dawood dan Profesor Syamsuddin Mahmud. Rumah dinas Profesor Dayan ditempati Pak Ibrahim, sedangkan rumah dinas Profesor Syamsuddin ditempati Pak Lance. Pada waktu Profesor Syamsuddin menjabat Gubernur Aceh, beliau pindah ke rumah dinas Profesor Dayan, mereka bertukar tempat, Profesor Dayan pindah ke rumah dinas Profesor Syamsuddin. Rumah yang pernah ditempati Prof  Ibrahim Alfian sekarang menjadi rumah milik Pemerintah Aceh.

Mengetahui informasi lengkap perihal rumah yang pernah ditempati Pak Lance dan Pak Ibrahim, akan memudahkan bagi Pak Yunardi untuk mengingat kembali sejarah pertemuan sekitar lebih 40 tahun lalu itu. Rumah yang ditempati Pak Lance berada di Jalan Krueng Arakundo Nomor 6, Geuceu Kompleks, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh. Bentuk rumahnya masih seperti dulu.

Menurut informasi beberapa orang yang menetap di Geuceu Kompleks, penamaan Gampong Geuceu Kompleks pertama kali disepakati tahun 1972 yang kemudian dibagi menjadi empat dusun setelah pemekaran dari Gampong Lamlagang. Kata “geuceu” memiliki arti batas atau garis, sedangkan kata “kompleks” mengambil nama dari kompleks perumahan milik Pemda Aceh yang mulai dibangun tahun 1971.

Pada 1972 kompleks perumahan pemda ini diperuntukkan sebagai fasilitas untuk delegasi peserta yang datang dari kabupaten-kabupaten di Aceh dalam rangka mengikuti Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II (20 Agustus-2 September 1972). Barulah pada 1973 perumahan ini ditempati oleh para pegawai pemda.

Pada waktu itu perumahan Geuceu Kompleks merepresentasikan kelas menengah dan elite di Aceh. Banyak pejabat kantor gubernur dan DPRD, serta pejabat Unsyiah yang menetap di sini. Tentu saja kehadiran tamu kehormatan seperti Lance Castles (1976-1978) dan Ibrahim Alfian (1976-1977) secara otomatis akan diarahkan untuk tinggal di kompleks ini.

Profesor Irwan Abdullah, Antropolog UGM menceritakan bahwa Pak Lance mengenal Aceh luar dalam. Jiwa beliau selalu ada di Aceh. Setiap bertemu dengannya, selalu dengan kamus bahasa Aceh di tangan, dan selalu menanyakan perkembangan Aceh. Beliau adalah teladan bagi kita untuk menjadi peneliti yang berdedikasi dan berkomitmen akademik. Profesor Yunita T Winarto, Antropolog UI mengungkapkan melalui  WA, ”Indonesianis dan ilmuwan Indonesia berduka. Selamat jalan Lance Castles. Terima kasih atas jasa-jasamu bagi Indonesia.”

Saya tidak mengenal Lance Castles secara pribadi, tapi mengenal beliau melalui pemikiran-pemikirannya. Dengan dedikasi keilmuannya, ia telah mengharumkan nama Indonesia dan Aceh khususnya. Tulisan singkat ini sebagai bentuk rasa hormat dan terima kasih sekaligus mengingatkan kita bahwa beliau pernah meninggalkan jejak di Geuceu Kompleks, Banda Aceh. Jika mengingat sejarah, kita ada di antara dua pilihan: apakah mau mengingat atau melupakannya? Demikian kata filsuf Prancis, Paul Ricoeur. Selamat jalan Profesor Lance, dedikasimu untuk Indonesia dan Aceh khususnya akan selalu kami kenang.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved