Breaking News:

Pak Nova

Pak Nova Sabar Ya

Percayalah, semua caci maki bahkan politik ancaman, sesungguhnya hanya ujian agar Pak Nova berteguh untuk tidak mau berbelok ke politik ruang gelap

serambinews.com
Ir. H. Nova Iriansyah, M.T Plt. Gubernur Aceh 

Pak Nova Sabar Ya

Apapun, yang namanya ujian, kuncinya adalah sabar. Dan, bagi siapapun yang sabar, ada kabar gembira berupa petunjuk Allah SWT.

Itulah “pesan langit” yang terdapat dalam al-baqarah 155 dan 157 yang perlu kita sampaikan kepada Pak Nova, Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Aceh sehubungan dengan ancaman penggulingan.

Kemarin, melalui Sidang Paripurna (10/9), an­caman pemakzulan di­mulai lewat persetujuan DPRA atas usul interpelasi.

Menariknya, Nova tidak memilih “perang mulut” sebagaimana sejarah interpelasi 2018. Nova memilih mengirim “isyarat bumi” kepada publik dengan melakukan kunjungan kerja proyek tahun jamak di Aceh Tamiang, sehari setelah DPRA menyetujui tahap awal penggulingan yaitu interpelasi.

Pesan itu sederhana, mandat pembangunan yang diberikan oleh rak­yat melalui Pilkada 2017, salah satunya membangun konektivitas antar kabupaten/kota, yang diimplementasikan melalui Proyek Multiyear 2020 - 2022 sedang dalam status ancaman.

Bukan hanya karena alasan menjalankan mandat rakyat, Plt Gubernur Aceh juga “diganggu” dalam melaksanakan agenda pencegahan dan penanganan Covid-19 berdasarkan inpres, inmendagri, dan keputusan bersama Mendagri dan Menkeu.

Publik pasti mendukung sikap sabar Pak Nova. Bukan hanya karena pertimbangan “pesan langit.” Tapi, rakyat paham betul bahwa dibalik politik gaduh kebodohan sedang diteriakkan. Sama, rakyat juga tidak menginginkan politik senyap, sebab di ruang-ruang senyap, kejahatan terbuka dinegosiasikan.

Publik menginginkan politik yang dinamis sehingga rakyat dapat menikmati argumen-argumen cerdas, bebas dari caci maki, bebas dari politik tekanan, sehingga makna kemitraan eksekutif - legislatif memperlihatkan ruh kerakyatannya, bukan ruh politik kepungan, apalagi keroyokan.

Dan, publik cerdas yang merindui tatanan demokrasi sejati, tentu paham benih politik non kekerasan narasi yang telah ditaburi Nova tidak mudah tumbuh menjadi pohon demokrasi yang besar di tanah politik yang terbiasa dengan teumeunak, teumakat dan teumeutak.

Karena itu, menghadapi jalur api amarah politik, Pak Nova memilih menempuh jalur sungai kunker proyek tahun jamak. Nova ingin menyentak kesadaran publik bahwa apa yang sedang dilakukannya bukan hal baru, melainkan menuntaskan kehendak daerah akan jalan konektivitas melalui metode tahun jamak.

Dan dengan metode tahun jamak, Nova ingin menuntaskan cita-cita rak­yat yang sudah pernah dikerjakan sebelumnya dalam sebutan jalan Terobosan (Ibrahim Hasan), Jaring Laba-Laba (Syamsuddin Mahmud), dan Ladia Galaska (Abdullah Puteh).

Sudah semestinya Gubernur dan wakilnya menjalankan mandat pembangunan dari rakyat yang diberikan melalui Pilkada. Bila gubernurnya berhalangan tetap maka wakilnya yang melanjutkan. Ini juga sesuai dengan pandangan ulama yang melarang kekosongan kepemimpinan, meski semalam saja.

Jadi, sabar saja Pak Nova. Percayalah, semua caci maki bahkan politik ancaman, sesungguhnya hanya ujian agar Pak Nova berteguh untuk tidak mau berbelok ke politik ruang gelap dan juga ke jurusan politik ruang gaduh. (Adv)

Editor: iklan@serambinews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved