Breaking News:

Opini

Literasi sebagai Jihad Melawan Hoax  

Sikap abai terhadap titah pertama di dalam Al-Qur'an: iqra`(bacalah). Masyarakat Muslim kita seharusnya membumikan kultur literasi yang sejatinya

Literasi sebagai Jihad Melawan Hoax   
IST
Syukri Rizki, Kandidat Master pada Program Southeast Asian Studies di Goethe University, Jerman

Oleh Syukri Rizki, Kandidat Master pada Program Southeast Asian Studies di Goethe University, Jerman

Alasan mengapa stagnansi dalam literasi masyarakat kita terjadi adalah karena kesalahan kita sendiri. Yaitu sikap abai terhadap titah pertama di dalam Al-Qur'an: iqra`(bacalah). Masyarakat Muslim kita seharusnya membumikan kultur literasi yang sejatinya merupakan bagian dari ajaran agamanya. Bahkan kata "Al-Qur'an" itu sendiri berakar dari "qa-ra-a" (membaca).

Nama lain untuknya adalah "Al-Kitab" (buku, tulisan, catatan, surat dan ketetapan) yang jika dipahami dengan titah pertama di atas amat terkait sebagai sebuah perintah untuk menggapai, merawat dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Kultur literasi kita merupakan keterampilan yang sepertinya patut kita interogasi kembali.

Pada 8 September setiap tahunnya diperingati sebagai international literacy day (hari aksara internasional). Gerakan peduli aksara seharusnya tidak terhenti pada tahap memastikan masyarakat bebas dari buta huruf sehingga melek membaca huruf latin. Namun lebih dari itu, kemampuan mengenali huruf mesti diikuti dengan kegemaran membaca kesatuan huruf; yaitu runtutan kalimat dalam paragraf-paragraf sumber informasi, baik buku, jurnal, majalah, buletin, dan sebagainya.

Menurut penulis, sebagai masyarakat Aceh, ada beberapa hal yang mesti kita renungkan mengenai keterkaitan antara kultur literasi dan kedewasaan sebuah bangsa. Pertama, tak dipungkiri Aceh memang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban Melayu pasca jatuhnya Malaka pada 1511. Buah karya cendikiawan Aceh tentu berakal dari analisa mendalam terhadap pelbagai materi bacaan dari seluruh dunia yang mereka pelajari. Fakta sejarah semacam ini tidak seharusnya hanya terekam sebagai memori indah yang memuaskan hati tatkala mengingatnya.

Kedua, sangat mungkin bahwa literasilah yang bertanggung jawab terhadap produktivitas bangsa. Jikalau produktivitas rendah, rendah pula pertumbuhan dan tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Selanjutnya kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan akan muncul dan menjangkit menjadi problem sosial yang sukar diobati.

Ketiga, di tengah kemajuan teknologi yang membuat sumber informasi tidak lagi hanya terbastraksi dalam bentuk buku dan materi bacaan cetak, fenomena merebaknya hoax yang memantik emosi masyarakat boleh dikatakan dikarenakan keengganan untuk membaca: yakni membaca keberagaman. Zaman terus bergerak dengan kemudahan-kemudahan dan shortcut yang ditawarkannya.

Banyak dari kita memang sudah terjauhkan dari media bacaan yang berbentuk cetak sejak adanya smartphone yang membuat kita lebih betah membaca postingan yang dibagikan melalui medsos. Dulu, para pendahulu kita butuh waktu yang cukup lama untuk mendalami kitab dan buku guna mengekstraksi informasi yang akan dihidangkan kepada kita. Sekarang dengan mudahnya hampir setiap jawaban instan bisa kita dapatkan dengan memasukkan kata kunci yang sesuai di kolom pencarian search engine.

Sekat-sekat yang menghalangi akses ke informasi dan ilmu pengetahuan nyaris tidak terasa. Tinggal kehati-hatian kitalah yang mampu memilah mana yang sahih dan mana yang tidak. Kendati demikian, kekhawatiran kita akan paparan informasi yang beraneka kualitas validitasnya janganlah sampai menjadi pembenaran atas kemalasan kita membaca.

Minimnya wawasan tentang hal di luar lingkungan ideal kita barangkali adalah penyebab ketidakterbukaan kita pada manisnya arus ilmu pengetahuan yang bisa menjadikan kita insan yang tawadu'. Dalam hal ini ada baiknya mengingat kembali nasihat Imam Ali ra.: "seseorang membenci apa yang tidak ia kenali".

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved